Selasa, 15 Desember 2020

ASING

 Kali ini aku benar-benar menyadari,

Entah aku yang mengasingkan diri, atau dia. Atau malah mungkin kita sama-sama mengasingkan diri

Tuhan, aku tidak sadar ternyata akan berakhir seperti ini.

Saat semua yang aku lakukan adalah sebuah perjuangan menuju hubungan yang jauh lebih baik. Tapi, justru tidak ada yang membaik. Memang ini hasil dari hubungan yang tidak didasarkan dari sebuah komitmen. Menjadi rapuh dan tak berarah.

Ibarat mobil yang berjalan tanpa tujuan, sekarang kehabisan bensin. Berhenti di tengah jalan dan tidak tahu harus bagaimana. Mencari bahan bakar atau melanjutkan perjalanan masing-masing. Bingung. Diam. Para penumpang tidak ada motivasi apa yang harus dilakukan. Ingin tetap tinggal tapi bertahan dengan apa sementara bekal sudah menipis. Ingin mancari bahan bakar, tapi bingung jika ditanya tujuan karena pasti akan terjadi lagi seperti ini. Pun ingin berjalan masing-masing tapi (mungkin) masih ada rasa nyaman yang ada di masing-masing penumpang.

Lalu?

Bagaimana?


Jika sekarang semua terasa asing. Adalah jawaban untuk kasus mobil yang mogok tadi. Ialah keduanya sudah coba bertahan dengan bekal yang ada dan sekarang masing-masing sudah memikirkan jalan ke masa depan (re: masing-masing).

Maka mereka mulai berjalan melanjutkan perjalanan (masing-masing). Berbeda,
Arah dan tujuan. Adanya hanya kenangan saja yang akan menjadi bekal masing-masing dalam perjalanan.



Sedih.

Memang, untuk semua yang sudah dilakukan terasa sedih.

Sekarang adalah bagaimana untuk bangkit. Dia? Mudah,

Aku?

Untuk saat ini, begitu sulit. Karena aku tidak tahu dengan bekal apa aku bisa berjalan melangkah ke depan.

Tidak banyak yang aku punya. Hal mendasar sebagai bekalku yakni kepercayaan diri tidak ada.

Lantas bagaimana?

Aku seperti orang linglung yang berjalan di padang pasir. Kesana-kemari tanpa arah. Menebak mungkin kesana, belok kanan, putar kiri, bahkan putar arah 180 derajat, pun kadang berhenti di tempat lalu jalan lagi tanpa arah lagi. Tidak ada kepercayaan diri langkahkan kaki ke arah mana.


Tuhan,

Ternyata berpisah itu tidak mudah, kenapa harus seperti ini pada akhirnya.

Tapi kembali pun sudah tidak bisa.



 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...