Minggu, 26 Desember 2021

Mengubur Harapan

 Agustus dua tahun terakhir. Menjadi bulan tanpa pengharapan. Begitu juga dengan tahun ini.


Sepertinya aku bukan lagi sahabat Agustus. Padahal dua tahun sebelumnya tahun ini Agustus selalu menjadi bulan yg paling dinanti-nanti dan menjadi tolak ukur sebuah pencapaian dan pengharapan baru. Manjadi motivasi untuk hal yang lebih baik lagi.

Tahun ini, akan jadi tahun dimana aku memang harus mengubur harapanku. Harapan yg sejak dulu aku idam-idamkan. Harapan dimana aku bisa hidup tenang dan bahagia.


bahagia memang harus berawal dari dalam diri, tapi bagaimana jika diri sudah terlalu sering dihancurkan oleh lingkungan dan keadaan.




sakitkan saja


berkelut sendiri

masih dalam keresahan yang sama,
hanya waktu yang berbeda, karena terus berputar semakin banyak waktu berjalan dan terbuang dalam sebuah kesia-siaan.

haruskah terbawa dalam arti ikhlas, yang merelakan semuanya.

begini aku mengartikan sebuah kelemahan.


diskriminatif dan ketidakberdayaan.

 bagaimana ada rasa rindu jika memang tidak ada rasa dalam hati,


bagaimana akan tumbuh jika memang sudah mati.

sekeras apapun dipertahankan, akan sulit kaktus tumbuh di area berair. sekeras apapun berusaha, ikan tak akan hidup di luar air.


lalu apa yang kamu mau sekarang?

yang ada adalah yang harus kamu lakukan, yakni lebih sadar posisi. karenamu bukan lagi sebuah hal yang diingat.

kamu hanya bekas, bekas benda yang pernah dijadikan teman bermain. tapi masamu sudah lewat.


sudah bekas. yang entah pergi ke museum atau pembuangan.

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...