Kamis, 18 Agustus 2016

Tak Pantas

Jika saja sajak ini kau baca
Jika saja sajak ini dapat aku kirimkan untukmu
Jika saja takdir menuntunmu hingga sini
Sajak ini bukan rengekkan cerita romantis
Bukan curahan pula yang berisi tangisan
Bukan tangisan pun isinya

Hanya saja "jika" kau membacanya dan tahu apa yang ada dalam sajak ini

Bagai bulan merindukan matahari
Tak mustahil mereka bertemu meskipun jarang dan hanya sebentar saja

Bagai air dan api
Tak mustahil pula mereka bersama, sering terlihat di kebakaran api justru membesar saat bertemu air

Bagai minyak dan air
Tak mustahil pula mereka bertemu meskipun tak dapat menyatu

Bagai pungguk merindukan bulan
Tak mustahil pula si pungguk menahan rindu pada bulan karena itu memang hak si pungguk merasakannya

Bagai siang dan malam yang tak mungkin terjadi bersamaan
Tak mustahil pula itu terjadi, senja dan fajar adalah siratan dari kebersamaan mereka. Melahirkan keindahan nan sejuk

Bagaikan peribahasa-peribahasa di atas
Tak perlu terangkan dengan jelas
Tapi berharap kamu dapat membacanya saja cukup
Aku tahu dalam hidup ini tidak serumit drama, tak seindah takdir dalam naskah
Aku pun menyadari bahwa aku hidup dalam dunia nyata di atas bumi yang senantiasa berputar dan terus berjalan
Entah aku dimana dan kamu dimana
Yang jelas saja kita pernah berada dalam satu titik di roda berputar.

Tak masalah jika aku bulan dan kamu matahari, tak masalah jika bertemu sangat jarang namun aku bisa memastikan keberadaanmu seperti apa

Tak masalah pula aku api dan kau air, benar saja kamu semakin membuatku semakin berantakan dan nantinya kamu pula yang meredamnya (kau tahu apa)

Tak masalah aku minyak dan kamu air
Meskipun tak dapat bersama setidaknya kita bisa hidup beriringan dengan kehidupan kita masing-masing

Tak masalah pula aku menjadi si pungguk dan kamu adalah sang bulan, karena itu memang hak ku untuk merindukanmu. Dan biarkan saja itu menjadi urusanku sendiri, biarkan aku bertanggungjawab dengan apa yang aku lakukan dan biarkan aku menerima risiko atas semuanya

Dan untuk peribahasa terakhir, tak ada perumpamaan aku dan kamu untuk yang satu ini. Karena entah apa aku siang atau kamu, entah pula apa aku malam atau kamu. Indah rasanya jika ada senja dan fajar yang menyejukkan yang bisa tercipta jika dapat terumpama dalam "aku" atau "kamu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...