Jumat, 28 April 2017

Pudar

Hey lawan, tahukah kalian apa yang sebenarnya terjadi saat matahari terbit. Selain nampak cahaya fajar yang menyejukkan dan kehangatan yang mengusir embun pagi? Pun hilangnya lolongan katak sawah atau nyanyian burung hantu atau keokan burung gagak malam yang digantikan dengan kicauan burung-burung jalak atau deruan mesin para pedagang-pedagang? Sungguh indah suasana pagi jika dibayangkan, teramat nikmat saat kita melihatnya dan merasakannya langsung di tengah hamparan padi yang mulai lebat daunnya dan mulai semburat padi-padi yang menyenangkan para petani.

Namun, di sisi lain ada sedih dibalik suka. Benar sekali, keindahan pagi itu tak lain memudarkan malam indah yang penuh bintang. Suasana yang sakral untuk memahami arti hidup lebih khidmat. Menikmati damai hari setelah bekerja seharian. Dan menikmati pertunjukan yang sangat indah dari jutaan bintang bahkan milyaran dan tidak terhingga. Begitulah pagi yang menggantikan malam.

Dan seperti itulah singkatnya jalan hidup yang lagi-lagi baru aku ketahui. Dari pengalaman menjadikan pelajaran. Dari kebahagiaan kita menjadi memahami bagaimana sedih itu, dari kesedihan kita seharusnya memahami arti penting dari sebuah senyuman dan tawaan.
Dan seperti malam yang selama ini aku lalui, terlalu banyak bintang yang aku sapa, terlalu hanyut aku dalam khidmat damainya malam, terlalu aku bergembira tertawa dan gembira dengan kunang-kunang malam, terlalu senang aku dengan gelap yang ada pada malam, hingga aku tidak menyadari bagaimana pagi datang dan melenyapkan malam yang indah. Bukan aku menyalahkan malam, tapi aku yang salah. Aku terlalu hanyut seperti aku melupakan sedih sedangkan aku dalam senang. Aku terlalu lama berendam dalam senang sampai akhirnya kini aku baru tahu bagaimana sedih pun sebaliknya.

Dan lagi, aku tidak tahu bagaimana indahnya siang sehingga kelabakannya aku melihat keindahan mentari. Merasa sepi saat ditinggalkan malam padahal malan dan siang adalah berpasangan dan berdampingan dan tidak terpisahkan.
Merasakan betapa menyesal saat aku menyadari aku begitu bodoh mengartikan hidup hanya pada satu sisi yaitu senang.


-dan seperti bintang, kunang-kunang, damainya malam, bulan, serta teman-teman malamku yang lain yang meredup karena datangnya pagi. Bukan kalian yang salah, bukan matahari yang salah, yang salah adalah aku karena tidak menjadikan kalian satu melainkan terpisahkan. Saat ini aku rasa pagi mulai datang di antara kita, dan saatnya kita (aku) mencari dan mengartikan arti hari yanh dibawa mentari. Banyak hal menyenangkan dengan berbagai hal pada malam tapi bukan kehendakku menghentikan hari-

Dan kepadamu malam yang pudar oleh siang, hati-hati dan terima kasih. Karena kita hanya terpisah dalam 12 jam, bukan dalam dunia yang berbeda.

Rabu, 05 April 2017

Aku ingin

Ma, kusampaikan pada malam
Malam yang ditemani gerimis dan bulan setengah bulat
Ma, kutitipkan bisikan ini kepada angin malam ini
Semoga gemercik daun terhembus angin menyampaikan bisikanku kepadamu
Rindu ini, dan rasa kasih ini
Ma, bisikan ini hanya kesah keluhku
Ma, aku ingin menangis
Hanya ingin menangis didepanmu
Sampai aku memeluk dan akhirnya terlelap dalam belaianmu
Biarkan aku menjadi kecil lagi,
Menuturkan segala cerita hidup yang aku alamu
Sampai pada akhirnya aku lelah dan tertidur
Dan kusambut pagi dengan berteman mimpi indah atas kenyamananmu

Kepadamu Ma, aku ingin menangis

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...