Kamis, 13 Juli 2017

Kegilaan vs Kedewasaan





“Jika besar nanti aku ingin kerja jauh, jauh banget pokoknya.”
”Aku kalau sudah punya uang pengen tinggalnya di luar negeri sendirian.”
“Aku mau keluar Jawa aja, gapapa jauh dari keluarga biar mandiri.”
“Aku liburan ini ga pengen pulang. Ngapain pulang”
“Nikahnya nanti aja, kalau udah punya uang banyak baru nikah.”
“Nikahnya sama orang yang kaya, kan udah kaya juga.”
“Nikah sama Si B, soalnya udah sayang banget sama dia. Suka dari lama ga ilang-ilang sukanya.”
“Nikah sama orang kesehatan aja, ganteng, putih, bersih, ngerti kesehatan, dan pinter pula.”
Dan banyak lagi kata-kata yang dikatakan, yang secara tidak sengaja membuat orang mendengarnya menilai dan mengira bahkan mengingatnya jelas. Dan pada akhirnya ketika kata-kata itu berubah dengan fakta yang berlaku baru sadar. Itu lah pentingnya menjaga kata. Tapi tak salah karena hak seseorang untuk berkata, kebebasan seseorang untuk mengutarakan apa yang diinginkan. Bisa saja aku kataka apa yang dikatakan yang berbeda dengan realita adalah sebuah kegilaan. Kegilaan yang gila karena memang tidak menggunakan 5W+1H saat mengutarakannya. Bukankah tidak selamanya manusia mengutrakan hal-hal yang serius. Anggap saja saat anak kecil mengatakan jika ia ingin menjadi dokter atau tentara. Bukan kegilaan memang, tapi untuk seorang anak kecil yang belum mengetahui apa saja profesi yang ada dan terbatasnya ilmunya dengan mudah mengatakan keinginannya itu. Lantas, mengapa aku menyebutnya kegilaan. Karena disini kita diposisikan pada kondisi dimana kita tak lagi menjadi anak kecil, kita tak lagi polos tanpa mengetahui dunia seperti apa. Kita mengetahui kondisi, latar belakang, dan ilmu bahkan kehidupan kita yang telah kita jalani, maka jika dengan kata-kata yang tadi bisalah dikatakan kegilaan. Hampir sama dengan hal yang sulit dicapai atau mustahil tapi tetap berbeda maknanya. Bingung? Bisa saja, karena memang membingungkan. Ayolah boy, ini bukan tentang ilmiah yang harus menggunakan bukti atau sitasi. Ini adalah tentang kelincahan otakku yang seiring berjalannya hidup seiring mencari arti dan nilai hidup. Menerjemahkan setiap emosidan keadaan, bahkan saat angin dan hujan membentuk cerita yang tak terlihat oleh manusia normal atau bahkan cerita yang setiap orang menerjrmahkan dalam bahasanya sendiri.
Lantas saat realita berbeda dengan kegilaan yang ada, dan saat kesadaran diri menyebut semua itu kegilaan fasenya berubah dan meningkat menjadi sebuah kedewasaan. Saat dimana dapat menilai hal menjadi lebih logis dan normal dan dapat diterima dengan nalar setiap orang.

Senin, 03 Juli 2017

Yang Ku Pelajari dari Ombak

Seperti ombak yang (seolah) mendekat. Mengejar bak mendekat, tapi belari menjauh lagi. Itulah ombak, selayaknya ombak. Mendekat dan menjauh, bukan mendekatimu pun menjauhimu. Hanya itulah ombak. Kau tak perlu lari, kau tak perlu mengejarnya. Hanya cukup diam pun dengan hatimu. Jangan ada baper dengan ombak.
Dan ombak itu dan engkau itu, tidak ada ada yg berubah tentangmu kepadaku hanya dari sudutku saja yang menyeolahkannya. Itulah kau, selayaknya kau.

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...