Sabtu, 10 Desember 2016

Siang-siang

Angin siang hari minggu ini membawa otakku berputar sedikit lebih cepat. Dan yang jelas bukan tentang isu ekonomi, politik, ataupun asmara. Hmm, lagi-lagi pikir yg ku dapat mengapa hal-hal yang kusebutkan tadi tidak begitu menarik ya karena hal yang sedang membuat otakku maraton. Nampaknya sudah bertahun-tahun jika dipikirkan aku tetap meringkuk dalam keadaan yang seperti ini. Mengapa tidak, beberapa temanku terlihat sangat berbeda. Mereka asik dengan passion mereka sendiri, sedang aku asik dengan gerutuanku. Gerutuan dalam hati yang tak kunjung selesai. Nampak pun seperti membuat wujud diri ini kering keronta yang mencoba hidup sendiri.
Entah apa sebab, entah salahku atau memang sudah takdirku. Siapa yang bisa kusalahkan dalam kasus yang terjadi padaku. Bahkan aku tak ingin menyebutkan bahwa aku yang bersalah. It's okkay nyatanya manusia egois bukan? Dan akupun akan egois dalam hal ini.
Nyatanya memang yang menjadikanku seperti ini bukan hanya diriku sendiri tapi lingkungan baik eksternal ataupun internal. Karena sebelum ini aku bergantung pada orang lain sebelum aku bisa menjalani hidupku sendiri. Ya aku akui memang ada hal positif yang aku dapat, bahkan hal yang negatif pun. Pemikiranku yang seperti ini pun tak spontan aku dapatkan. Cobalah tebak dan temukan apa dan siapa yang berhak untuk disalahkan. Bahkan bukan salah bayi jika dia harus menangis jika melihat boneka lucu, bukan salah bayinya bisa saja boneka itu memiliki sosok lain didalamnya sampai kesan lucunya tak nampak di sang bayi. Atau jangan salahkan orang yang bersaudara akhirnya menjadi saling menyerang, mari kita analisis bukan salah sang anak yang hidup sebagai saudara bisa saja lingkungan membuat pikiran mereka tumbuh liar. Atau apapunlah itu, dan jangan kerucutkan pemikiran kalian pada hal-hal yang tak berguna. Luaskanlah tebakan kalian,

Dan beberapa saat ini, sesekali ini aku mendapati banyak klarifikasi dari beberapa teman di sebuah media sosial yang menyebutkan tentang dirinya dalam sebuah rangkuman kecil. Bahwa mereka seperti itu adalah bahwa itu adalah mereka. Mereka menyebut hal yang tak disukai dan memang itulah sifat mereka. Terkadang, bukan maksudku tapi benar memang seperti itu. Dan aku pun segera membenarkan apa yang ku baca dan segera aku memikirkan hal yang sama untuk diriku. Hal-hal yang membuatku sangat tidak tertarik, hal-hal yang membuatku bahagia, hal-hal yang monoton setiap hari yang selalu menemaniku, dan hal-hal yang sangat ingin aku musnahkan dari pandanganku juga hal-hal yang sama sekali tak ingin aku dengar adalah semua-semua yang kusebut adalah itu murni diriku. Tak ada yang bisa menyebutkan salah, bahkan men-judge haram bahkan halalnya karena itu diriku. Bahkan jika apapun yang aku lakukan tidak akan membuat berdarah, sakit, atau terusik hidupmu ya biarkanlah.
Pernah hal ini aku rasakan, bahkan beberapa hari yang lalu saat akhirnya ada orang asing yang sama sekali tak ingin aku untuk dekat dan mengenalnya lebih jauh karena bagiku semua yang ada padanya tidaklah penting bahkan sekelas dengan plastik bungkus roti yang sudah tergeletak. Entah apa maksudnya mengulang-ulang kata itu, bahkan aku merasa sangat tidak menganggapnya jangankan suaranya kala itu bahkan langsung aku hapus semua interaksi yang memang hanya sedikit terjadi di antara kita selama kurang lebih 2 bulan. Yang terjadi selama waktu yang berlangsung itu pun tak ada efek apapun, dan setelah dia melihat hal baru mengapa dia seolah menyalahkan? Pers*t*n dengan ucapannya. Sekarang kembalikan saja ke sisi ku lebih dulu, atau dengan yang aku lakukan membuatku bergantung, merugikan, atau menyakitimu? Tidak bukan? Atau ke sisi mu sekarang, atau setelah kau mengetahuinya apakah penyakit langsung kau derita? Atau botak akan langsung kau rasakan? Bahkan tak ada korelasinya sist. Jika aku bisa berharap aku bisa mengataimu lebih sakit waktu itu, bahwasanya aku tak mau menjadi orang yang mengintimidasi dari segala perilakumu yang sama sekali tidak seperti manusia. Entau apa motifmu, segala lirikan, omongan, dan sikapmu itu memang tergambar seolah kau tidak menyukaiku. Bodo amat, lantas aku masih bisa bertahan sampai saat ini dan dipenghujung waktu yang tinggal sedikit ini akan segera musnah kau dan segerombolanmu dari pandanganku.

Bahasanku menjadi melebar ke cacian untuk makhluk yang entah masuk spesies mana. Lol,

Terlepas dari semua, sesungguhnya aku ingin bercerita dari beberapa temanku yang memang dunianya menjadi dunia mereka seutuhnya. Merasa bahagia jika melihatnya apalagi membayangkannya. Dan aku masih mencari-cari apa yang bisa dijadikan duniaku sendiri. Dan lagi, aku tak tertarik dengan berbagai iming-iming teman yang banyak, teman yang asik, tapi lebih ke teman yang peduli. Duniaku sempit dan duniaku monoton, duniaku abu mungkin, dan yang aku senangi adalah malam. Bahkan jika ada pekerjaan sesibuk apapun di malam hari aku lebih memilih itu. Jika ada lomba untuk tinggal di sebuah ruangan tanpa ada apapun aku bisa melakukannya, dunia ku terang jika hanya aku menginginkan dan aku jarang menginginkannya. Duniaku hanya duniaku yang tak banyak orang tau begitu menyedihkan duniaku, tapi begitu haru biru bagiku. Duniaku bukan hal-hal yang mulut bisa berkata tentang dia atau dia, tentang pemikiran yang menerka. Duniaku hanya mencoba memahami dan mengamati, duniaku seperti siput yang takut dan berani untuk muncul dan keluar dari rumahnya. Ya, aku kuat. Segala yang kalian liat seolah keong dari siput yang bebas menerjang panas dan hujan. Siput yang bebas berkeliaran malam hari, siput yang dapat bertahan dengan musim kering yang lama.

Bukan ingin simpati atau empati, hanya ingin memberitahukan bahwa setiap orang adalah berbeda. Setiap orang bebas dengan pemikiran masing-masing. Namun jangan sampai terhanyut dalam samudera judge. Mengerti?

Sabtu, 03 Desember 2016

D-Day

Bukan tidak mau menerima kekalahan, hanya saja rasa kecewa yang begitu banyak ada dan selalu muncul. Apalagi jika terngiang ucapan orang yang begitu menyepelekan. Aku tidak begitu bagus, tapi bersama timku aku merasa kuat karena kami bersama-sama. Dan karena mereka pun rasa bahagia itu menjelma menjadi air mata. Bukan sedih, hanya kecewa dengan hasil namun bahagia karena perjuangan bersama. Tidak menyesal, sama sekali tidak karena perjalanan kita sampai disini itu adalah hal yg ter-mengesankan.
Tidak ingin melihat, mendengar, dan mengucap di podium berapa kita berdiri karena bagiku kami tetap juara.
Kembali ke dua bulan lalu, saat aku tidak bisa hadir ke seleksi untuk masuk tim ini dan kemudia si kapten menanyakan padaku setelah latihan sudah dimulai. Aku pikir aku tak bisa lagi bergabung dengan mereka. Dan akhirnya jadilah aku orang baru dalam tim. Dengan segala kesibukan kami, kami berlatih hampir setiap hari. Didikan keras, kritikan keras, dan tak jarang cacian begitu terngiang dalam benakku sampai saat ini. Menjadi yg terburuk itu tak satu dua kali aku dapatkan saat latihan. Power yg kurang, ekspresi datar, bahkan sampai disebut zombie aku dapatkan. Haha, bahkan semua anak dalam tim selalu menyuportku untuk menambah powerku.
Pernah sekali aku telat datang, saat itu aku sedang ada masalah dengan keluargaku. Aku dalam suasana yg tidak baik moodku berantakan dan mata sembab pun masih menempel di muka, aku tiba di tkp latihan dan aku harus bergerak sendirian di depan rekan-rekan tim dan kru tim. Jangankan power, untuk memikirkan bagaimana aku bergerak pun aku kebingungan. Latihan tetap berjalan, pasangan mata menatapku dan darinya aku bisa melihat kekecewaan mereka melihat gerakanku yang sangat kacau bahkan ada pasangan mata yang begitu mendiskriminasiku. Alhasil, kulampiaskan semua dengan segala kutukan, kata2 kasar dalam hati. Dan sepanjang latihan hari itu aku hanya diam dan mengamati satu persatu dari mereka.
Berlanjut ke latihan seminggu sebelum d-day, latihan formasi. Tidak akan dimulai apabila tidak lengkap anggotanya dan benar saja bahkan sampai jam 12 pun tidak akan dimulai sampai benar-benar lengkap. Lantai pun menjadi kasur yang empuk untuk menemani beberapa dari kami sembari menunggu anggota lengkap, tak jarang aku pun begitu. Dan hari-hari menjelang d-day, kebersamaan begitu terasa baik saat kami mencoba kostum baru kami, membuat properti, menonton pertandingan departemen kami, sampai bernyanyi bersama sambil bernostalgia lagu-lagu lama.
Sampai pada saatnya d-day, dan tidak ada kata yang dapat dirangkai untuk mendeskripsikan semuanya.
Bukan menyesal, hanya kecewa, namun bahagia. 😥😥😥😥

Sabtu, 19 November 2016

Rindu

Dan tiba-tiba datang pun tiba-tiba pergi. Tanpa alasan hanya begitu saja. Tak ada obat pun penawar, begitulah cara kerjanya. Karena rindu, hanya seperti itu.

Selasa, 01 November 2016

"Part"

"Part"

Artinya bagian. Maknanya bagiku adalah secuil dari kesatuan. Kesatuan yang tak mungkin dimunculkan dalam sebuah satuan. Karena itu adalah kegilaan. Jelas saja, apabila kalian tahu kesatuan dari bagain tadi adalah hal nekat yang sangat menakutkan maksudku ya tadi itu sebuah "kegilaan"

Gencar banget ngambil tema "part" karena memang tidak ada hak memunculkan keutuhan. Bukan karena royalti dari sebuah kepemilikan karya karena memang yang tadi itu bukan karya yang menjual dan memerlukan hal seperti itu. Melainkan lebih ke sebuah rasa "tahu diri", nilai, attitude, manners, pun customs dan apalah itu sebutannya. Bukan perkara yang bisa ditentukan benar salahnya, hanya waras atau tidaknya. Seperti itulah

Maka, kalian akan berpikir sesuatu yang menganggap sebuah ke-lebay-an atau ke-alay-an. Itu hak kalian, namun bagiku aku masih ingin melindungi diriku dan masih ingin berada dalam comfort zone ku. Jadi muncullah "part" ini. Toh kalau kalian tau mungkin caraku adalah cara yang lumayan tepat untuk dilakukan. Daripada berani namun ujungnya adalah ketragisan. Meskipun peluang masih berlaku. Namun, dalam hal ini gender akan ikut berperan. Dan lagi jika ditelusur maka faktor lain pun mendukung, seperti kasta maupun status sosial. Nah kepribadianpun akan tertarik didalamnya. Ribetlah kalau dispesifikkan. Maka, bagiku ini merupakan langkah yang tepat bagiku sendiri dan tidak merugikan orang lain. Karena kekuatan skandal dan sensasi yang sedang hits di zaman yang serba sosial dan bebas di dunia internet. So, bijak2lah kalian dalam melakukan apapun. Posting apapun bebas asalkan tidak merugikan orang lain, lebih2 ya bermanfaat. Saya pamit, semoga "part" ini akan berakhir secepatnya. Entah hilang dengan muncul kesatuan utuhnya, atau ada bagian dari sebuah bagian lagi. ☺

Minggu, 02 Oktober 2016

Lho Opo Seng Dadi Masalahmu?

Opo maneh sing mbok2 awak2mu keluh kesahkan, apalagi perkara jomblo atau status2 yang ga jelas. Jodoh, mati, dan rejeki iku yo wes enek seng ngatur sopo neh nek gak seng Duwe Urip, sing Maha Pembolak balik Ati lan Perasaane menungso kabeh nang dunyo iki. Saiki lak awakmu pikiren dewe, ngebet2 gebetan, curhat sana-sini, caper mrono mrene nek gak disetuji marang Dia ya gak bakal kelakon rek. Kon saiki podo sadar ayo ndang perbaiki niat silaturahmi iku yo mung nyambung persaudaraan tanpa harus syeitan ada di dalamnya (re:nafsu). Serahkan pada yang Maha Agung masalah jodoh karena memang kita sudah ditakdirkan dengan seseorang dan nantinya akan menjadi imam serta akan membangun keluarga dengan para keturannya.
#inipemikiranku #maridiskusi #menjadibaikbersama

Be better,

http://www.muslimpro.com/invite/IKGJYI #muslimpro

Kamis, 18 Agustus 2016

Tak Pantas

Jika saja sajak ini kau baca
Jika saja sajak ini dapat aku kirimkan untukmu
Jika saja takdir menuntunmu hingga sini
Sajak ini bukan rengekkan cerita romantis
Bukan curahan pula yang berisi tangisan
Bukan tangisan pun isinya

Hanya saja "jika" kau membacanya dan tahu apa yang ada dalam sajak ini

Bagai bulan merindukan matahari
Tak mustahil mereka bertemu meskipun jarang dan hanya sebentar saja

Bagai air dan api
Tak mustahil pula mereka bersama, sering terlihat di kebakaran api justru membesar saat bertemu air

Bagai minyak dan air
Tak mustahil pula mereka bertemu meskipun tak dapat menyatu

Bagai pungguk merindukan bulan
Tak mustahil pula si pungguk menahan rindu pada bulan karena itu memang hak si pungguk merasakannya

Bagai siang dan malam yang tak mungkin terjadi bersamaan
Tak mustahil pula itu terjadi, senja dan fajar adalah siratan dari kebersamaan mereka. Melahirkan keindahan nan sejuk

Bagaikan peribahasa-peribahasa di atas
Tak perlu terangkan dengan jelas
Tapi berharap kamu dapat membacanya saja cukup
Aku tahu dalam hidup ini tidak serumit drama, tak seindah takdir dalam naskah
Aku pun menyadari bahwa aku hidup dalam dunia nyata di atas bumi yang senantiasa berputar dan terus berjalan
Entah aku dimana dan kamu dimana
Yang jelas saja kita pernah berada dalam satu titik di roda berputar.

Tak masalah jika aku bulan dan kamu matahari, tak masalah jika bertemu sangat jarang namun aku bisa memastikan keberadaanmu seperti apa

Tak masalah pula aku api dan kau air, benar saja kamu semakin membuatku semakin berantakan dan nantinya kamu pula yang meredamnya (kau tahu apa)

Tak masalah aku minyak dan kamu air
Meskipun tak dapat bersama setidaknya kita bisa hidup beriringan dengan kehidupan kita masing-masing

Tak masalah pula aku menjadi si pungguk dan kamu adalah sang bulan, karena itu memang hak ku untuk merindukanmu. Dan biarkan saja itu menjadi urusanku sendiri, biarkan aku bertanggungjawab dengan apa yang aku lakukan dan biarkan aku menerima risiko atas semuanya

Dan untuk peribahasa terakhir, tak ada perumpamaan aku dan kamu untuk yang satu ini. Karena entah apa aku siang atau kamu, entah pula apa aku malam atau kamu. Indah rasanya jika ada senja dan fajar yang menyejukkan yang bisa tercipta jika dapat terumpama dalam "aku" atau "kamu"

Sabtu, 16 Juli 2016

#ceritakaki

Terinspirasi dari suka ngejepret kaki dan lagi hits tentang updetan terkini apalagi kalau bukan tentang kkn.

Yups, im ready. Saya siap menjalani kkn-t selama 59 hari ke depan, meskipun berat rasanya meninggalkan rumah di saat suasananya masih lebaran. Dan memang sedang menjalani tahap paling akhir dimana tahun depan sesuai perkiraan sudah tidak menyandang lagi jabatan mahasiswa.

Di desa kecil anakan dari desa mandirancan, yakni desa nanggerangjaya kabupaten kuningan khususnya di tempat ibu iceu saya tinggal srlama kkn. Ada enam lagi teman saya disini dua lelaki dan 4 lainnya perempuan. Di desa kecil dengan warga yabg tidak terlalu banyak dan hampir semua warga saling mengenal aatu sama lain kamu akan hidup menetap sementara. Semoga timbal balik yang bermanfaat terjalin disini. Tidak ada yang dirugikan baik warga, desa, dan juga kami. Semoga lancar dan membahagiakan. Segala tentang permasalahan yang datang semoga dijauhkan dan dipererat persaudaraan kami yang sedang ber-kkn.

Dan seperti di atas, saya Laili, saya siap ber-KKn, semangaaaat...

Dan lagi, dari sini saya siap melangkahkan kaki saya lebih jauh dari sebelumnya dan melihat belahan dunia yang lain dari biasanya.
#ceritakaki akan mewarnai bulan-bulan sekarang ke depan😇😄😍

Senin, 04 Juli 2016

Kaki kaki

Kaki ini digunakan untuk berjalan
Kaki ini melangkah setiap saat
Kaki ku ada dua, mereka saling bersama
Saat kaki yang satu sakit makan kaki satunya mengambil sebagian bebanya
Walaupun pada akhirnya jalan pincang itu lebih baik daripada tak dapat berjalan.
Kaki yang ini kaki kanan, kaki yang kiri di belakang.
Mereka melangkah menuju kemanapun yang aku hendaki
Kakiku menyimpan sebagian rahasia dari si hati
Entah akan menuju kemana kaki ini
Hanya saja kita tak pernah tau apakah kaki ini akan beradu dengan kaki (nya)
Saling mendekat dan beriringan. Entah ya,
Maka siapa yang bisa menebak masa depan dari seseorang? Hanya saja dapat aku usahakan dengan memperbaiki diri sehingga pantaslah aku berada di dekat kakimu
Karena kaki yang dekat maka kita pun dekat, 😂😂

Senin, 27 Juni 2016

Terminal

Berjejer-jejer angkot dan bis antar kota di tempat ini. Hingga senja berubah menjadi gelap bahkan keramaianpun tak lekang dari tempat ini. Siang dan malam bagai membalik halaman buku dengan isi ceritanya yang selalu berganti. Alur yang ini bersambung dengan yang itu, dengan gaya khas yang menawan penuh dengan kemisteriusan yang tak dapan ditebaknoleh siapapun. Bahkan sekecil apapun debu yang ada di tempat itu memiliki oeran dan ceritanya masing-masing.
Malam ini, untuk sekian kalinya aku berdiri di tempat ini lagi. Melihat hiruk pikuk yang jauh berbeda dengan keramaian yang biasanya aku temui. Hiruk pikuk orang pulang pergi bekerja, hiruk pikuk orang mencari nafkah. Peluh mereka sampai tak terlihat sekalipun kondisi di tempat ini sangat panas karena polusi dari pabrik-pabrik yang ada. Aku yang termenung melihat dengan decak kagum kepada Sang Kuasa yang dengan detailnya menggerakkan semua yang ada di depan mataku. Sangat sinergi dan kompleks. Sembari menanti saudara menjemput ku putar ulang ke belakang dan mengingat apa yang telah terjadi. Dari desa kecil, bukan maksudnya mulai dari rumah di tengah-tengah jauh dari keramaian dari keluarga kecil dan dari sebuah kenekatan yang menantang ke-mainstream-an keluarga aku berangkat ke kota hujan untuk kuliah. Disini pertama kali aku memijakkan kaki sebelum akhirnya berlabuh ke bogor. Sendiri benar-benar sendiri aku berangkat dari desa asalku. Perjalanan pertamaku yang jauh, pertama kaliku waktu itu. Sampai disini, di tempat ini aku mengingat betapa berbedanya duniaku selama ini. Hiruk pikuknya menantang siapapun untuk terus bertahan hidup dan mencoba untuk survive di kehidupan yang keras. Tak lama aku disini selanjutnya ku temukan cerita yang lain di kota hujan, kota naunganku yang aku tinggali cukup lama. Dan tempat ini akan ku singgahi sesekali sampai suatu saat yang tak diprediksi. Dan ceritaku akan berlanjut di kota bogor sana. Sampai jumpa

Minggu, 26 Juni 2016

Tulisan penutup semester 6

Siang ini masih malas-malasan di atas kasur menunggu timing yg pas buat memutuskan beranhak dari bogor dan kepas landas ke cikarang dan pada akhirnya nanti akan tiba di rumah kelahiran. Menilik ke belakang mungkin ini semester terberat memang dari semester-semester sebelumnya sampai ga sempet yang namanya libur pulang atau nyempil-nyempil ke cikarang. Adanya kalau libur pengen tidur kalau ga ya paling main sama temen sekedar karaokean atau main di timezone. Bosen ga ada kerjaan serta stress tempat yang paling pas paling nampo mas. Semester dimana ga ada tambahan koleksi drama dan ga ada sedikitpun nafsu buat mainan laptop karena udah terlalu penat sama laptop akibat tugas yang bejibun. Engga ada yg namanya weekend libur, pembekalan sebulan penuh setiap hari sabtu kadang minggu pun ikutan ada juga. Kalau pun ga ada pembekalan ya dijadwalin buat turun lapang nugas dari dosen. Semester paling males buat belajar sekalipun ujian udah h-berapa jam tapi sama sekali ga ada gregetnya. Semester paking krusial karena disini banyak sekali masalah yg datang dan pergi. Semester dimana ada moment menegangkan dan mengharukan. Selain itu semester dimana nemu mana yg sebenernya temen dan sahabat atau yg namanya sahabat sebentar. Semester dimana nemuin kekecewaan (lagi) setelah sekian lama ga kecewa karena udah lama juga mutusin buat ga menggantungkan sesuatu ke orang tapi sekalinya mencoba eh malah kecewa lagi. Semester dimana semangat banget buat ketemu semester baru karena greget mau kerja sekeras-kerasnya. Semester dimana mulai ketemu sama proposal penelitian sama kenalan sama dosen pembimbing skripsi. Semester dimana sadar kalau link itu perlu. Semester paling romantis sama keluarga karena udah sering curcol sama mama dan jadi tempat curcol bapak, dan masih jadi tempat sandaran ma bro. Semester paling ga kangen rumah (emang udah biasa). Semester paling banyak momen pengen kabur dari orang-orang yg palsu. Dan banyak lagiii
Siang-siang yang sepi karena banyak penghuni kosan yg udah pulang dan ga ada temen main lagi di bogor udah pada mudik juga masih ditemenin playlist lagu-lagu hits pilihan yang sesekali nyelip lagu korea ost drama yang melow dan romans-romans gitu, masih diterpa sepoi-sepoi angin kipas angin pula. Leyeh-leyeh sambil memikirkan apa yang mau dilakuin kedepannya. Banyak banget ide di kepala tapi ga ada keberanian buat memulai karena tak ada sokongan dari faktor terpenting apalagi kalau bukan finansial. Modal coiiiii, belum nemu temen yang bener2 bisa diajak gila dan mulai hal baru. Belum nemu orang yang bisa dijadiin partner bisnis dan adventure.
Setahun lagi harus udah lulus, bahkan sudah diterima kerja di tempat yang enak dan lagi gajinya gedhe. Ga lain lagi pengen mulai bisnis sendiri, biar bebas dan bisa kemana-mana bebas. Biar bisa berkunjung ke saudara dan jemput mba yang udah lama ga pulang di negara seberang. Tenang mba, adekmu ini akan berusaha. Hahahaha kenapa jadi melow gini dah (kebawa iringan lagu ni...)

Sudah wes sudah, nanti kapan-kapan sambung lagi. Semoga nanti ketemu lagi pas di rumah, hati2 bagi yang mau mudik. Hati2 sama hatinya juga ya bawa dan jaga jangan ditinggal apalagi digantung. Hehehe

Senin, 06 Juni 2016

Berubah-ubah

Kawan, mungkin dia memang labil. Sesaat dia menjadi ramai sesaat dia menjadi diam dan bahkan sesaat menjadi acuh tak acuh. Dia sendiri bingung apa yang terjadi. Hanya saja terlihat sepertinya banyak keraguan di matanya. Banyak pertanyaan saat dia menatap segala sesuatu yang ada di depannya. Saat dia memutuskan untuk mengenggam dan melangkah satu langkah ke depan namun dia kembali ragu di langkah kedua.
Seperti itu selama ini, bahkan dia sangat bingung dengan apa yang terjadi dengannya. Ketika dia berangkat dengan penuh senyum akan tetapi tak jarang kembali dengan perasaan tak menentu. Setiap diam dia berpikir, memutar apa yg telah terjadi dan apa yang dia lakukan. Setiap yang dia temui seolah menjadi sebuah makhluk yang sulit untuk dijelaskan. Hal yang diinginkan hanya satu terus dan terus melangkah hingga berlalu semuanya.
Tiba saatnya ada sesuatu yang mendekat kepadanya. Meskipun di kepalanya banyak tanda tanya dan pikirannya dipaksa berputar jauh lebih kencang dari sebelumnya, karena dia orang yang tak sulit berkata maka dia hanya diam dan berjalan bersamaan dengan sesuatu itu. Bahkan setelah sekian lama, bahkan setelah dia mencoba untuk melangkah sedikit lebih ke depan dari sebelumnya dia tetap masih penuh dengan keraguan. Begitu hingga waktu yang cukup lama,
Dan saat dia percaya dan mengakui bahwa sesuatu itu bisa diakui sebagai hal yang lebih jelas keberadaannya dan dia sampai tak ada pemikiran lagi tentang apa itu bingung semuanya mendadak berubah. Yang telah dia sandarkan ke dinding kokoh tiba-tiba saja dia menyadari bahwa selama ini asumsinya dulu masih berlaku dan itu juga terhadapnya. Asumsi yang sudah dia hapuskan dan sudah dianggap tidak ada ternyata masih berlaku. Asumsi bahwa dinding kokoh ternyata hanya tumpukan kardus kosong yang di cat putih  itu terbukti dan parahnya itu padanya. Asumsinya diambil selama perjalanan sesuatu yang mendekat itu menjadi sesuatu yang jelas keberadaannya. Dan bodoh sekali setelah sekian lama ini dia hidup tak dapat mengenali kasus seperti ini, kasus yang membuat dia hancur sendiri. Bodohnya lagi memang dia siapa membuat pengecualian terhadap asumsi tadi. Bahkan hal yang harus diterapkan adalah semuanya sama.
Sekarang yang tersisa hanya luka lecet dan lebam yang entah kapan bisa hilang. Luka yang didapat dari melanggar asumsi yang terbukti jelas kebenarannya. Roboh sudah dinding itu, iyalah hanya tumpukan kardus ini. Sekarang dia kembali dalam kebingungan da keraguannya yang lalu, lantas memuncaklah sudah keinginannya untuk mengatasi hidupnya sendirian. Hanya saja terkadang sulit memang untuk hidup sendiri, tapi mana ada hal yang salah dan tak mungkin dilakukan.
Kepada semuanya terutama sesuatu-sesuatu yang ada di sekitarnya bahkan jika ada yang mendekat padanya entah apalagi keputusan yang akan dia ambil.
Yang terjelas untuk sesuatu yang sudah menjadi sesuatu yang jelas keberadaannya dan sekarang telah berubah menjadi sesuatu lagi dia agaknya membatasi diri. Bahkan kepada semuanya,
"Jika memang dia lelah sudah biarkan saja, jika berkenan perhatikan saja.  Jika tidak maka diamlah. Biarkan dia memilih apa yang akan dia pilih. Jangan menekannya, biarkan saja jika dia ingin menepi. Memungkinkan dia ingin berhenti sejenak untuk berfikir ulang apa yang telah terjadi dan telah dia lalui. Atau bahkan ingin mencari jalan lain atau berbalik arah. Biarkan saja. Dia akan kembali jika memang perlu, dan jika dia sudah kembali maka jangan pernah menampik cepat-cepat atau bahlan tanpa tanda. Lebih baik berikan sinyal atau semacam kode atau tanda silang yang berarti tak dapat menerimanya kembali. Yang terpenting, jangan menekannya. Jangan memaksa, dia memiliki perhitungan sendiri meskipun saat ini perhitungannya sangat detail dan rumit. Lagi-lagi dia seperti ini bukan karena dianya akan tetapi sesuatu-sesuatu tadi yang membentuknya menjadi seperti ini"

Senin, 23 Mei 2016

Buyar

Kapan ya, bahkan aku sudah lupa dengan itu semua. Namun tak kupingkiri memang karena aku yg melakukannya. Semua tulisan yg sudah aku tulis ya memang seperti itu. Apalah daya, menyangkalpun tak ada gunanya. Hanya saja asumsi orang perorang berbeda. Simpulang orang berbeda-beda, dan pandangan orang berbeda-beda. Aku dan dia juga berbeda, terlepas memang aku perempuan dan dia laki-laki. Hanya saja yg membuatku tak nyaman adalah kenyataan bahwa dia mengetahui semua yg sudah ku tulis. Tak enak rasanya, sepeeri dia memiliki sebuah puzle yg ku punya sehingga puzleku tak lengkap lagi sekarang.
Selain itu, aku tak suka karena semuanya buyar. Lebih baik ku keep sendiri bahkan sampai aku lupa sendiri. Tidaaak, buyar sudah semua. Buyar sudaaah. Lantas bagaimana ini, aku hanya berfikir jika semuanya sudah buyar. Terlepas dari apa yang dia pikirkan hanya saja pikiranku jadi buyar.

Senin, 16 Mei 2016

Pembiayaan

Hai guys, selamat siang. Sedikit bocoran saja ya saat aku menulis tulisan ini saya sedang berada di kelas pembiayaan. Maka dari itu judul tulisan ini adalah pembiayaan. Waah, berat bukan? Tapi tenang saja guys karena disini aku ga akan ngadain perkuliahan kok. Jangankan mau ngasih perkuliahan, tahu judul materinya aja sudah syukur alhamdulillah.
Siang ini aku mau sedikit cerita seputar kehidupan mahasiswa yang berada di kelas pembiayaan. Dan dalam kasus ini saya akan menceritakan lewat jalur snmptn atau tanpa tes. Eh apaan daaah, sorry. Kembali ke intinya ya,
Di kelas yang sedang saya ikuti terdapat berbagai macam tipe mahasiswa saat mendengarkan dosen.
Yang pertama, barisan bangku depan. Mengapa saya menyebutkan barisan bangku? Karena memang adanya hanya barisan bangku saja di paling depan. Ada si beberapa mahasiswa yang menetap disana namun bisa dihitung dengan up*l. Tahulah artinya...
Yang kedua, barisan setengah aman. Mengapa? Karena yang ada di barisan ini adalah anak2 kalangan moderate yang niat mendengarkannya sekitar 75% dan sisanya adalah niat nyari aman dan biar disangka rajin sama dosen.
Yang ke tiga dan empat, barisan aman. Karena barisan ini paling aman terhindar dari dosen yg tiba2 menunjuk mahasiswa. Aman untuk main hape, aman buat tidur, juga aman buat ngrumpiii
Barisan ke lima dan enam, barisan paling kristis dan paling demen rame. Kritisnya bukan masalah materi kuliah tapi masalah tetangga. Ehhh? Barisan ini diisi barisan tetap, artinya kebanyakan orang yg ada di barisan ini ya orang itu-itu aja. Dominan cowok dan sarang buat mencari mimpi indah karena jauh dari jangkauan dosen. Tapi kalau lagi sial, barisan ini adalah barisan paling membahayakan. Karena bisa saja dosen menunjuk dan memberikan pertanyaan ke barisan ini. Atau bisa jadi barisan ini menjadi tersangka kemarahan dosen. Juga menjadi kelompok transmigran dadakan kalo dosen yg protektif dan ga mau barisan pertama kosong.

Tapi secara keseluruhan sebenernya sama saja, mau di barisan manapun kebiasaan umum yang ada yaitu mahasiswa memiliki topik sendiri untuk dibahas, atau melepas lelah dengan mampir di dunia mimpi, atau berdiam dan berselancar dengan ilusi, fatamorgana, atau imaji tersendiri, atau bahkan seperti aku saat ini berkecoh yang entah apa artinya, tapi jangan salah juga di antara semua itu masih ada kok segelintir mahasiswa yg setia mendengarkan dosen tercintah di depan (entah ngeh apa ngga ga tahu siii). But its okkay guys,  apapun aktivitasnya balik lagi karena hidup banyak rasa. Dan kita bisa ngelakuin apa aja asal dosen ga marah... hehew
Catetan aja si, buat kalian mahasiswa ga usah sok ga setuju atau ga jsah sok setuju sama tulisan ini. Karena ini true story kok...

Okkay guys, segitu dulu perjumpaan kita siang ini. Semoga kita bisa segera berjumpa lagi ya dengan cerita-cerita lain. Harapannya ga muluk2 semoga tulisan ini bisa menghapus kesepian kalian terutama yg jomblo. Ehhh...
Engga, engga. Harapannya sederhana semoga bisa jadi selingan buat kalian yang lagi browsing bahan skripsi. Aduuh salah sebut, ngomong kotor...
Udahlah apa aja dah asal tulisan ini tidak membawa kalian ke dalam tindakan yg tercela. Nah loh, apa lagiiii yang disebut
Wes wes wes, kalo diterusin ga akan ada habisnya. Sekian guys, bye...

Minggu, 15 Mei 2016

Cerita Kapan dan Langkah

<p>Kapan?<br>
Entah apa jawabnya,<br>
“Kapan-kapan, sampai saat yang tidak diketahui. Sampai pada saat ini apa yg terjadi tidak pernah terduga sebelumnya. Seperti itu pula jalan di depanku. Seperti yang kau lihat, gelap… tidak ada tanda atau cahaya yang mengikuti sebagai petunjuk jalan. Yang bisa aku lakukan hanya berjalan lurus dan terus berjalan. Menerka langkah demi langkah agar tidak masuk ke lubang atau terjerumus ke jurang. Untung-untung aku hanya menabrak pohon atau menginjak rerumputan. Berharap tak ada hewan buas yg mengintai di antara kegelapan, atau hujan badai yg berkilat karena aku takut datangnya petir sedangkan aku tak tahu dimana ada tempat untuk berteduh.<br>
Sesekali aku tersandung akar yg menyelinap, terjatuh karena batu yg sengaja menghadangku. Berdiri dan melanjutkan langkah ke depan meski pegal dan nyeri sampai anyir darah tercium. Sampai pada akhir yang entah kapan akan tiba. Akhir yang dapat berwujud jalan terang dimana banyak petunjuk disana, atau sampai pada akhirnya fisik dan jiwa ini menyerah. Atau akhir yang tertunda dengan ada sepasang, dua pasang, bahkan berpasang-pasang langkah yg menyertaiku. Lebih tepatnya langkah yang sama-sama mencari sesuatu "harapan&cita-cita” di depan sana. Langkah yang aku temui ketika aku mengaduh, mengeluh, terisak, atau membuang nafas saat aku mulai putus asa dan berhenti dari langkahku. Langkah yang membangunkanku dari mimpi indah di dunia menyerah, langkah yang menamparku saat aku pulas dalam keegoisan, langkah yang memapahku saat kaki ini penuh luka dan nanah, langkah yang menghapus air mata dengan senyuman, langkah yang menghalau ketakutan dengan bahu keberaniannya, langkah yg sama-sama terduduk diam melepas lelah bersama, langkah yang menyumbangkan semangat yang nyaris hilang, dan banyak langkah-langkah lain yang pada masanya menambah panjang akhir dari episode kegelapan yang tak dikenali ujungnya. Langkah yang membuatku tak takut lagi dengan apa akhir yang ada di depan karena kami telah membaginya sama rata ketakutan kami,<br>
Dan yang terpenting langkah yang membuatku tersenyum serta tertawa di setiap jalanku.</p>

Kamis, 12 Mei 2016

Pendahuluan
-karena lama maka taksebentar-
karena itu maka ucapkan selamat datang kembali,
Banyak hal yang perlu diulak-alik hingga pada akhirnya memutuskan membuka hal yang sudah lama tak dikunjungi. Bukan sombong tapi sepertinya naluri sudah tak mau berbohong dan ingin hidup seperti normalnya orang-orang. Maka ucap hai untukku dari diriku sendiri. Karena banyak yang telah terlewat selama ini,
Masih dengan perjalanan menemukan warna-warna lain di dalam hidup yang dirasa selama ini hanya ada beberapa warna dari sekian warna yang ada. So, hai...  

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...