Jumat, 06 Januari 2017

Hitungan Dia

Kepadaku, kepada mereka yang datang menyapa
Kepada kalian yang sudah ada di sisi
Kepada kalian yang berlalu lalang di sekitarnya

Satu, karena dia terlalu takut dengan kritikan orang dalam otaknya
Dia lebih memilih untuk tidak menyapa
Menghindar dan bertingkah menjengkelkan
Dua, karena dia terlalu minder dengan apa yang dia miliki
Dia lebih memilih sendiri karena dengan itu dia dapat membatasi diri
Tiga, kalian yang membuat nyaman
Karena setelah apa yang kalian lakukan
Empat, lebih baik seperti ini
Dia dan kalian hidup pada garis masing-masing
Jangan sampai bersinggungan, karena dia akan sulit mencari jalan lain
Biar saja jalan kalian saling berpotongan, beriringan pun
Lima, karena dia terlalu bingung harus bagaimana
Karena terkadang siang begitu sepi dan malam begitu ramai
Malam ramai penuh dengan gelap
Siang sepi dengan segala kebisingannya
Enam, karena waktu terkadang mengasingkannya
Memojokkannya dalam sudut dunia
Namun, terkadang menjadikannya peran utama yang membuatnya kikuh
Kondisi yang membuatnya ingin pulang ke pojok dunia yang gulita
Karena terang begitu menyilaukan
Tujuh, delapan, hingga selanjutnya
Karena dia tak tau ada berapa hitungan yang dapat disambungkan

Senin, 02 Januari 2017

Kalau dan Jika

Kalau menunggumu adalah seperti aku menunggu hujan di gurun pasir, kenapa tidak untukku. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Lalu kenapa perandaianku seperti itu? Kau tau sendiri, itu menyatakan peluang yang sangat minimal. Tapi, apa peduliku. Sekecil apapun itu tetaplah peluang, dan ada kesempatan terjadi.

Jika bersamamu seperti menulis di atas air, maka biarkan saja aku menunggu air itu mengering dahulu atau biarkan aku lelah untuk menunggu dan memutuskan untuk pergi menjauh.

Lalu kenapa perandaianku seperti itu? Kau tau sendiri, itu menyatakan peluang yang sangat minimal. Tapi, apa peduliku. Sekecil apapun itu tetaplah peluang, dan ada kesempatan terjadi.

Jika saja, menjalani semua ini adalah perjuangan maka aku sudah babak belur berlumuran darah berjuang sendiri namun aku masih tersenyum baik-baik saja.

Faktanya, kemunculanmu sesekali jika diibaratkan seperti obat penawar dari lelahnya perjuangan. Seperti pelapur rindu yang tak kunjung reda.

Dan perandaianku seperti itu, maka bukanlah sangat sederhana perasaan ini? Hanya hati yang merasa, hanya rindu yang terjaga, hanya waktu yang tersisa, hanya kenangan yang terus menyapa. Bukan tidak ada akhir, karena aku sudah mencoba menutupnya tapi justru terbuka semakin lebar. Maka apa kehendakku, maka kubiarkan saja.

Jadi, jika hari esok ada waktu untuk ku bertemu maka aku hanya akan melihatmu dengan sebelah mataku karena itu sudah sangat cukup dan membebaniku.
Maka biarkan aku hidup seperti pecundang,

Jika pula aku harus melihatmu dengan orang lain, maka biarkan aku tersenyum menyampaikan selamat sekalipun aku hancur. Karena itu lebih baik daripada kau masih sendiri,

Dan jika pula aku harus melepasmu. Biarkan semua risiko yang harus aku alami menjadi tanggung jawabku sendiri, karena ini adalah inginku sendiri.

Dan aku tak tau bagaimana akhir dari semua ini,

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...