Jumat, 28 Juni 2019

Tuhan, Maaf aku mengeluh (lagi)

Dear Tuhan,
Yang Maha Tahu karena memang Engkau Yang terbisa dalam mendengarkan segala curahan hatiku.
Bukan hanya aku saja, melainkan semua orang hingga tak terbatas jumlahnya.

Tuhan, jika aku pernah mengeluh atau bahkan sering, maafkan aku
Aku hanya manusia biasa, Tuhan.
Aku penuh dengan kekurangan dan segala keluhan.

Lagi, Tuhan.
Maafkan aku karena aku mengeluh (lagi)
Sore ini, sekarang
Dengarkan, Tuhan.
Dan dengarkan lagi esok-esok-dan esoknya.

Kamis, 06 Juni 2019

Jawaban (Semakin Dalam)

Berbicara tentang jawaban maka seharusnya berawal dari pertanyaan.

Bukankah sebuah jawaban itu memang menjawab sebuah tanda tanya?
Entah kali ini yang aku maksud jawaban apakah menjawab sebuah pertanyaan atau hanya sebuh pernyataan yang aku istilahkan menjadi sebuah jawaban, aku pun tak tahu.

Sila kalian menebak atau menyimpulkan sendiri.

Mengawali semuanya ialah tentang postingan saya "Semakin Dalam" yang saya artikan sebagai ungkapan bahwa saya begitu menikmati dunia saya yang baru padahal se-normal-nya saya tidak larut dalam dunia tersebut. Bolehlah saja saya menikmati tapi jangan sampai terjebak, maka dari itu istilah jawaban ini muncul. Bukan muncul dengan sendirinya tapi tepatnya dimunculkan oleh saya berdasarkan hasil rundingan dalam otak saya, persis seperti pada postingan saya yang saya beri title (-).

Jika saya begitu menikmati alam bawah laut yang tidak normal selayaknya saya manusia yang bernafas menggunakan paru-paru, dan saya juga bukan paus yang sekalipun organ pernafasannya sama dengan saya namun ia bisa (memang) hidup di laut saya adalah abnormal dalam lingkungan saya atau kaum saya. Meskipun saat ini rekayasa era globalisasi sudah begitu hebat, tapi faktor ex tersebut tidak masuk dalam pembicaraan kali ini. Sekalipun jika ada manusia air yang dasarnya manusia biasa tapi bisa hidup di air itupun tidak berlaku dalam obrolan saya kali ini.

Yang berlaku ialah sebuah kenormalan yang seharusnya terjadi dan saya yang adalah seorang manusia biasa seperti layaknya manusia biasa. Itu lah kondisinya dan memang harus seperti itu kondisinya.
Sekalipun alam bawah laut memberikan sesuatu yang spesial sehingga saya menjadi orang khusus yang bisa tinggal dan menikmati indah laut tanpa harus menjadi manusia air atau menggunakan kecanggihan era modern kali ini, itu tetap tidak memotong sebuah kenormalan yang sudah saya sebutkan tadi.

Jadi sebuah jawaban kali ini ialah,

Jika sudah aku belajar berenang, hinggalah aku pandai menyelam
Pun sampai aku begitu bahagia, hinggalah nyaman dan tentram dalam jiwa
Nyatanya itu sebuah hal yang tidak wajar,
Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi

Biar saja aku seperti putri tidur yang begitu menikmati mimpi bahagia dengan pangeran
Tapi itu hanya mimpi,

Aku harus bangun, melihat matahari yang terbut dari timur pun senja di ufuk barat yang menghangatkan
Atau rintik hujan yang kadang membawa badai
Itulah hidup yang seharusnya aku lalui

Biar saja indahnya laut dengn berjuta kilauannya mengalihkan duniaku, tapi biarkan saja itu hanya sementara

Biarlah kali ini aku harus sadar bahwa sudah terlalu main-main aku disini
Sudah sepantasnya dan seharusnya tanah yang merindu kedua kakiku melepaskan kerinduannya
Sudah sepantasnya paru-paruku bercanda manja dengan kalutnya udara sekarang

Indahnya laut bukan tempatku
Hiruk pikuknya di atas sana adalah takdirku
Bukankah seperti itu

Biarkan aku telah belajar sampai aku pintar biarkan jadi pengalaman, siapa tahu lain kali aku nak berlibur ke pantai. Hehe

Jadi sadarlah aku dunia di atas menantikanku,
Aku harus ditempa disana bukan disini,
Disini pun tak semua-muanya enak bukan?
Aku masih sering meneguk air sampai tersedak,
Aku masih terseret arus sampai tak karuan kendali
Aku masih sering terluka karang yang tajam

Biarkan aku pulang laut
Aku pamit
Terima kasih untuk semua,
Semua indah dan luka yang telah aku terima

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...