Minggu, 08 Desember 2019

Re-generate

Entah diterima atau tidak itu bukan ranahku yang mengatur. Namun, mencoba yang terbaik untuk terus memperbaiki diri adalah sebuah keharusan.

Penyesalan memang adanya di belakang, aku akui itu karena aku alami itu. Aku sering membaca, tidak ada guna lagi menyesali apa yang sudah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tak dapat kembali menjadi nasi lagi. Dan aku, mengakui itu. Aku konfirmasi pernyataan tersebut benar adanya.

Kasusku, bahwa tidak ada yang bisa disesali lagi. Karena semua sudah terjadi. Tidak dapat diputar kembali, dan semua yang terjadi biar jadi gambar diri untuk menuju pribadi lebih baik lagi. Biarkan yang kelam tetap gelap, dan cari jalan menuju terang. Percaya, bahwa Dia tidak akan pernah pergi. Hanya kita yang meniadakan atau mengabadikan dalam sanubari.

Kini saatnya menunjukkan bahwa kau benar-benar ingin kembali, ingin memperbaiki semua. Dan menghapus yang luput. Minta maaf pada diri sendiri terlebih dulu karena ketenangan muncul dari dalam diri. Lalu, pandanglah dunia. Seperti caramu dulu memandang dunia. Dunia begitu luas dan indah. Banyak hal yang dapat kamu raih. Dan satu hal, banyak hal yang terlewatkan saat kamu melakukan kesalahan itu. Tidakkah kau sadari itu? Lalu jadikan apa-apa yang sudah kamu sia-siakan menjadi motovasimu dan bakar semangatmu untuk lebih keras mencapai apapun yang sudah kamu lewatkan.

Kini kamu berjuang, nampaknya perjuanganmu sendiri. Jauh dari bayangan yang pernah kamu pikirkan. Benar memang kata-kata tidak ada artinya tanpa tindakan. Ah sudahlah,

Penting! Jadikanlah perjalananmu sebagai pengalamanmu.

Lalu, jika kau sudah memaafkan dirimu, maka tidak ada hal yang perlu lagi kamu kesali. Tidak ada lagi amarah dan benci yang terkubur. Damaikan semua. Maafkan semuanya,

Satu hal lagi yang terakhir, kamu bisa.

Kamis, 31 Oktober 2019

Mulai Melangkah

Pagi,
Seperti biasa,
Matahari tetap muncul di ufuk timur,
Sedangkan ufuk barat sudah menunggu kepulangannya

Pagiku sekarang,
Terbiasa dari kebiasaan yang tak benar,
Dan nampak hati pun cukup menerima kondisi yang memang seharusnya terjadi,

Aku,
Setelah kalang-kabut dengan adaptasi yang ada,
Mulai terbiasa, dan aku bahagia
nyatanya, terbiasa di tempat yang salah adalah
seperti berkubang di lumpur hidup

Semakin berontak semakin terhisap masuk
Tapi, jika kita bisa tenang kita dapat melepaskan diri

Sekarang,
Aku mulai terbiasa,
Dan aku mencoba menjauh sedikit demi sedikit
Melakukan yang benar dari yang salah
Bukan secara langsung
Tapi bertahap,
Bukan langsung berlari,
Tapi berjalan pelan

Mulai dari hal yang salah mendasar,
Kemudian memperbaikinya,
Melakukan salah yang kecil,
Dan kemudian menghindarinya.

Aku siap, bismillah
Mencoba berubah menjadi yang lebih baik
Mengubur yang sudah berlalu
Memaafkan diri dan kondisi
Menerima diri dan berbenah diri ke arah yang lebih baik

Aku siap,
Aku mulai melangkah menjauhi yang salah

Jumat, 26 Juli 2019

Saya Kalah

Dan hari kemarin aku kalah,
Aku akui semua,
Dan entah bagaimana kedepannya

-Aku Kalah-

Jumat, 28 Juni 2019

Tuhan, Maaf aku mengeluh (lagi)

Dear Tuhan,
Yang Maha Tahu karena memang Engkau Yang terbisa dalam mendengarkan segala curahan hatiku.
Bukan hanya aku saja, melainkan semua orang hingga tak terbatas jumlahnya.

Tuhan, jika aku pernah mengeluh atau bahkan sering, maafkan aku
Aku hanya manusia biasa, Tuhan.
Aku penuh dengan kekurangan dan segala keluhan.

Lagi, Tuhan.
Maafkan aku karena aku mengeluh (lagi)
Sore ini, sekarang
Dengarkan, Tuhan.
Dan dengarkan lagi esok-esok-dan esoknya.

Kamis, 06 Juni 2019

Jawaban (Semakin Dalam)

Berbicara tentang jawaban maka seharusnya berawal dari pertanyaan.

Bukankah sebuah jawaban itu memang menjawab sebuah tanda tanya?
Entah kali ini yang aku maksud jawaban apakah menjawab sebuah pertanyaan atau hanya sebuh pernyataan yang aku istilahkan menjadi sebuah jawaban, aku pun tak tahu.

Sila kalian menebak atau menyimpulkan sendiri.

Mengawali semuanya ialah tentang postingan saya "Semakin Dalam" yang saya artikan sebagai ungkapan bahwa saya begitu menikmati dunia saya yang baru padahal se-normal-nya saya tidak larut dalam dunia tersebut. Bolehlah saja saya menikmati tapi jangan sampai terjebak, maka dari itu istilah jawaban ini muncul. Bukan muncul dengan sendirinya tapi tepatnya dimunculkan oleh saya berdasarkan hasil rundingan dalam otak saya, persis seperti pada postingan saya yang saya beri title (-).

Jika saya begitu menikmati alam bawah laut yang tidak normal selayaknya saya manusia yang bernafas menggunakan paru-paru, dan saya juga bukan paus yang sekalipun organ pernafasannya sama dengan saya namun ia bisa (memang) hidup di laut saya adalah abnormal dalam lingkungan saya atau kaum saya. Meskipun saat ini rekayasa era globalisasi sudah begitu hebat, tapi faktor ex tersebut tidak masuk dalam pembicaraan kali ini. Sekalipun jika ada manusia air yang dasarnya manusia biasa tapi bisa hidup di air itupun tidak berlaku dalam obrolan saya kali ini.

Yang berlaku ialah sebuah kenormalan yang seharusnya terjadi dan saya yang adalah seorang manusia biasa seperti layaknya manusia biasa. Itu lah kondisinya dan memang harus seperti itu kondisinya.
Sekalipun alam bawah laut memberikan sesuatu yang spesial sehingga saya menjadi orang khusus yang bisa tinggal dan menikmati indah laut tanpa harus menjadi manusia air atau menggunakan kecanggihan era modern kali ini, itu tetap tidak memotong sebuah kenormalan yang sudah saya sebutkan tadi.

Jadi sebuah jawaban kali ini ialah,

Jika sudah aku belajar berenang, hinggalah aku pandai menyelam
Pun sampai aku begitu bahagia, hinggalah nyaman dan tentram dalam jiwa
Nyatanya itu sebuah hal yang tidak wajar,
Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi

Biar saja aku seperti putri tidur yang begitu menikmati mimpi bahagia dengan pangeran
Tapi itu hanya mimpi,

Aku harus bangun, melihat matahari yang terbut dari timur pun senja di ufuk barat yang menghangatkan
Atau rintik hujan yang kadang membawa badai
Itulah hidup yang seharusnya aku lalui

Biar saja indahnya laut dengn berjuta kilauannya mengalihkan duniaku, tapi biarkan saja itu hanya sementara

Biarlah kali ini aku harus sadar bahwa sudah terlalu main-main aku disini
Sudah sepantasnya dan seharusnya tanah yang merindu kedua kakiku melepaskan kerinduannya
Sudah sepantasnya paru-paruku bercanda manja dengan kalutnya udara sekarang

Indahnya laut bukan tempatku
Hiruk pikuknya di atas sana adalah takdirku
Bukankah seperti itu

Biarkan aku telah belajar sampai aku pintar biarkan jadi pengalaman, siapa tahu lain kali aku nak berlibur ke pantai. Hehe

Jadi sadarlah aku dunia di atas menantikanku,
Aku harus ditempa disana bukan disini,
Disini pun tak semua-muanya enak bukan?
Aku masih sering meneguk air sampai tersedak,
Aku masih terseret arus sampai tak karuan kendali
Aku masih sering terluka karang yang tajam

Biarkan aku pulang laut
Aku pamit
Terima kasih untuk semua,
Semua indah dan luka yang telah aku terima

Minggu, 14 April 2019

-

Lagi,

Malam ini ada lagi.
Sebuah perdebatan sengit terjadi di otakku.
Bukan lagi mengenai ruang-ruang dalam otak, melainkan kini semua berkumpul menjadi satu.
Berunding dan saling berdebat.

Berteriak, berbisik, saling serang, bersekutu, menjilat, semuanya jadi satu.

Pening.
Kacau.
Akhirnya...

Para-para peribut ini sungguh membuat suasana riuh tak karuan

Para peribut ini antara logika, emosi, hipotesis, teori, pra-sangka, curiga, sok tau, peramal, dan masih banyak lagi karena terlalu sesak ruang otaku dan beberapa tak terlihat jelas.

Ada yang berkata menggunakan logat medan mungkin karena aku sering melihat tayangan di instagr*m, ada pula bertutur lemah lembut saking lemahnya keadaan dalam ruangan itu hening beberapa saat kemudian riuh lagi.

Sampai pada aku ingin menutup tulisan ini, saat ini juga malam ini juga pada jam dan tanggal ini juga aku masih dalam kondisi memonitor kejadian per kejadian dalam otaku.

Masih
.
Pening.
Kacau.

Selasa, 22 Januari 2019

Mempersiapkan Kepergian

Sedia payung sebelum hujan,

Sama saja si,
Karena dipaksa pun seperti apa tidak akan bisa bertahan.

Jadi, ijinkan aku mempersiapkan diri untuk undur diri.
Terima kasih,
Dan bahagialah,
Seperti harapanku dari awal,

Minggu, 06 Januari 2019

Semakin Dalam

ajarkan aku untuk bisa berenang, agar aku bisa bermain dengan arus laut
ajarkan aku untuk bisa berenang, agar aku pandai menyelam
biarkan aku menyelam, karena begitu indah ternyata
biarkan aku menyelam, karena aku temukan kenyamanan dan kebahagiaan
sekalipun ada ketakutan aku terbawa arus dan aku lepas kendali

sekalipun ada keraguan untuk terus menikmati atau kembali
sekalipun enggan sekali untuk kembali
ingin tinggal lebih lama
bahkan selamanya

ajarkan aku untuk bisa menikmatinya dengan normal
karena yang berlebih itu tidak baik
ajarkan aku untuk bisa menerima
kalau laut bukanlah tempatku

ajarkan aku untuk sadar bahwa aku memang harus berjalan dengan dua kaki seiring dengan gravitasi
bukan berenang!



 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...