Rabu, 26 Desember 2018

Batas Ego



Biar saja aku menjadi egois. Iya egois,

Kali ini saja,

Biarkan!
Karena aku ingin bahagia (juga) di dunia.
Meskipun tak sempurna. Bukankah apa yang kita lakukan itu tak semuanya -sempurna- di mata para penyimak.

Biar saja aku egois kali ini.


Karena, menjadi penting bagi seseorang menjadikan cukup berarti dalam dunia yang penuh keriuhredaman ini.


Biarkan aku egois kali ini.

Tapi jangan beri kebebasan untuk ego ku ini.
Karena semua yang ada di dunia ini perlu batas.

Aku harus paham dan terapkan batas egoku.

Jumat, 21 Desember 2018

Seberapa?

Untukku, yang sedang berada dalam perjalanan yang merumitkan.

Jika sebelumnya tidak aku rasakan seperti yang sudah aku rasakan. Kemungkinan yang terlewati tidaklah seperti yang telah aku lewati.

Kenyataannya yang terjadi saat ini adalah kerumitan. Persis seperti yang aku jelaskan di awal. Perjalanan yang merumitkan. Jelas rumitnya ini dariku sendiri. Tapi jika memang sudah aku jelaskan memang hal yang rumit. Sayang aku tidak akan menjelaskannya.

Penting jika menilai diri tentang bagaimana kita dan dmana kita berada. Apakah sebuah kebenaran atau kesalahan, pun sesuai atau ketidaksesuaian. Rasanya seperti menganalisis diri sendiri. Benar, karena kadang kita perlu beradaptasi dan kita pun perlu menilai. Itu menurutku.

Nampaknya aku sedang merasakan hal dimana aku menarik sebuah kasus dimana aku seperti merasakan ada yang salah dengan aku disini saat ini, aku seperti ini. Maka, perlulah aku menganalisis atau menilai sekedar kasusku yang dibawa oleh kebimbangan atau memang terbukti benar kasus yang saya tarik. Jika benar memang kasus tersebut terbukti, maka kasus lain muncul. Mengapa? Mengapa sampai bisa terjadi dan kasus itu terbukti? Apa yang salah? Apa yang sudah terjadi?

Dan apabila kasus it tidaklah terbukti, maka berlebihan pula aku berpikir kasus yang tidak masuk akal itu. Haha,

Melebar sudah pembahasanku kali ini, yang aku maksud bukanlah ke arah kasus yang itu.


Kembali ke topik, seperti yang ada di judul. "Seberapa?"

Dalam posisiku yang merumitkan ini, maka yang perlu dibahas adalah sebuah pertanyaan yang menghubungkan hal yang hampir melebar tadi. Iya, tentang sebuah "seberapa" dan "kasus"

Intinya adalah kasus itu yang disebabkan oleh sebuah kerumitan dan nantinya akan memunculkan pertanyaan "seberapa" itulah hubungannya.

Ku tarik kesimpulan, dari kerumitan yang ada saat ini saat aku merasakan kasus dimana posisiku antara sesuai atau tidak sesuai, katakanlah tidak sesuai yang akhirnya akan menggulirkan sebuah jalan keluar untuk mengakhirinya adalah sebuah tantangan yang harus dilalui. Ialah seberapa besar yang harus aku persiapkan untuk melakukan semuanya. Membereskan kasus yang terjadi, sehingga kerumitan itu teratasi.

Andai ada jawabannya, pasti sudah aku katakan yaitu Sangat Besar.
Tepat seperti pernyataanku sebelumnya

"Jika sebelumnya tidak aku rasakan seperti yang sudah aku rasakan. Kemungkinan yang terlewati tidaklah seperti yang telah aku lewati."

Jika saja sebelumnya aku tidak melewati seperti yang sebelumnya, maka yang aku lewati saat ini bisa jadi tidak seperti yang sudah aku lewati.

Rumit.
Rumit.
Rumit.

Aku (lagi-lagi) harus melewatinya, hal yang pernah aku lewati.
Butuh seberapa besar lagi aku bertahan dan berjuang? Itu yang akan menjadi akhir dari semuanya.
Semuanya tidak akan mudah, tidak akan gampang, dan tidak akan ringan.
Berat.
Penuh keluh.
Penuh kesah.
Penuh dengan kegelisahan.
Sanggupkah aku?

Tolong beri aku jawaban, karena aku telah masuk kedalam lubang yang sama.
Aku tak menyesal, hanya saja aku merasa aku tidak sanggup menjalaninya. Seperti memutar waktu.

Melakukan hal yang sama. Kali ini lebih berat karena ingatannya lebih melekat.
Mengakar.
Sudah dalam.

Kalau boleh bantu aku,
Kalau boleh bantu aku,
Kalau bisa bantu aku,
Kalau bisa bantu aku,
Kalau bisa bantu aku,

Karena,
Berat.

Karena sudah melekat,
Karena sudah melekat,
Karena sudah melekat,

Mengurat,
Seperti Jerat,
Tak bisa lepas,
Sulit,
Susah,


Kalau bisa aku ulang saja. Dari awal tidak,
Dari awal pergi,
Dari awal tidak,
Dari awal pergi,
Dari awal menjauh.

Seperti itu,
Seberapa??

Tulus dan Berat.
Jawabnya.

Dariku,

Kamis, 20 Desember 2018

Saya Jahat

Selamat siang Dunia,

Untuk Duniaku dan Dunia yang ada. Saya ingin memberitahu kepada Duniaku dan Dunia yang ada. Bahwa Saya adalah Jahat Manusia.

Terima kasih,
Dari Manusia Jahat

Kamis, 06 Desember 2018

Pusaran yang Memanas

Tahun ini hampir tutup,

Tak terasa juga aku berada di tempat ini hampir satu tahun. Iya, di tempat ini tepatnya. Kota yang baru dengan segala hal yang ada.

Tentang pusaran. Sesuatu yang memang layaknya puting beliung yang membahayakan, menarik perhatian, dan membahayakan. Pusaran itu kini kian memanas, karena apa? Karena seperti aku bermain dengan puting beliung itu.

Menggelitik seperti kupu-kupu yang ada di dada anak kecil yang sedang mengenal virus merah muda.

Entah apa yang terjadi, hanya saja aku teerpaut pada pusaran itu. Meskipun banyak yang berteriak dan bersimpati tapi aku seperti tenggelam, menyelam, pun menikmati semuanya. Pusaran itu semakin kuat dan aku semakin tertarik didalamnya.

Apa ini efek dari apa yang terjadi selama ini? Karena sakit atau apapun itu aku alami hingga pusaran yang bak puting beliung itu sama sekali tak menakutkan bagiku.

Pusaran itu kian memanas, tapi aku sama sekali tak merasakan. Hanya seperti benih yang sedang tumbuh dan terpapar sinar matahari. Begitu girang, sehat, dan sangat subur. Iya, seperti itu. Semakin panas pusaran itu, aku justru semakin semangat dengan pusaran itu.

Tahun ini hampir tutup, dan Tahun yang baru akan buka.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan aku terima kerana bermain dengan pusaran yang memanas.
 Apakah aku akan mendapatkan hasil yang membahagiakan dari semua ini? Harapan aku iya.

Senin, 03 Desember 2018

Faktanya adalah Sebuah Hal yang Mengejutkan

Hey,

Ingat dengan ceritaku tentang penantian yang sebelumnya. Persis cerita sebelum ini.
Dimana sebuah mendung dan badai ikut didalamnya.

Nyatanya yang terjadi setelah itu, dan setelah beberapa lama ditelan waktu semuanya terungkap. Dan fakta yang mengejutkan memang terbuka.

Nampak sedih dan mengharukan, bahkan sangat kasihan. Semua kata-kata itu tertujuku padaku. Iya, tepat dan tetap untukku. Sejurus dan menjurus langsung ke jantung. Bukan berlebihan tapi memang benar adanya.


Sebuah rahasia yang hanya untuk aku dan kau, kini akan ketambahi. Aku lengkapi rahasia itu. Karena memang rahasia yang sebelumnya masih belum selesai. Bagaimana? Siapkah lagi?

Tentang sebuah penantian yang tak dapat diteruskan, bahkan keraguan yang dari awal membukit sampai saat ini justru menjadi menggunung.
Karena penantian yang dirasa berat sebelumnya, justru semakin berat saat menemukan fakta yang terjadi setelahnya. Iya, fakta setelah sebuah penantian itu tiba dan menceritakan apa yang terjadi.

Manangis? Iya,
Kecewa? Iya,
Sedih? Jangan ditanya,
Marah? Pun ikut andil,
Bersalah? Juga termasuk,


Seperti malaikat terasa saat itu, kerana bergetar mengetahui kebenaran yang ada. Terpanggil untuk mengatasi semua pasti baik-baik saja. Semuanya bisa jika kuat.

Munafik ketika merima semua baik-baik saja, tapi yang terjadi adalah tidak berhenti. 

Senin, 03 September 2018

Cerita Singkat Penyambut September, Penutup Bulan Agustus

Yang aku tahu tentang sebuah penantian adalah ia tak pernah salah dan dipersalahkan.

Penantian itu rasanya sebuah perjuangan yang jika ditilik kembali itu rasanya manis, sedih, dan penuh kenangan.

Perjuangan itu memang butuh tenaga, tak luput pula emosi. Iya, emosi.

Matahari bersinar terang, hangatnya sangat nyaman menembus kain menusuk kulit, Menyadarkanku untuk segera meneduh dari apa yang terjadi karena takkan mungkin diteruskan.

Karena teriknya mengundang keringat yang tak nyaman, pun mengundang emosi yang lebih.


Benar memang sebuah kenangan tak perlu waktu panjang, sama seperti saat apa yang dirasakan dua insan.
Kuberi tahu sebuah cerita, tapi ini rahasia antara kita. Iya, antara aku dan kau saja. Siap kah kau?

Cerita dimulai saat dua manusia yang bertemu, berkenalan, dan akhirnya bersenda gurau bersama. Yang satu karena ia sedang merasa berat hidup dengan keputusan besar yang sudah ia tetapkan sendiri. Sedangkan yang satunya adalah orang yang sedang mencari cerita hidup dari sebuah jeda pikuknya hidup.

Sebenarnya ada beberapa yang lain, tapi rasanya ia tak seperti-seperti ingin dimunculkan (bukan karena aku tak mau). Dia, rekan dari keduanya yang cukup diketahui dengan dia. Itu saja.

Bersama melukis sebuah titik-titik warna di langit dan berharap pelangi tercipta. Perlahan namun tak pasti, entah titik-titik apa yang mereka torehkan yang jelas akhirnya adalah sebuah warna kelabu yang mirip dengan mendung dan sepertinya hampir disertai petir dan badai.

Satu dari mereka terus menyulut api sehingga kelabu itu semakin pekat, bahkan petir sudah terlihat muncul sesekali. Yang satunya mencoba untuk memadamkan api dan berbisik-bisik seperti sedang mencoba mengusir kelabu langit. Sedang satunya tetap diam tanpa mengetahui apa yang terjadi.

Hari berlanjut, satu dari mereka atau si penyulut api ini akhirnya pergi dan kelabu pun semakin hari semakin hilang. Satunya pun kebingungan karena terik matahari kini telah muncul dan ia mulai terganggu dengan panasnya, dan sedikit rindu dengan dingin mendung atau gelegar petir, atau pun derasnya badai angin yang menerjang.

Lagi-lagi satunya lagi tetap diam tanpa tahu bahwa matahari kini sudah bersinar terang.



"Matahari bersinar terang, hangatnya sangat nyaman menembus kain menusuk kulit, Menyadarkanku untuk segera meneduh dari apa yang terjadi karena takkan mungkin diteruskan."



Cerita singkat menyambut September, penutup Bulan Agustus.

Jumat, 04 Mei 2018

Inspirasi

Karena matahari nyaris terlelap, atau entah karena senja di ufuk langit melambai-lambai. Aku temukan sebuah sinar yang membuat hatiku tersenyum. Akhirnya jiwaku terasa hidup.

Aku ingin menuliskan sebuah kisah. Kisah siapa saja yang dapat membuat orang yang membacanya merasakan seperti yang aku rasakan sore ini.

Karena hidup itu seharusnya bahagia.

Sabtu, 27 Januari 2018

Tanda Tanya

Pada siapa dia bertanya tentang kenangan indah yang ingin selalu dia ingat? Mengapa dia sama sekali tidak mengingatnya?

Nasehat

Dan kepada orang yang paling berharga di dunia, jangan sedikitpun menggunakan fisik kalian dalam membesarkan putra/putri kalian jika sangat tidak terpaksa. Kalian adalah segalanya bagi mereka, kalian adalah malaikat pelindung bagi mereka.

Dan jika itu terjadi, maka buruklah yang terjadi berikutnya. Karena kenangan untuk mereka sangat menyiksa bahkan meski sudah dibawa untuk waktu yang lama sekali. Sekali kenangan itu muncul sungguh menyakitkan rasanya. Sesak dan tak berdaya.

Itu nasehatku untukmu, (diriku di masa depan)

Andai

Andai saja dulu aku bisa mengatakannya dengan lantang, atau andai saja aku bertemu dengan seseorang yg bisa membawaku pergi jauh. Mungkin aku tidak seperti saat ini, menyesal dan menyesali.
Andai saja aku dulu lebih tegas, mengatakan sakit dan berteriak. Mungkin akhirnya tidak seperti ini, lemah dan ingin berontak tapi tak berdaya. Mencoba kuat tapi sungguhnya rapuh. Andai dulu aku berani mengambil keputusan untuk berontak, pasti tidak seperti sekarang tidak merasa luas dan selalu mencari hal yang tak pasti. Andai dulu aku benar-benar mengatakan sakit dan ingin berhenti, maka semua pasti jelas tidak seperti sekarang justru semakin sakit. Karena andai itu terlambat datang.
Dan hanya ada satu andai yg masih bisa diraih, andai hidup seperti di tengah lautan pasti akan damai dan tenang. Jauh dari kata-kata manusia.

Kalian tahu mengapa seseorang ingin kabur?
Bukan karena seseorang itu melihat hal yg indah disana, melainkan seseorang itu menginginkan kenangan barunya menghilangkan kenangan lamanya.

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...