Sabtu, 19 Agustus 2017

Delete soon

Malam, maaf lagi-lagi kau menjadi subjek yang ku sebut entah untuk yang keberapa kali.
Saat yang sama dengan momen yang sama dengan sebelumnya, dimana jika tangan ini mulai lihai menari di atas tuts hp atau imaji ini melalang merangkai berjuta kata itu berarti sama aku sedang ada beberapa atau bahkan banyak pikiran. Dan maaf malam kau menjadi kelabuhanku.
Biar saja engkau yg jadi pelabuhan atau bandara, yang jelas ku jaga engkau malam teman sejati dan terbaikku sampai saat ini.

Malam ini aku memiliki sedikit masalah dengan kesehatanku. Otakku kelu dan kemudian sampailah aku disini.
Beberapa sosial media yang biasanya menjadi hal menarik kini lagi-lagi mulai membosankan dan menyakitkan. Beberapa dari mereka (read: keluarga) menghubungiku. Aku tak menjawab.

Kepalaku mulai sakit dan semakin terasa sakitnya. Aku bukan ingin kabur. Aku hanya ingin kabur (lagi-lagi) malam ini, tapi aku khawatirkan diri ini.

Sesaat aku memikirkan apa yang sedang terjadi pada diriku. Apa yang telah aku lalui sampai aku harus merasa se-frustasi ini. Lantas apa yang sudah aku berikan sampai aku harus berontak? Pertanyaan demi pertanyaan semakin membuatku pening.

Notifikasi di hp ku lagi-lagi muncul nama. Iya, mama mengirimku pesan. Aku hanya menghela nafas, membuangnya seolah begitu berat.

Lagi-lagi aku bertanya apa salah Beliau? Pantaskah ku melakukan itu?




Seperti setrika, kesana kemari. Seperti angkot, kesana kemari. Seperti hal yang dilakukan terulang-ulang.

Bingung.
Pening.
Sakit.

Bukan kecewa.
Tidak putus asa.
Tidak sedih.
Bukan lapar.
Bukan ingin menangis.

Hanya saja, hanya.

Sebuah pertanyaan dari pesan yang baru ku terima. Semakin membuatku malas.
Sedetik aku berfikir. Aku hanya ingin mencari sebuah pelabuhan meski hanya sebentar.
Tempat berlabuh yang tak begitu ramai, tak perlu mewah, atau tak perlu rapih. Hanya tenang dan sebentar saja. Tak banyak suara. Perlu sedikit tepukan di pundak yang menyatakan, kau sudah melakukan yang terbaik. Hanya dengan senyum dan itu saja. Tak lebih. Tak banyak pertanyaan. Biar saja aku yg ceritakan jika aku berkenan.

Hanya ingin duduk dan ditemani. Hanya duduk saja. Biarkan nantinya aku sibuk dan bingung dengan segala kebingunganku sampai aku menyatakan mari kita bicara.

Masih pening.

Kamis, 03 Agustus 2017

Hey Malam (Crazy_Time)



Kepada malam yang baru saja tiba. Kepada siang yang telah menghilang. Hmmmmmmm, bahkan aku tak dapat menyaksikan semburat senja di ufuk barat. Setidaknya menyapanya dengan sepercik senyum untuk menutup hari yang masih sama. Ku tarik nafasku dalam-dalam, ku pandangi langit yang menggelap. Ku telusur kata demi kata yang terngiang di dalam otakku. Sepertinya mereka merangkai sebuah kalimat dengan subuah pemahaman. Lantas aku melihat kembali sekelilingku. Banyak sekali makhluk hidup. Yah, sederhana dan sangat logika jika kita membicarakan tentang makhluk hidup. Menururtku, ada hal yang menarik dibanding mempelajari apa itu makhluk hidup dan segala urusan dan pengertian fisiknya. Aku sendiri terbelalak dengan segala yang terjadi dan apa yang ada pada diriku. Terlebih lagi dengan segala pemikiran dan pemahaman. Tentang pelajaran dan semua kenangan atas kejadian-kejadian yang terjadi. Bicaraku mulai ngelantur. Malam mulai mengajakku berbincang. Ia bertanya dan ingin mendengarkan cerita bagaimana hariku. Sayang malam begitu emosional dan sangat paham tentang hal ini. Sensitif dan sangat nyaman, namun tak berguna karena ia malah akan membuatku semakin masuk ke dalam bujukan keburaman. Aku layangkan senyum saja, tanda hormatku atas segala pengertiannya. Aku tetap menjalani hariku. Namun, aku berhenti. Aku tak bisa meneruskan langkahku. Duduk dan ku pandangi malam. Ku pandangi malam hingga lekuk per lekuknya. Sangat indah, dan begitu nyaman. Dan akhirnya aku tenggelam dengan segala keasyikan bercerita dengannya.
Maukah kalian bergabung dengan kita, J

Perbincangan dengan malam.
“Malam, apakah kau bahagia menjadi malam?”
“Apa hal yang sangat ingin kau lakukan namun tak dapat kau lakukan?”
“Apa hal yang sangat ingin kau lakukan karena kau sangat menyukai hal itu?”
“Apa hal paling membuatmu marah, bahagia, bahkan apa kau ingin sekali berteriak?”
“Setidaknya, memaki sesuatau yang sangat ingin kau maki?”
Kau benar, malam. Aku tidak sejujurnya bertanya seperti. Kau tepat, justru pertanyaan itu yang ingin aku dengar untukku.
Aku tertunduk. Hening dan diam. Mulai dingin, namun tak tegang. Aku menghela nafas lagi.
Malam paham bahwa aku mungkin lelah menajalani hari ini. Ia mendiamkanku dan menghiburku dengan tontonan yang menyejukkan. Tarian ribuan bintang. Berkelap-kelip. Aku tersadar saat angin menegurku, aku tersenyum melihat malam termenung menungguku.
Aku hanya merasa kosong. Penuh kekecewaan. Bahkan tak ada tujuan. Padahal otakku tak bodoh. Nyatanya IQ-ku berada di tingkat atas di sekolah menengah pertama. Ip-ku pun tak jelek-jelek amat. Tak perlu ku perjelas karena aku tak ingin sombong padamu (malam).
Ribuan bintang semakin menjadi-jadi kerlipannya. Aku anggap malam begitu tertarik dengan leluconku yang terakhir.
Aku ingin sekali marah, teriak, dan memaki. Aku ingin tertawa dan menangis dengan bebas. Bukan ide yang bagus untukku mengajakmu melakukan itu semua malam. Aku tidak gila, aku masih waras. Bahkan untuk saat ini aku mengajakmu ngobrol pun aku sudah merasa ada yang salah bagiku.
Haha, angin berhembus kencang dan aku sedikit kedinginan. Sepertinya ia merajuk dengan pernyataanku terakhir.
------------------------------------------------------------(the end)____________________________

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...