Senin, 23 Mei 2016

Buyar

Kapan ya, bahkan aku sudah lupa dengan itu semua. Namun tak kupingkiri memang karena aku yg melakukannya. Semua tulisan yg sudah aku tulis ya memang seperti itu. Apalah daya, menyangkalpun tak ada gunanya. Hanya saja asumsi orang perorang berbeda. Simpulang orang berbeda-beda, dan pandangan orang berbeda-beda. Aku dan dia juga berbeda, terlepas memang aku perempuan dan dia laki-laki. Hanya saja yg membuatku tak nyaman adalah kenyataan bahwa dia mengetahui semua yg sudah ku tulis. Tak enak rasanya, sepeeri dia memiliki sebuah puzle yg ku punya sehingga puzleku tak lengkap lagi sekarang.
Selain itu, aku tak suka karena semuanya buyar. Lebih baik ku keep sendiri bahkan sampai aku lupa sendiri. Tidaaak, buyar sudah semua. Buyar sudaaah. Lantas bagaimana ini, aku hanya berfikir jika semuanya sudah buyar. Terlepas dari apa yang dia pikirkan hanya saja pikiranku jadi buyar.

Senin, 16 Mei 2016

Pembiayaan

Hai guys, selamat siang. Sedikit bocoran saja ya saat aku menulis tulisan ini saya sedang berada di kelas pembiayaan. Maka dari itu judul tulisan ini adalah pembiayaan. Waah, berat bukan? Tapi tenang saja guys karena disini aku ga akan ngadain perkuliahan kok. Jangankan mau ngasih perkuliahan, tahu judul materinya aja sudah syukur alhamdulillah.
Siang ini aku mau sedikit cerita seputar kehidupan mahasiswa yang berada di kelas pembiayaan. Dan dalam kasus ini saya akan menceritakan lewat jalur snmptn atau tanpa tes. Eh apaan daaah, sorry. Kembali ke intinya ya,
Di kelas yang sedang saya ikuti terdapat berbagai macam tipe mahasiswa saat mendengarkan dosen.
Yang pertama, barisan bangku depan. Mengapa saya menyebutkan barisan bangku? Karena memang adanya hanya barisan bangku saja di paling depan. Ada si beberapa mahasiswa yang menetap disana namun bisa dihitung dengan up*l. Tahulah artinya...
Yang kedua, barisan setengah aman. Mengapa? Karena yang ada di barisan ini adalah anak2 kalangan moderate yang niat mendengarkannya sekitar 75% dan sisanya adalah niat nyari aman dan biar disangka rajin sama dosen.
Yang ke tiga dan empat, barisan aman. Karena barisan ini paling aman terhindar dari dosen yg tiba2 menunjuk mahasiswa. Aman untuk main hape, aman buat tidur, juga aman buat ngrumpiii
Barisan ke lima dan enam, barisan paling kristis dan paling demen rame. Kritisnya bukan masalah materi kuliah tapi masalah tetangga. Ehhh? Barisan ini diisi barisan tetap, artinya kebanyakan orang yg ada di barisan ini ya orang itu-itu aja. Dominan cowok dan sarang buat mencari mimpi indah karena jauh dari jangkauan dosen. Tapi kalau lagi sial, barisan ini adalah barisan paling membahayakan. Karena bisa saja dosen menunjuk dan memberikan pertanyaan ke barisan ini. Atau bisa jadi barisan ini menjadi tersangka kemarahan dosen. Juga menjadi kelompok transmigran dadakan kalo dosen yg protektif dan ga mau barisan pertama kosong.

Tapi secara keseluruhan sebenernya sama saja, mau di barisan manapun kebiasaan umum yang ada yaitu mahasiswa memiliki topik sendiri untuk dibahas, atau melepas lelah dengan mampir di dunia mimpi, atau berdiam dan berselancar dengan ilusi, fatamorgana, atau imaji tersendiri, atau bahkan seperti aku saat ini berkecoh yang entah apa artinya, tapi jangan salah juga di antara semua itu masih ada kok segelintir mahasiswa yg setia mendengarkan dosen tercintah di depan (entah ngeh apa ngga ga tahu siii). But its okkay guys,  apapun aktivitasnya balik lagi karena hidup banyak rasa. Dan kita bisa ngelakuin apa aja asal dosen ga marah... hehew
Catetan aja si, buat kalian mahasiswa ga usah sok ga setuju atau ga jsah sok setuju sama tulisan ini. Karena ini true story kok...

Okkay guys, segitu dulu perjumpaan kita siang ini. Semoga kita bisa segera berjumpa lagi ya dengan cerita-cerita lain. Harapannya ga muluk2 semoga tulisan ini bisa menghapus kesepian kalian terutama yg jomblo. Ehhh...
Engga, engga. Harapannya sederhana semoga bisa jadi selingan buat kalian yang lagi browsing bahan skripsi. Aduuh salah sebut, ngomong kotor...
Udahlah apa aja dah asal tulisan ini tidak membawa kalian ke dalam tindakan yg tercela. Nah loh, apa lagiiii yang disebut
Wes wes wes, kalo diterusin ga akan ada habisnya. Sekian guys, bye...

Minggu, 15 Mei 2016

Cerita Kapan dan Langkah

<p>Kapan?<br>
Entah apa jawabnya,<br>
“Kapan-kapan, sampai saat yang tidak diketahui. Sampai pada saat ini apa yg terjadi tidak pernah terduga sebelumnya. Seperti itu pula jalan di depanku. Seperti yang kau lihat, gelap… tidak ada tanda atau cahaya yang mengikuti sebagai petunjuk jalan. Yang bisa aku lakukan hanya berjalan lurus dan terus berjalan. Menerka langkah demi langkah agar tidak masuk ke lubang atau terjerumus ke jurang. Untung-untung aku hanya menabrak pohon atau menginjak rerumputan. Berharap tak ada hewan buas yg mengintai di antara kegelapan, atau hujan badai yg berkilat karena aku takut datangnya petir sedangkan aku tak tahu dimana ada tempat untuk berteduh.<br>
Sesekali aku tersandung akar yg menyelinap, terjatuh karena batu yg sengaja menghadangku. Berdiri dan melanjutkan langkah ke depan meski pegal dan nyeri sampai anyir darah tercium. Sampai pada akhir yang entah kapan akan tiba. Akhir yang dapat berwujud jalan terang dimana banyak petunjuk disana, atau sampai pada akhirnya fisik dan jiwa ini menyerah. Atau akhir yang tertunda dengan ada sepasang, dua pasang, bahkan berpasang-pasang langkah yg menyertaiku. Lebih tepatnya langkah yang sama-sama mencari sesuatu "harapan&cita-cita” di depan sana. Langkah yang aku temui ketika aku mengaduh, mengeluh, terisak, atau membuang nafas saat aku mulai putus asa dan berhenti dari langkahku. Langkah yang membangunkanku dari mimpi indah di dunia menyerah, langkah yang menamparku saat aku pulas dalam keegoisan, langkah yang memapahku saat kaki ini penuh luka dan nanah, langkah yang menghapus air mata dengan senyuman, langkah yang menghalau ketakutan dengan bahu keberaniannya, langkah yg sama-sama terduduk diam melepas lelah bersama, langkah yang menyumbangkan semangat yang nyaris hilang, dan banyak langkah-langkah lain yang pada masanya menambah panjang akhir dari episode kegelapan yang tak dikenali ujungnya. Langkah yang membuatku tak takut lagi dengan apa akhir yang ada di depan karena kami telah membaginya sama rata ketakutan kami,<br>
Dan yang terpenting langkah yang membuatku tersenyum serta tertawa di setiap jalanku.</p>

Kamis, 12 Mei 2016

Pendahuluan
-karena lama maka taksebentar-
karena itu maka ucapkan selamat datang kembali,
Banyak hal yang perlu diulak-alik hingga pada akhirnya memutuskan membuka hal yang sudah lama tak dikunjungi. Bukan sombong tapi sepertinya naluri sudah tak mau berbohong dan ingin hidup seperti normalnya orang-orang. Maka ucap hai untukku dari diriku sendiri. Karena banyak yang telah terlewat selama ini,
Masih dengan perjalanan menemukan warna-warna lain di dalam hidup yang dirasa selama ini hanya ada beberapa warna dari sekian warna yang ada. So, hai...  

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...