Rabu, 15 November 2017

Cinta Dalam Diam

Nyatanya dalam hal mencintai adalah hal unik. Unik karena banyak rasa didalamnya tapi rela melakukan semua itu. Rela merasakan sakit, senang, galau, dsb. Rela hujan, panas, gerimis, pun badai. Rela sakit hati, emosi, juga bungah. Rela berlari, merangkak, bahkan terjatuh. Rela menyanyi meski suara sumbang ajaibnya terdengar indah. Rela berteriak, berbisik, pun rela berpuisi.

Cinta merubah pribadi yang biasa menjadi luar biasa. Pribadi pendiam menjadi periang, tapi pun sebaliknya. Pribadi yang cuek menjadi perhatian, pun sebaliknya. Sesungguhny Dia yang ahli dalam membolak-balikkan hati, maka semua itu tidak aneh terjadi.

Seperti yang kupelajari dari sebuah cerita cinta. Karena banyak cinta yang bisa aku kelompokan setelah bertemu dengan berbagai orang dengan cerita dan pengalaman cintanya.
Cinta dalam diam

Nyatanya tidak sedikit orang memiliki cinta jenis ini. Jenis yang sangat sering terjadi pada kaum perempuan. Kaum yang katanya nasibnya hanya bisa menunggu tanpa bisa menyatakan terlebih dulu. Menunggu yang tidak pasti, memendah rasa sepihak tanpa tahu kapan menjadi belah-pihak. Karena diam itu tidak tersampaikan maka tidak terucap, hanya tersalurkan dari do'a atau tulisan atau jika sudah tidak sangguh lari ke sahabat atau teman dekat. Kalau seperti kids jaman now ada cara lain agar selalu terhubung dengan dia yang cintanya diam dalam hati, seperti dengan membuat stasus "kode", membuat story, atau sekedar melihat story atau segala feeds medsos doi. Bahkan jika sudah mentok "yang penting dia melihat story ku jadi dia masih sadar aku masih ada di dunia ini". Atau kegirangan karena story nya akhirnya dilihat doi, padahal bisa jadi semua story yang ada dilihat tanpa ada pengecualian atau spesialisasi.
Baiknya kids yang seperti itu, bukan yang nekat melakukan hal yang terlewat batas.

Jika ada yang menyangkal bukan hany perempuan saja, tapi ada lelaki seperti itu pula. Maka aku mengatakan ke dia adalah lelaki yang tidak berjuang. Mereka memiliki modal yang tidak dimiliki perempuan, yang tak bisa mengambil kendali dari awal. Sudahlah, bahasanku nantinya akan terlalu lebar.

Terlepas mengapa perempuan memilih jenis cinta ini, lagi-lagi karena cinta memiliki ramuan yang bisa membut kita memiliki berjuta alasan. Sekarang hanya ingin menyebutkan beberapa rasa memiliki jenis cinta ini. Setelah beberapa yang sudah disebutkan di atas, ada lagi seperti hanya bisa mengikuti kuotes yang menguatkan hati. Atau terkadang takut-takut membisikan nama dalam sela-sela doa agar hatinya ditujukan kepadanya.

Tapi apa daya, jika lelaki tidak sadar akan perempuan yg memiliki jenis cinta ini. Faktanya jika si perempun keukeuh dengan rasanya dan lelaki tidak menuju hatinya dan ada hati lain yang dituju. Si pemilik cinta dalam diam hanya menambah rasa sakit dari rindu yang sudah tertumpuk lama. Jika ada cara mengungkapkannya pasti akan dicari para penggemar cinta dalam diam. Kecewa, sedih, sakit, karena selama ini menyimpan hati memelihara perasaan yang tk pasti dan benar terjadi. Menangispun tak terlihat, sakit pun tk mungkin dia tahu karena memang dari awal memilih dalam diam.

Hanya saja jika si lelaki tahu betapa berjuangnya si perempuan. Memendam rindu, memperhatikan dalam jauh, tersenyum untuk senyum dan bahagiamu, bahkan menangis atas sedihmu tanpa kamu tahu. Tekadang jika sudah tidak mampu, hanya membisikan pada angin agar menerbangkan kata rindu agar sampai padamu. Menyampaikan pada langit, bulan, bintang atau hal yang tak masuk akal lainnya. Mempuisikan kata sebagai ungkapan rasa alih-alih kamu akan mengetahui dengn analisismu tapi itu tak masuk akal. Memimpikan adalah anugrah yang dirasa pertanda (tak masuk akal). Keaktifanmu di medsos dikiranya adalah cara kamu mengabarinya (pikiran tak waras). Atau terkadang hanya lewat di kota tempat tinggalmu menjadi lebih dramatis dan sensitif. Dan banyak lagi, tapi bagiku yang terbesar jika si perempuan sudah berani menyampaikn nama si lelaki dalam sujudnya. Bagiku ini sudah dalam puncak rasa.

Bertolak dari semua itu, jika feeds yang membuatnya tahu kabarmu menyatakan bahwa hatimu ternyata tertuju pada hati yang lain adalah badai bagi si perempuan. Sakitnya melebihi apa yang dirasakan selama ini. Membuat sakit dan bahkan sulit untuk bernapas. Tidak melebihkan, namun seketika hanya ingin menepuk dada karena sakitnya tak terhindar. Merasakan apa yang dilalui selama ini terjawab yaitu sia-sia. Bayangan yang selama ini masih memiliki harapan atas do'a sirna. Diam kini memang diam bahkan mati dan selesai.
Benar "cinta memberi kekuatan"
Salah "cinta akan berujung bahagia"

Setelah sakit yang sedemikian rupa anehnya...

Benar

"cinta akan rela melepaskan demi dia yang dicintainya"

Karena perempuan tak egois. Karena yang dipilihnya diam, yang dari awal memiliki risiko tersendiri. Dan jika benar terjadi maka yang harus dilakukan adalah menyelesaikan apa yang sudah dilakukan yaitu merelakan. Maka jika sudah berujung seperti itu maka memulai sendiri jadi menyembuhkan sendiri. Yang ada adalah jika ini bahagia untukmu maka aku rela. Aku bahagia jika kau bahagia.
Ada memang yang tak setuju tapi bagiku pribadi benar pernyataan tersebut. Bagiku ketulusan cinta ada disitu. Setulusnya cinta adalah tidak memaksakan perasaan atas rasanya. Buka pasrah tapi tulus. Karena bahagia seseorang bukan karena dipaksa atau memaksa untuk mencintai.

Jadi, cinta dalam diam yang dapat aku simpulkan ialah nitiri tresno. Atau mendampingi cinta.

Nb: ini adalah pandangan dari sisi perempuan. Jika memang ada yang tidak setuju silah saja, karena jelas sudut pandang itu berbeda setiap orang. 😁

Minggu, 29 Oktober 2017

Menghilang

Ternyata memang menghilang menjadi solusi terbaik untuk mengurangi perasaan ini. Karena dengn menghilang itu juga sedikit demi sedikit menghapus jejakmu.

Semoga langkah ini menjadi jalan terbaik bagiku, terutama bagimu.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Satu Lingkaran

Dunia kita sama
Bumi kita juga masih sama, aku masih berpijak di tanah dengan gaya gravitasi sehingga masih tegak jalanku. Begitupun kamu
Langit kita sama dengan segala bintang, bulan, matahari serta awan. Hanya saja awan yang kita lihat berbeda

Tiada apalagi yang perlu aku inginkan lagi dengan segala kesamaan itu
Oh iya, tapi kali ini berbeda. Dari sekian persamaan aku merasa "satu lingkaran" ini membuatku dapat lebih merasakan bahagia.
Berada di Bumi dan memandang Langit yang sama, tapi sekarang aku berada di lingkunganmu. Itulah mengapa aku sebut dengan itu (judul)

Rasanya aneh, tapi menggelitik menciptakan senyum di wajah yang peluh ini. Setidaknya kali ini aku merasakan udara yang sama denganmu.

Semoga kamu, iya kamu selalu dalam lindungan-Nya dan selalu bahagiaa.

Kamis, 21 September 2017

Inisial yang tak terucapkan

Hey
Aku kuberitahu sedikit, tentang aku.
Aku rasa aku memiliki sesuatu yang unik. Aku menyukai seseorang dengan cara yang menurutku unik. Meskipun jika kalian tahu, kalian sama sekali menyangkal keunikan itu melainkan menyebutnya sebagai pengecut.

Biar kucerikatan dari awal. Awal mula aku mendapatkan perasaan ini. Setelah sekian lama mengenalnya, merasa penasaran, dan pada akhirnya aku mengatakan "ya, aku menyukainya". Bukan waktu yang sebentar untukku mengakuinya. Bisa jadi sejak pertama kali aku mengenalnya terhitung 6 tahun dan pada akhirnya pada tahun ke tujuh aku akhirnya merasakan dan mengatakan bahwa aku menyukainya.

Menyukainya bukan tanpa alasan, tapi tidak terus aku memiliki paragraf yang bisa kutulis untuk menjelaskannya. Hanya saja aku pada akhirnya mengatakan menyukainya. Setelah sekian lama mengenalnya dan pada akhirnya aku bisa berkomunikasi dengannya cukup intens dan merayakan pergantian tahun beramai-ramai dengannya dan teman-temannya, disitulah rasa nyaman hadir. Dan pada akhirnya ada momen yang membuatku takluk dengan sifat dan sikapnya.

Dan entah apa yang terjadi, setelah hubungan kita begitu dekat setidaknya kita pernah menghabiskan berjam-jam mengobrol tanpa arah ditelefon sampai pesan yang saling menyemangati saat ujian atau yang lainnya sampai pada akhirnya momen itu hilang tanpa jejak. Sama sekali tak ku dengar kabar darimu bahkan ku dapat pesan darimu. Entah aku yang menarik diri atau kau yang menjauhiku. Entah apa yang salah yang ku katakan atau engkau yang menyadari kesalahanmu selama ini yaitu membiarkan aku masuk dalam hidupmu.

Dan dari situ aku menyadari bahwa kehadiranmu adalah sesuatu bagiku. Dan saat itulah aku akhirnya mengakuinya di depan teman asramaku bahwa aku menyukaimu. Hal ini mempermalukan aku yabg selama ini menyangkalnya, tapi aku tak peduli.

Menghilang dan menghilang, hari demi hari sampai pada bulan berganti tahun. Tak ada lagi sms an seperti dulu, bahkan itu sama sekali tak ada kabar dan berbagi kabar. Bahkan, untuk menghadiri reuni tiap tahun pun aku begitu takut. Takut bertemu denganmu. Takut melihatmu baik-baik saja sedangkan aku tidak. Takut mengakui bahwa semua ini hanya sepihak. Takut jika aku mendengar kedekatanmu dengan orang lain, yang memang saat ini sepertinya sedang terjadi.

Satu tahun, ku kira jika tak lagi behubungan denganmu aku bisa lupa dan bisa melanjutkan hidupku maksudku masa remaja atau masa kampusku. Tapi salah, hari demi hari justru aku merasakan bahwa rasa sukaku kepadamu tidak menghilang begitu saja. Justru semakin aku mendiamkannya justru semakin kekal dia. Lalu, memendamnya bukan hal mudah karena aku selalu melawan hatiku setiap kali aku mengingatmu. Semakin aku coba menghilangkanmu semakin aku mengingatmu lagi dan aku melawan baik pikiranku dan juga hatiku.

Setelah sekian lama, aku ingin mencoba menghubungimu. Sekalipun aku sudah menghapuskan nomermu, tetap saja. Dan lagi, aku tak sanggup mengalahkan diriku sendiri. Ku kirim pesan padamu setelah sekian lama. Sekalipun bumi membenci matahari pada musim kemarau karena panasnya membuat bumi semakin panas tapi bumi dan matahari adalah pasangan yang memang sudah dipasangkan. Bisa jadi seperti itu yang terjadi padaku. Jawabanmu atas pesanku seperti teriknya matahari, sakit karena balasanmu begitu singkat seolah tidak ada yg terjadi antara kita. Dan seperti itu ketikau benar-benar sudah kalah melawan diriku dan akhirnya menghubungimu.

Begitu terus sekalipun aku selalu merasa sakit setiap akhirnya. Anehnya sama sekali perasaanku tak berubah.
Sekalipun aku sudah meyakinkan bahwa yang ku rasakan dulu hanyalah sepihak dan kebaperanku. Lagi-lagi aku melawan diriku akan kenyataan itu.

Tahun pertama berjalan, sampai saat ini tahun pertama pula aku menyandang status baru yang bukan mahasiswa lagi. Bayanganmu semakin nyata dan kuat, sekalipun kesadaranku semakin kuat bahwa ada batas yang besar yang tidak sanggup aku lewati untuk sekedar terlihat olehmu. Anehnya perasaanku tidak sama sekali berubah.
Sekali aku mencoba menyukai seseorang yang memang sesuai tipeku, nyatanya aku menjadikannya sebagai pelipur dan penghibur teman-temanku. Aku bilang aku mengaguminya dan aku bisa tertawa seperti jatuh cinta padanya, tapi apa jauh di dalam hatiku sama sekali namanya pun bayangannya tak menggetarkan hatiku. Jauh berbeda saat aku memikirkanmu, bahkan aku ingin menangis setiap kali mengingatmu. Hanya keputus asaan yang ada saat ingatmu.

Beberapa masukan dari teman-temanku yang mengetahui ceritaku, mereka menyarankan agar aku menghubungimu dan mengatakan semuanya, menyatakan setidaknya agar kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini. Tapi lagi-lagi aku menampik solusi itu.

Di dalam pikiranku mengatakan, lebih baik aku menahannya sekalipun berat tapi aku bisa menjaga hubungan baik denganmu sekalipun sekedar berbincang saat reuni dan aku tidak perlu sungkan untuk datang reuni. Berbeda jika aku menyatakan seperti saran teman-temanku, bisa jadi aku selamanya tidak bisa memunculkan hidungku didepanmu karena begitu malu pun ketidaksiapanku jika kamu akan semakin menjauh dan menarik diri dariku. Sudah cukup kau menarik diriku sampai pasa titik sekarang.

Dan aku manyatakan lagi, bahwa sampai sekarang tidak ada yang berubah. Entah sampai kapan. Aku juga tak sabar menunggu saat itu. Saat aku bisa merasakan bahagia menyukai orang yang menyukaiku. Tapi di sisi lain aku mengkhawatirkan diriku jika aku tetap seperti ini dan hatiku semakin beku.
Ingin rasanya aku bertemu denganmu, aku ingin menceritakan sesuatu. Aku ingin berkeluh denganmu meskipun itu sangat tidak masuk akal. Tapi itu yang sangat aku ingin. Aku jarang sekali ingin berkeluh jika kau tahu. Berkeluh hal-hal yang selama ini hanya bisa ku simpan sendiri.

Aku ingin mengatakan banyak hal, saking banyaknya aku bingung bagaimana aku harus menyampaikan satu per satu disini.

Oya, aku sama sekali membenci jika bayangan ini muncul. Bayangan bahwa aku menyadari hidupmu yang selalh berputar dan terus berjalan setiap satuan waktu. Aku membenci jika aku membayangkan pada akhirnya kau menemukan seseorang yang kau sukai, orang yang bisa membuatmu nyaman dan pada akhirnya kau memutuskan untuk bersamanya. Aku merasa sangat sesak jika bayangan itu muncul, namun aku juga meraaa lega pun bahagia. Lega pada akhirnya aku tahu apa yg membuatmu bahagia, aku tahu bagaimana dia yang bisa menaklukanmu sehingga aku bisa menilai kurangnya dan tidak pantasnya aku untukmu, bahagia karena pada akhirnya aku merasa tidak menjadi hal buruk dalam hidupmu jika kemungkinan kau memilihku. Aku memang bukan hal yang baik seperti hal yang selama ini kau lakukan dan jalankan.

Merasa sedih jika aku melihat betapa positif dan hidupnya hidupmu sampai saat ini dibandingkan denganku. Sedih karena memang begitu banyak perbedaan antara kita, bisa jadi karena aku yang terjebak terlalu dalam atau aku yang hanya diam tanpa berusaha menyelamatkan diri atau malah kau yang begitu gesit dan hebat menjalani semua ini.

Pernah aku waktu itu berada dalam kereta menuju jakarta, tiba-tiba pikiranku kalut dalam diskusi di alam bawah sadarku. Memikirkan hal-hal tentangku dan tantangmu. Memang banyak perbedaan, sehingga aku mengatakan terlalu jahat jika aku menarikmu dalam kerumitan hidupku. Hidup yang berat, berliku, dan tidak pasti. Hidupku sudah sangat baik sampai saat ini, dan kau yang sangat jauh berbeda dalam menjalani hidup dariku. Di saat itu aku merasakan aku begitu lega akhirnya kita berakhir seperti ini: tidak dekat lagi. Aku merasa begitu ikhlas jika kau bahagia dengan orang yang setidaknya aama seperti dirimu, karena pasti akan sangat membahagiakan hidup bersama dengan orang yg seperti itu. Memikirkannya membuatku tersenyum, dan tanpa ku sadari air mataku menetes. Jika orang melihatku pasti mereka berpikir aku frustasi.

Benar yang pernah aku baca, akan bahagia jika melihat orang yang kita sayang bahagia. Itu yang aku rasakan. Dan sampai saat ini kalimat itu yang selalu aku gunakan jika aku sedang mengingatmu dan rasa sukaku muncul. Aku tidak begitu baik untuk bisa membuatmu bahagia.

Geli rasanya, tak tahu diri rasanya. Berani sekali aku mengatakannya. Padahal aku siapa. Membayangkan apakah kau mengingat kedekatan kita malah membuatku semakin tak punya harga diri. Semakin aku menyukaimu semakin aku melukai harga diriku sendiri. Tapi anehnya, aku tak peduli itu. Alih2 kau mengingat kedekatan kita dulu, mengingatku saja aku pikir sama sekali tidak pernah terjadi.

__
Itulah unik yang aku maksud. Jika penilaian kalian berbeda aku raaa kalian benar. Bukan unik yg seharusnya melainkan bodoh.
Jika ada hamster yg suka berlari di roda putarnya, itu aku. Sudah berlari sekian lama tapi masih saja di titik yang sama. Hanya berputar di roda putar saja. Hanya sesekali berhenti untuk beristirahat sejenak.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Delete soon

Malam, maaf lagi-lagi kau menjadi subjek yang ku sebut entah untuk yang keberapa kali.
Saat yang sama dengan momen yang sama dengan sebelumnya, dimana jika tangan ini mulai lihai menari di atas tuts hp atau imaji ini melalang merangkai berjuta kata itu berarti sama aku sedang ada beberapa atau bahkan banyak pikiran. Dan maaf malam kau menjadi kelabuhanku.
Biar saja engkau yg jadi pelabuhan atau bandara, yang jelas ku jaga engkau malam teman sejati dan terbaikku sampai saat ini.

Malam ini aku memiliki sedikit masalah dengan kesehatanku. Otakku kelu dan kemudian sampailah aku disini.
Beberapa sosial media yang biasanya menjadi hal menarik kini lagi-lagi mulai membosankan dan menyakitkan. Beberapa dari mereka (read: keluarga) menghubungiku. Aku tak menjawab.

Kepalaku mulai sakit dan semakin terasa sakitnya. Aku bukan ingin kabur. Aku hanya ingin kabur (lagi-lagi) malam ini, tapi aku khawatirkan diri ini.

Sesaat aku memikirkan apa yang sedang terjadi pada diriku. Apa yang telah aku lalui sampai aku harus merasa se-frustasi ini. Lantas apa yang sudah aku berikan sampai aku harus berontak? Pertanyaan demi pertanyaan semakin membuatku pening.

Notifikasi di hp ku lagi-lagi muncul nama. Iya, mama mengirimku pesan. Aku hanya menghela nafas, membuangnya seolah begitu berat.

Lagi-lagi aku bertanya apa salah Beliau? Pantaskah ku melakukan itu?




Seperti setrika, kesana kemari. Seperti angkot, kesana kemari. Seperti hal yang dilakukan terulang-ulang.

Bingung.
Pening.
Sakit.

Bukan kecewa.
Tidak putus asa.
Tidak sedih.
Bukan lapar.
Bukan ingin menangis.

Hanya saja, hanya.

Sebuah pertanyaan dari pesan yang baru ku terima. Semakin membuatku malas.
Sedetik aku berfikir. Aku hanya ingin mencari sebuah pelabuhan meski hanya sebentar.
Tempat berlabuh yang tak begitu ramai, tak perlu mewah, atau tak perlu rapih. Hanya tenang dan sebentar saja. Tak banyak suara. Perlu sedikit tepukan di pundak yang menyatakan, kau sudah melakukan yang terbaik. Hanya dengan senyum dan itu saja. Tak lebih. Tak banyak pertanyaan. Biar saja aku yg ceritakan jika aku berkenan.

Hanya ingin duduk dan ditemani. Hanya duduk saja. Biarkan nantinya aku sibuk dan bingung dengan segala kebingunganku sampai aku menyatakan mari kita bicara.

Masih pening.

Kamis, 03 Agustus 2017

Hey Malam (Crazy_Time)



Kepada malam yang baru saja tiba. Kepada siang yang telah menghilang. Hmmmmmmm, bahkan aku tak dapat menyaksikan semburat senja di ufuk barat. Setidaknya menyapanya dengan sepercik senyum untuk menutup hari yang masih sama. Ku tarik nafasku dalam-dalam, ku pandangi langit yang menggelap. Ku telusur kata demi kata yang terngiang di dalam otakku. Sepertinya mereka merangkai sebuah kalimat dengan subuah pemahaman. Lantas aku melihat kembali sekelilingku. Banyak sekali makhluk hidup. Yah, sederhana dan sangat logika jika kita membicarakan tentang makhluk hidup. Menururtku, ada hal yang menarik dibanding mempelajari apa itu makhluk hidup dan segala urusan dan pengertian fisiknya. Aku sendiri terbelalak dengan segala yang terjadi dan apa yang ada pada diriku. Terlebih lagi dengan segala pemikiran dan pemahaman. Tentang pelajaran dan semua kenangan atas kejadian-kejadian yang terjadi. Bicaraku mulai ngelantur. Malam mulai mengajakku berbincang. Ia bertanya dan ingin mendengarkan cerita bagaimana hariku. Sayang malam begitu emosional dan sangat paham tentang hal ini. Sensitif dan sangat nyaman, namun tak berguna karena ia malah akan membuatku semakin masuk ke dalam bujukan keburaman. Aku layangkan senyum saja, tanda hormatku atas segala pengertiannya. Aku tetap menjalani hariku. Namun, aku berhenti. Aku tak bisa meneruskan langkahku. Duduk dan ku pandangi malam. Ku pandangi malam hingga lekuk per lekuknya. Sangat indah, dan begitu nyaman. Dan akhirnya aku tenggelam dengan segala keasyikan bercerita dengannya.
Maukah kalian bergabung dengan kita, J

Perbincangan dengan malam.
“Malam, apakah kau bahagia menjadi malam?”
“Apa hal yang sangat ingin kau lakukan namun tak dapat kau lakukan?”
“Apa hal yang sangat ingin kau lakukan karena kau sangat menyukai hal itu?”
“Apa hal paling membuatmu marah, bahagia, bahkan apa kau ingin sekali berteriak?”
“Setidaknya, memaki sesuatau yang sangat ingin kau maki?”
Kau benar, malam. Aku tidak sejujurnya bertanya seperti. Kau tepat, justru pertanyaan itu yang ingin aku dengar untukku.
Aku tertunduk. Hening dan diam. Mulai dingin, namun tak tegang. Aku menghela nafas lagi.
Malam paham bahwa aku mungkin lelah menajalani hari ini. Ia mendiamkanku dan menghiburku dengan tontonan yang menyejukkan. Tarian ribuan bintang. Berkelap-kelip. Aku tersadar saat angin menegurku, aku tersenyum melihat malam termenung menungguku.
Aku hanya merasa kosong. Penuh kekecewaan. Bahkan tak ada tujuan. Padahal otakku tak bodoh. Nyatanya IQ-ku berada di tingkat atas di sekolah menengah pertama. Ip-ku pun tak jelek-jelek amat. Tak perlu ku perjelas karena aku tak ingin sombong padamu (malam).
Ribuan bintang semakin menjadi-jadi kerlipannya. Aku anggap malam begitu tertarik dengan leluconku yang terakhir.
Aku ingin sekali marah, teriak, dan memaki. Aku ingin tertawa dan menangis dengan bebas. Bukan ide yang bagus untukku mengajakmu melakukan itu semua malam. Aku tidak gila, aku masih waras. Bahkan untuk saat ini aku mengajakmu ngobrol pun aku sudah merasa ada yang salah bagiku.
Haha, angin berhembus kencang dan aku sedikit kedinginan. Sepertinya ia merajuk dengan pernyataanku terakhir.
------------------------------------------------------------(the end)____________________________

Kamis, 13 Juli 2017

Kegilaan vs Kedewasaan





“Jika besar nanti aku ingin kerja jauh, jauh banget pokoknya.”
”Aku kalau sudah punya uang pengen tinggalnya di luar negeri sendirian.”
“Aku mau keluar Jawa aja, gapapa jauh dari keluarga biar mandiri.”
“Aku liburan ini ga pengen pulang. Ngapain pulang”
“Nikahnya nanti aja, kalau udah punya uang banyak baru nikah.”
“Nikahnya sama orang yang kaya, kan udah kaya juga.”
“Nikah sama Si B, soalnya udah sayang banget sama dia. Suka dari lama ga ilang-ilang sukanya.”
“Nikah sama orang kesehatan aja, ganteng, putih, bersih, ngerti kesehatan, dan pinter pula.”
Dan banyak lagi kata-kata yang dikatakan, yang secara tidak sengaja membuat orang mendengarnya menilai dan mengira bahkan mengingatnya jelas. Dan pada akhirnya ketika kata-kata itu berubah dengan fakta yang berlaku baru sadar. Itu lah pentingnya menjaga kata. Tapi tak salah karena hak seseorang untuk berkata, kebebasan seseorang untuk mengutarakan apa yang diinginkan. Bisa saja aku kataka apa yang dikatakan yang berbeda dengan realita adalah sebuah kegilaan. Kegilaan yang gila karena memang tidak menggunakan 5W+1H saat mengutarakannya. Bukankah tidak selamanya manusia mengutrakan hal-hal yang serius. Anggap saja saat anak kecil mengatakan jika ia ingin menjadi dokter atau tentara. Bukan kegilaan memang, tapi untuk seorang anak kecil yang belum mengetahui apa saja profesi yang ada dan terbatasnya ilmunya dengan mudah mengatakan keinginannya itu. Lantas, mengapa aku menyebutnya kegilaan. Karena disini kita diposisikan pada kondisi dimana kita tak lagi menjadi anak kecil, kita tak lagi polos tanpa mengetahui dunia seperti apa. Kita mengetahui kondisi, latar belakang, dan ilmu bahkan kehidupan kita yang telah kita jalani, maka jika dengan kata-kata yang tadi bisalah dikatakan kegilaan. Hampir sama dengan hal yang sulit dicapai atau mustahil tapi tetap berbeda maknanya. Bingung? Bisa saja, karena memang membingungkan. Ayolah boy, ini bukan tentang ilmiah yang harus menggunakan bukti atau sitasi. Ini adalah tentang kelincahan otakku yang seiring berjalannya hidup seiring mencari arti dan nilai hidup. Menerjemahkan setiap emosidan keadaan, bahkan saat angin dan hujan membentuk cerita yang tak terlihat oleh manusia normal atau bahkan cerita yang setiap orang menerjrmahkan dalam bahasanya sendiri.
Lantas saat realita berbeda dengan kegilaan yang ada, dan saat kesadaran diri menyebut semua itu kegilaan fasenya berubah dan meningkat menjadi sebuah kedewasaan. Saat dimana dapat menilai hal menjadi lebih logis dan normal dan dapat diterima dengan nalar setiap orang.

Senin, 03 Juli 2017

Yang Ku Pelajari dari Ombak

Seperti ombak yang (seolah) mendekat. Mengejar bak mendekat, tapi belari menjauh lagi. Itulah ombak, selayaknya ombak. Mendekat dan menjauh, bukan mendekatimu pun menjauhimu. Hanya itulah ombak. Kau tak perlu lari, kau tak perlu mengejarnya. Hanya cukup diam pun dengan hatimu. Jangan ada baper dengan ombak.
Dan ombak itu dan engkau itu, tidak ada ada yg berubah tentangmu kepadaku hanya dari sudutku saja yang menyeolahkannya. Itulah kau, selayaknya kau.

Jumat, 09 Juni 2017

Ruang di Kepala

Tahukah kalian hotel? Sebuah bangunan yang memiliki banyak ruangan yang disebut kamar.
Lalu, tahukah kalian sekolahan. Sebuah bangunan yang sama-sama memiliki banyak ruangan yang disebut ruang kelas.

Baru-baru ini aku menyadari ternyata semakin mendekati umur yang "banyak" semakin paham tentang hidup dengan segala macam rupa yang terjadi didalamnya. Semakin banyak tekanan yang dihadapi, semakin banyak kejadian yang dialami, pun semakin banyak orang dan segala hal yang ditemui membuatku (read: mewajibkanku) untuk mengikuti segalanya itu. Mulai dari sikap dan sifat, maksudnya bagaimana kita menyikapi semua itu dan pada akhirnya akan membentuk sifat kita.
Warna hidup ya memang seperti warna yang ada di kehidupan, namun dirasakannya dalam hal suka, senang, sedih, kecewa, marah, dsb.

Poin penting dari yang saya temui dalam perjalanan hidup kali ini adalah saya seperti menemukan berbagai ruangan dalam otak saya. Dimana berbagai ruang dengan segala keriuh redaman. Ruang yang ramai dan sepi yang tidak dapat diperkirakan.

Ada saat momen redamnya terasa, di saat kepala begitu pening karena hampir semua ruangan penuh dengan hal yang dipikirkan. Sampai begitu terasa sekalipun menjelang tidur, seperti ramainya tak mengijinkan tidur kita ditemani mimpi indah dengan segala ceritanya namun terselip beberapa pikiran dari beberapa ramainya ruangan dalan kepala.

Tidak mengeluh melainkan merasakan bahwa begitu indah hidup dengan segala hal yang ada. Segala hal yang tak terdeteksi panas dinginnya. Segala hal yang selalu memiliki jalan keluar sekalipun awalnya teramat berat. Segala hal yang terkadang membuat kita menghela nafas. Segala hal yang terkadang sampai tak dapat diucapkan dengan kata. Segala hal yang membuat kelu lidah. Segala hal yang membuat momen hanya bisa diam dan mengamati. Segala hal yang sangat membuat semangat dan berwarna. Dan banyak segala hal dengan ke-spesifik-an masing-masing.

Begitu yang aku rasakan. Ruang di kepalaku pernah mengalami berat dan bahagianya hidup. Aku rasa akan banyak hal yang akan aku lalui baik itu yang membuat bahagia, sedih, dan bekerja keras. Yang terjelas ruang di kepalaku sekalipun itu sangat penuh mereka memang bekerja dengan setepatnya.

Tambah Satu

Jika luka itu membawa bekas, saya setuju kali ini. Selain luka pada saat terluka maupun bekas yg ditinggalnya. Beberapa saat mungkin itu tidak masalah, namun jika dirasakan bekas tadi itu mengganggu bahkan membawa trauma. Benar sekali, trauma.
Bukan salah luka itu, namun salah dari diri kita sendiri mengapa harus terluka. Dan jika setiap hari berisiko membawa luka maka alangkah lebih baik jika untuk lebih berhati-hati.

Kamis, 04 Mei 2017

Tata Surya

Lidah tidak bertulang, salah terlalu bersandar pada sebatang lidi

Istilah yang tepat mungkin untuk suatu kejadian lagi-lagi memberiku pelajaran. Pelajaran yang tidak patut diremehkan. Namun menambah kepastian yang tidak begitu baik. Hipotesis tetap hipotesis, namun bukti membuatnya teruji meskipun hanya dengan satu dua fakta.

Maka dari itu, jangan ada kata-kata kalau besok, sepertinya bakal seperti ini dan itu, kayaknya kita bakal seperti ini sampai lama deh kalau tidak ada kesadaran untuk memegangnya. Menggunakan manusia lumrah berkata lantas melupakan itu tidak lebih lebih rendah dari sesamanya. Karena tahu maka dari itu mestinya sadar bahwa kekuatan kata dari lidah begitu penting, so hati-hati laah. Dan juga sadar akan sifatnya sendiri tak dapat diragukan agar lebih menghargai sosialita di sekeliling. Bukan memikirkan emosi sendiri yang tenggelam karena egoisme diri.
Kombinasi keduanya, dari menjaga lidah dan sadar diri akan sangat menyenangkan menjadi seseorang. Tidak memiliki keduanya adalah buruk untuk sebuah komunikasi jangka lama. Ketidakberadaan salah satu akan membuat sedikit goncang tapi normal-normalnya manusia.

Menerima bukan hal yang mudah, seperti juga dalam hal memberi. Bukan terlalu baik, namun bagaimana mengontrol agar selalu konstan. Jika memang internal membuat dunia begitu membosankan dan juga hal yang ada di sekitar maka biarkan saja yang ada di sekitar jangan sampai mereka masuk dalam pusaran internal tadi. Alih-alih itu jika sanggup maka sapalah salah satu yang melintas atau diam membisu bukan malah menebar garam atau lem yang menjebak.
Sadar memang internal adalah masalah tak terpelikkan, namun bukan hak meraka mendapatkan apa yg tidak mereka ketahui. Dan jika emosi karena ego tadi masuk ke dalam internal dan membaur sehingga menyeret sebuah permasalahan, bukan salah siapa-siapa jika murka yang terseret. Jika ego ada dipihaknya maka ego pun ada di pihak manapun.

Sepertinya yang dirasakan oleh terseret ini adalah serius, karena memang sulit untuk menerima bahwa kenyataan yang dirasa digenggamnya selama ini pasir dan hanya sebanyak 1 atau 2 butir lagi. Pasir yang selama ini diperjuangkan untum dilepaa dari awal atau dijaga. Nampaknya usaha untuk dijaga selama ini sia-sia karena pasir tetap pasir yang banyak dan lepas dengan mudah.

Dunianya dan dunianya, bak matahari dan pluto. Bukan, namun tepatnya tata surya dan pluto. Taukah apa artinya? Benar sekali, tepat. Saat kita pelajari pluto masuk ke dalam jajaran planet yang memutari matahari. Berjalan beriringan. Kecil dan jauh namun satu ikatan. Matahari, yang memberi lebih dari siapa saja dalam tatasurya tadi. Yang menyala tanpa pernah berhenti, sedang pluto sama dengan planet lain yang menerima pantulan sinar matahari untuk muncul dan terlihat satu sama lain. Dan semua beriringan dengan sinkronnya. Namun apa yang terjadi, pluto menghilang tak lagi dalam jajaran sebelumnya. Keberadaannya tak menentu, digadang-gadang masih tetap mengitari matahari namun hanya keluar dari lintasannya dan juga terkadang terlihat terkadang tidak.

Lucu memang, karena sering nyaris sama dan bisa saja dibuat cerita.

Bersatu teguh, bercerai runtuh. Iya sebuah peribahasa yang terkenal dari kecil. Memang tangguh sapu, dan berguna. Namun satuan darinya adalah lidi. Lantas apa? Iyaps, runtuh. Runtuh lidi yang hanya satuan lalu disandari.

Salah si penyandar, bersandar pada sebatang lidi. Sudah tahu lidi tak sekuat sapu. Tapi apa daya, lidi yang dipercaya kuatnya melebihi sapu namun ternyata kepercayaannya salah. Lucu memang,,,

Kosong

Kosong

Jumat, 28 April 2017

Pudar

Hey lawan, tahukah kalian apa yang sebenarnya terjadi saat matahari terbit. Selain nampak cahaya fajar yang menyejukkan dan kehangatan yang mengusir embun pagi? Pun hilangnya lolongan katak sawah atau nyanyian burung hantu atau keokan burung gagak malam yang digantikan dengan kicauan burung-burung jalak atau deruan mesin para pedagang-pedagang? Sungguh indah suasana pagi jika dibayangkan, teramat nikmat saat kita melihatnya dan merasakannya langsung di tengah hamparan padi yang mulai lebat daunnya dan mulai semburat padi-padi yang menyenangkan para petani.

Namun, di sisi lain ada sedih dibalik suka. Benar sekali, keindahan pagi itu tak lain memudarkan malam indah yang penuh bintang. Suasana yang sakral untuk memahami arti hidup lebih khidmat. Menikmati damai hari setelah bekerja seharian. Dan menikmati pertunjukan yang sangat indah dari jutaan bintang bahkan milyaran dan tidak terhingga. Begitulah pagi yang menggantikan malam.

Dan seperti itulah singkatnya jalan hidup yang lagi-lagi baru aku ketahui. Dari pengalaman menjadikan pelajaran. Dari kebahagiaan kita menjadi memahami bagaimana sedih itu, dari kesedihan kita seharusnya memahami arti penting dari sebuah senyuman dan tawaan.
Dan seperti malam yang selama ini aku lalui, terlalu banyak bintang yang aku sapa, terlalu hanyut aku dalam khidmat damainya malam, terlalu aku bergembira tertawa dan gembira dengan kunang-kunang malam, terlalu senang aku dengan gelap yang ada pada malam, hingga aku tidak menyadari bagaimana pagi datang dan melenyapkan malam yang indah. Bukan aku menyalahkan malam, tapi aku yang salah. Aku terlalu hanyut seperti aku melupakan sedih sedangkan aku dalam senang. Aku terlalu lama berendam dalam senang sampai akhirnya kini aku baru tahu bagaimana sedih pun sebaliknya.

Dan lagi, aku tidak tahu bagaimana indahnya siang sehingga kelabakannya aku melihat keindahan mentari. Merasa sepi saat ditinggalkan malam padahal malan dan siang adalah berpasangan dan berdampingan dan tidak terpisahkan.
Merasakan betapa menyesal saat aku menyadari aku begitu bodoh mengartikan hidup hanya pada satu sisi yaitu senang.


-dan seperti bintang, kunang-kunang, damainya malam, bulan, serta teman-teman malamku yang lain yang meredup karena datangnya pagi. Bukan kalian yang salah, bukan matahari yang salah, yang salah adalah aku karena tidak menjadikan kalian satu melainkan terpisahkan. Saat ini aku rasa pagi mulai datang di antara kita, dan saatnya kita (aku) mencari dan mengartikan arti hari yanh dibawa mentari. Banyak hal menyenangkan dengan berbagai hal pada malam tapi bukan kehendakku menghentikan hari-

Dan kepadamu malam yang pudar oleh siang, hati-hati dan terima kasih. Karena kita hanya terpisah dalam 12 jam, bukan dalam dunia yang berbeda.

Rabu, 05 April 2017

Aku ingin

Ma, kusampaikan pada malam
Malam yang ditemani gerimis dan bulan setengah bulat
Ma, kutitipkan bisikan ini kepada angin malam ini
Semoga gemercik daun terhembus angin menyampaikan bisikanku kepadamu
Rindu ini, dan rasa kasih ini
Ma, bisikan ini hanya kesah keluhku
Ma, aku ingin menangis
Hanya ingin menangis didepanmu
Sampai aku memeluk dan akhirnya terlelap dalam belaianmu
Biarkan aku menjadi kecil lagi,
Menuturkan segala cerita hidup yang aku alamu
Sampai pada akhirnya aku lelah dan tertidur
Dan kusambut pagi dengan berteman mimpi indah atas kenyamananmu

Kepadamu Ma, aku ingin menangis

Jumat, 31 Maret 2017

WTF with 13

Hey you,,,
Baru sadar kalau something special with 13. Iyaps, ga nyangka aja si yang berkelut di sekitar membentuk 13 entah dari mana asalnya. Yang kita ketahui 13 adalah angka horor or mistis yang kalau di hotel terkadang nomer ini ditiadakan tapi disini aku seperti tak lepas dari angka 13. Mulai dari tahun kelulusanku di sma dan tahun masuk kuliahku yang menjadi tahun angkatanku yaitu tahun 2013 atau sering disebut angkatan 13. Kemudian kosan yang aku tempati dari awal keluar asrama sampai sekarang ternyata jumlahnya ada 13 kamar and yups benar sekali kamar nomer 13 disamarkan dan diganti dengan nomer 14 biar kesannya ga horor atau mistis. Lanjut lagi, kalau bola punya atau sering dikatakan sebagai kesebelasan aku dan kawan2 menyebut kami sebagai ke-13-an. What the piip,
And ga nyangkanya lagi jumlah penghuni kosan yang notabennya ada 2 kamar kosong dan alhasil jumlah total yang menghuni ada 13 karena ada 2 kamar diisi 2, yah kebetulan yang pas si menurutku meskipun seharusnya ada 14 orang tapi sobat kami sudah berpulang terlebih dahulu.
Meskipun ini hanya kebetulan menurutku 13 jadi angka unik tersendiri pastinya setelah ini. Dan banyak cerita pastinya yang saya rasakan dan saya temui saat ini dari dulu dan sampai suatu saat nanti.
So, meskipun gajelas tapi paling ngga sudah terlampiaskan rasa kebetulan ini.
Anyeong.....

Sabtu, 25 Maret 2017

Tulisan yang Merindu Jawaban

Teruntuk diriku yang entah dimana, pun entah kapan kau akan membaca tulisan ini. aku bisikkan sepercik cerita bagaimana kondisimu saat ini. Bagaimana kau sedang berada dalam pemikiran yang tak kunjung reda. Hal yang entah apa berputar-putar di kepalamu ini. Jika kau mau membantu, datanglah kemari saat kau berada di rumah tua dengan biaya 2 juta tiap tahunnya yang mesti kau keluarkan untuk membayar sewa. Datanglah kemari saat kau berada dalam kondisi tak dapat berbuat apa-apa. Datanglah dan hiburlah dirimu ini. 
Tapi tunggu sebentar, keegoisanmu ini mulai terlihat bukan. Antusiasmu ini mengalahkan nalar dan mencerminkan betapa frustasinya kau dalam menjalani hidup ini. mestinya aku menanyai dulu apa kabarmu. Bagaimana kondisimu? Pantaskah aku meminta bantuanmu saat aku tak mengetahui kondisimu yang tak diketahui apakah kau hidup bahagia, mapan, dan penuh kebahagiaan? Atau malah kau dalam keadaan yang tak dapat tersebutkan karena begitu merintihnya kondisimu.
Maafku atas segala kelancangan yang aku perbuat. Mestinya aku lebih mengerti dan memahami yang terjadi. Aku lah yang seharusnya menghibur dirimu entah dalam keadan seperti apa dirimu. Bagaimanapun akulah yang akan menentukan kondisimu pada akhirnya. Maka satu hal yang akan aku katakan padamu. Entah kapan kau akan membaca dan menemukan tulisan ini, bahkan dalam kondisimu yang sekarang kau harus membalasnya suatu saat nanti. Entah ucapan terima kasih atau malah cacian karena seperti yang sudah aku katakan, akulah yang menentukan kondisimu. Maka akan aku tunggu balasanmu suatu saat nanti. Aku akan terima segala yang akan kau berikan padaku, karena bagiku pujian atau makian aku akan bahagia setidaknya kita masih bisa saling menyapa tanpa saling melupakan dan meninggalkan meski kita penuh dendam dan dendam.
Yang terjelas untukmu di masa yang entah kapan, aku akan mempersembahkan yang terbaik. Apabila itu berhasil, aku tidak ingin hadiah. Yang aku ingin kau harus tetap mengingatku. Mengingat betapa berat hidup yang kau jalani saat ini (aku). Tapi aku tidak ingin mengeluh padamu karena aku yakin aku adalah perempuan terkuat di dunia ini. jika kau tidak terima dengan pernyataanku, maka buktikanlah kau bisa menandingi kekuatanku. Tunjukkan....
Selamat dan salam untukku di masa yang entah kapan. Aku bangga padamu dan peduli padamu.

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...