Minggu, 15 Mei 2016

Cerita Kapan dan Langkah

<p>Kapan?<br>
Entah apa jawabnya,<br>
“Kapan-kapan, sampai saat yang tidak diketahui. Sampai pada saat ini apa yg terjadi tidak pernah terduga sebelumnya. Seperti itu pula jalan di depanku. Seperti yang kau lihat, gelap… tidak ada tanda atau cahaya yang mengikuti sebagai petunjuk jalan. Yang bisa aku lakukan hanya berjalan lurus dan terus berjalan. Menerka langkah demi langkah agar tidak masuk ke lubang atau terjerumus ke jurang. Untung-untung aku hanya menabrak pohon atau menginjak rerumputan. Berharap tak ada hewan buas yg mengintai di antara kegelapan, atau hujan badai yg berkilat karena aku takut datangnya petir sedangkan aku tak tahu dimana ada tempat untuk berteduh.<br>
Sesekali aku tersandung akar yg menyelinap, terjatuh karena batu yg sengaja menghadangku. Berdiri dan melanjutkan langkah ke depan meski pegal dan nyeri sampai anyir darah tercium. Sampai pada akhir yang entah kapan akan tiba. Akhir yang dapat berwujud jalan terang dimana banyak petunjuk disana, atau sampai pada akhirnya fisik dan jiwa ini menyerah. Atau akhir yang tertunda dengan ada sepasang, dua pasang, bahkan berpasang-pasang langkah yg menyertaiku. Lebih tepatnya langkah yang sama-sama mencari sesuatu "harapan&cita-cita” di depan sana. Langkah yang aku temui ketika aku mengaduh, mengeluh, terisak, atau membuang nafas saat aku mulai putus asa dan berhenti dari langkahku. Langkah yang membangunkanku dari mimpi indah di dunia menyerah, langkah yang menamparku saat aku pulas dalam keegoisan, langkah yang memapahku saat kaki ini penuh luka dan nanah, langkah yang menghapus air mata dengan senyuman, langkah yang menghalau ketakutan dengan bahu keberaniannya, langkah yg sama-sama terduduk diam melepas lelah bersama, langkah yang menyumbangkan semangat yang nyaris hilang, dan banyak langkah-langkah lain yang pada masanya menambah panjang akhir dari episode kegelapan yang tak dikenali ujungnya. Langkah yang membuatku tak takut lagi dengan apa akhir yang ada di depan karena kami telah membaginya sama rata ketakutan kami,<br>
Dan yang terpenting langkah yang membuatku tersenyum serta tertawa di setiap jalanku.</p>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...