Berjejer-jejer angkot dan bis antar kota di tempat ini. Hingga senja berubah menjadi gelap bahkan keramaianpun tak lekang dari tempat ini. Siang dan malam bagai membalik halaman buku dengan isi ceritanya yang selalu berganti. Alur yang ini bersambung dengan yang itu, dengan gaya khas yang menawan penuh dengan kemisteriusan yang tak dapan ditebaknoleh siapapun. Bahkan sekecil apapun debu yang ada di tempat itu memiliki oeran dan ceritanya masing-masing.
Malam ini, untuk sekian kalinya aku berdiri di tempat ini lagi. Melihat hiruk pikuk yang jauh berbeda dengan keramaian yang biasanya aku temui. Hiruk pikuk orang pulang pergi bekerja, hiruk pikuk orang mencari nafkah. Peluh mereka sampai tak terlihat sekalipun kondisi di tempat ini sangat panas karena polusi dari pabrik-pabrik yang ada. Aku yang termenung melihat dengan decak kagum kepada Sang Kuasa yang dengan detailnya menggerakkan semua yang ada di depan mataku. Sangat sinergi dan kompleks. Sembari menanti saudara menjemput ku putar ulang ke belakang dan mengingat apa yang telah terjadi. Dari desa kecil, bukan maksudnya mulai dari rumah di tengah-tengah jauh dari keramaian dari keluarga kecil dan dari sebuah kenekatan yang menantang ke-mainstream-an keluarga aku berangkat ke kota hujan untuk kuliah. Disini pertama kali aku memijakkan kaki sebelum akhirnya berlabuh ke bogor. Sendiri benar-benar sendiri aku berangkat dari desa asalku. Perjalanan pertamaku yang jauh, pertama kaliku waktu itu. Sampai disini, di tempat ini aku mengingat betapa berbedanya duniaku selama ini. Hiruk pikuknya menantang siapapun untuk terus bertahan hidup dan mencoba untuk survive di kehidupan yang keras. Tak lama aku disini selanjutnya ku temukan cerita yang lain di kota hujan, kota naunganku yang aku tinggali cukup lama. Dan tempat ini akan ku singgahi sesekali sampai suatu saat yang tak diprediksi. Dan ceritaku akan berlanjut di kota bogor sana. Sampai jumpa
sebuah rahasia bukanlah seuntai kata yang tersimpan dalam diri maupun hati. akan tetapi rahasia ialah segala yang tersembunyi dibalik layar kehidupan ini.........
Senin, 27 Juni 2016
Terminal
Minggu, 26 Juni 2016
Tulisan penutup semester 6
Siang ini masih malas-malasan di atas kasur menunggu timing yg pas buat memutuskan beranhak dari bogor dan kepas landas ke cikarang dan pada akhirnya nanti akan tiba di rumah kelahiran. Menilik ke belakang mungkin ini semester terberat memang dari semester-semester sebelumnya sampai ga sempet yang namanya libur pulang atau nyempil-nyempil ke cikarang. Adanya kalau libur pengen tidur kalau ga ya paling main sama temen sekedar karaokean atau main di timezone. Bosen ga ada kerjaan serta stress tempat yang paling pas paling nampo mas. Semester dimana ga ada tambahan koleksi drama dan ga ada sedikitpun nafsu buat mainan laptop karena udah terlalu penat sama laptop akibat tugas yang bejibun. Engga ada yg namanya weekend libur, pembekalan sebulan penuh setiap hari sabtu kadang minggu pun ikutan ada juga. Kalau pun ga ada pembekalan ya dijadwalin buat turun lapang nugas dari dosen. Semester paling males buat belajar sekalipun ujian udah h-berapa jam tapi sama sekali ga ada gregetnya. Semester paking krusial karena disini banyak sekali masalah yg datang dan pergi. Semester dimana ada moment menegangkan dan mengharukan. Selain itu semester dimana nemu mana yg sebenernya temen dan sahabat atau yg namanya sahabat sebentar. Semester dimana nemuin kekecewaan (lagi) setelah sekian lama ga kecewa karena udah lama juga mutusin buat ga menggantungkan sesuatu ke orang tapi sekalinya mencoba eh malah kecewa lagi. Semester dimana semangat banget buat ketemu semester baru karena greget mau kerja sekeras-kerasnya. Semester dimana mulai ketemu sama proposal penelitian sama kenalan sama dosen pembimbing skripsi. Semester dimana sadar kalau link itu perlu. Semester paling romantis sama keluarga karena udah sering curcol sama mama dan jadi tempat curcol bapak, dan masih jadi tempat sandaran ma bro. Semester paling ga kangen rumah (emang udah biasa). Semester paling banyak momen pengen kabur dari orang-orang yg palsu. Dan banyak lagiii
Siang-siang yang sepi karena banyak penghuni kosan yg udah pulang dan ga ada temen main lagi di bogor udah pada mudik juga masih ditemenin playlist lagu-lagu hits pilihan yang sesekali nyelip lagu korea ost drama yang melow dan romans-romans gitu, masih diterpa sepoi-sepoi angin kipas angin pula. Leyeh-leyeh sambil memikirkan apa yang mau dilakuin kedepannya. Banyak banget ide di kepala tapi ga ada keberanian buat memulai karena tak ada sokongan dari faktor terpenting apalagi kalau bukan finansial. Modal coiiiii, belum nemu temen yang bener2 bisa diajak gila dan mulai hal baru. Belum nemu orang yang bisa dijadiin partner bisnis dan adventure.
Setahun lagi harus udah lulus, bahkan sudah diterima kerja di tempat yang enak dan lagi gajinya gedhe. Ga lain lagi pengen mulai bisnis sendiri, biar bebas dan bisa kemana-mana bebas. Biar bisa berkunjung ke saudara dan jemput mba yang udah lama ga pulang di negara seberang. Tenang mba, adekmu ini akan berusaha. Hahahaha kenapa jadi melow gini dah (kebawa iringan lagu ni...)
Sudah wes sudah, nanti kapan-kapan sambung lagi. Semoga nanti ketemu lagi pas di rumah, hati2 bagi yang mau mudik. Hati2 sama hatinya juga ya bawa dan jaga jangan ditinggal apalagi digantung. Hehehe
Senin, 06 Juni 2016
Berubah-ubah
Kawan, mungkin dia memang labil. Sesaat dia menjadi ramai sesaat dia menjadi diam dan bahkan sesaat menjadi acuh tak acuh. Dia sendiri bingung apa yang terjadi. Hanya saja terlihat sepertinya banyak keraguan di matanya. Banyak pertanyaan saat dia menatap segala sesuatu yang ada di depannya. Saat dia memutuskan untuk mengenggam dan melangkah satu langkah ke depan namun dia kembali ragu di langkah kedua.
Seperti itu selama ini, bahkan dia sangat bingung dengan apa yang terjadi dengannya. Ketika dia berangkat dengan penuh senyum akan tetapi tak jarang kembali dengan perasaan tak menentu. Setiap diam dia berpikir, memutar apa yg telah terjadi dan apa yang dia lakukan. Setiap yang dia temui seolah menjadi sebuah makhluk yang sulit untuk dijelaskan. Hal yang diinginkan hanya satu terus dan terus melangkah hingga berlalu semuanya.
Tiba saatnya ada sesuatu yang mendekat kepadanya. Meskipun di kepalanya banyak tanda tanya dan pikirannya dipaksa berputar jauh lebih kencang dari sebelumnya, karena dia orang yang tak sulit berkata maka dia hanya diam dan berjalan bersamaan dengan sesuatu itu. Bahkan setelah sekian lama, bahkan setelah dia mencoba untuk melangkah sedikit lebih ke depan dari sebelumnya dia tetap masih penuh dengan keraguan. Begitu hingga waktu yang cukup lama,
Dan saat dia percaya dan mengakui bahwa sesuatu itu bisa diakui sebagai hal yang lebih jelas keberadaannya dan dia sampai tak ada pemikiran lagi tentang apa itu bingung semuanya mendadak berubah. Yang telah dia sandarkan ke dinding kokoh tiba-tiba saja dia menyadari bahwa selama ini asumsinya dulu masih berlaku dan itu juga terhadapnya. Asumsi yang sudah dia hapuskan dan sudah dianggap tidak ada ternyata masih berlaku. Asumsi bahwa dinding kokoh ternyata hanya tumpukan kardus kosong yang di cat putih itu terbukti dan parahnya itu padanya. Asumsinya diambil selama perjalanan sesuatu yang mendekat itu menjadi sesuatu yang jelas keberadaannya. Dan bodoh sekali setelah sekian lama ini dia hidup tak dapat mengenali kasus seperti ini, kasus yang membuat dia hancur sendiri. Bodohnya lagi memang dia siapa membuat pengecualian terhadap asumsi tadi. Bahkan hal yang harus diterapkan adalah semuanya sama.
Sekarang yang tersisa hanya luka lecet dan lebam yang entah kapan bisa hilang. Luka yang didapat dari melanggar asumsi yang terbukti jelas kebenarannya. Roboh sudah dinding itu, iyalah hanya tumpukan kardus ini. Sekarang dia kembali dalam kebingungan da keraguannya yang lalu, lantas memuncaklah sudah keinginannya untuk mengatasi hidupnya sendirian. Hanya saja terkadang sulit memang untuk hidup sendiri, tapi mana ada hal yang salah dan tak mungkin dilakukan.
Kepada semuanya terutama sesuatu-sesuatu yang ada di sekitarnya bahkan jika ada yang mendekat padanya entah apalagi keputusan yang akan dia ambil.
Yang terjelas untuk sesuatu yang sudah menjadi sesuatu yang jelas keberadaannya dan sekarang telah berubah menjadi sesuatu lagi dia agaknya membatasi diri. Bahkan kepada semuanya,
"Jika memang dia lelah sudah biarkan saja, jika berkenan perhatikan saja. Jika tidak maka diamlah. Biarkan dia memilih apa yang akan dia pilih. Jangan menekannya, biarkan saja jika dia ingin menepi. Memungkinkan dia ingin berhenti sejenak untuk berfikir ulang apa yang telah terjadi dan telah dia lalui. Atau bahkan ingin mencari jalan lain atau berbalik arah. Biarkan saja. Dia akan kembali jika memang perlu, dan jika dia sudah kembali maka jangan pernah menampik cepat-cepat atau bahlan tanpa tanda. Lebih baik berikan sinyal atau semacam kode atau tanda silang yang berarti tak dapat menerimanya kembali. Yang terpenting, jangan menekannya. Jangan memaksa, dia memiliki perhitungan sendiri meskipun saat ini perhitungannya sangat detail dan rumit. Lagi-lagi dia seperti ini bukan karena dianya akan tetapi sesuatu-sesuatu tadi yang membentuknya menjadi seperti ini"
apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...
-
ku harap Tuhan mengijinkan apa yang sudah kita janjikan semoga Ia pun memberikan apa yang kita harapkan aku akan mencoba menepatinya 2...
-
saat aku memandangmu aku sedih, karena aku berbeda kau dan aku sangat berbeda pernah berharap kau berjalan di sampingku bersama dalam s...
-
j****i and jaz and Zuliest suatu hal yang sangat fenomenal, bombastis, fantastis, dan sangat manis #asikkkk.................... yang se...