Jumat, 31 Maret 2017

WTF with 13

Hey you,,,
Baru sadar kalau something special with 13. Iyaps, ga nyangka aja si yang berkelut di sekitar membentuk 13 entah dari mana asalnya. Yang kita ketahui 13 adalah angka horor or mistis yang kalau di hotel terkadang nomer ini ditiadakan tapi disini aku seperti tak lepas dari angka 13. Mulai dari tahun kelulusanku di sma dan tahun masuk kuliahku yang menjadi tahun angkatanku yaitu tahun 2013 atau sering disebut angkatan 13. Kemudian kosan yang aku tempati dari awal keluar asrama sampai sekarang ternyata jumlahnya ada 13 kamar and yups benar sekali kamar nomer 13 disamarkan dan diganti dengan nomer 14 biar kesannya ga horor atau mistis. Lanjut lagi, kalau bola punya atau sering dikatakan sebagai kesebelasan aku dan kawan2 menyebut kami sebagai ke-13-an. What the piip,
And ga nyangkanya lagi jumlah penghuni kosan yang notabennya ada 2 kamar kosong dan alhasil jumlah total yang menghuni ada 13 karena ada 2 kamar diisi 2, yah kebetulan yang pas si menurutku meskipun seharusnya ada 14 orang tapi sobat kami sudah berpulang terlebih dahulu.
Meskipun ini hanya kebetulan menurutku 13 jadi angka unik tersendiri pastinya setelah ini. Dan banyak cerita pastinya yang saya rasakan dan saya temui saat ini dari dulu dan sampai suatu saat nanti.
So, meskipun gajelas tapi paling ngga sudah terlampiaskan rasa kebetulan ini.
Anyeong.....

Sabtu, 25 Maret 2017

Tulisan yang Merindu Jawaban

Teruntuk diriku yang entah dimana, pun entah kapan kau akan membaca tulisan ini. aku bisikkan sepercik cerita bagaimana kondisimu saat ini. Bagaimana kau sedang berada dalam pemikiran yang tak kunjung reda. Hal yang entah apa berputar-putar di kepalamu ini. Jika kau mau membantu, datanglah kemari saat kau berada di rumah tua dengan biaya 2 juta tiap tahunnya yang mesti kau keluarkan untuk membayar sewa. Datanglah kemari saat kau berada dalam kondisi tak dapat berbuat apa-apa. Datanglah dan hiburlah dirimu ini. 
Tapi tunggu sebentar, keegoisanmu ini mulai terlihat bukan. Antusiasmu ini mengalahkan nalar dan mencerminkan betapa frustasinya kau dalam menjalani hidup ini. mestinya aku menanyai dulu apa kabarmu. Bagaimana kondisimu? Pantaskah aku meminta bantuanmu saat aku tak mengetahui kondisimu yang tak diketahui apakah kau hidup bahagia, mapan, dan penuh kebahagiaan? Atau malah kau dalam keadaan yang tak dapat tersebutkan karena begitu merintihnya kondisimu.
Maafku atas segala kelancangan yang aku perbuat. Mestinya aku lebih mengerti dan memahami yang terjadi. Aku lah yang seharusnya menghibur dirimu entah dalam keadan seperti apa dirimu. Bagaimanapun akulah yang akan menentukan kondisimu pada akhirnya. Maka satu hal yang akan aku katakan padamu. Entah kapan kau akan membaca dan menemukan tulisan ini, bahkan dalam kondisimu yang sekarang kau harus membalasnya suatu saat nanti. Entah ucapan terima kasih atau malah cacian karena seperti yang sudah aku katakan, akulah yang menentukan kondisimu. Maka akan aku tunggu balasanmu suatu saat nanti. Aku akan terima segala yang akan kau berikan padaku, karena bagiku pujian atau makian aku akan bahagia setidaknya kita masih bisa saling menyapa tanpa saling melupakan dan meninggalkan meski kita penuh dendam dan dendam.
Yang terjelas untukmu di masa yang entah kapan, aku akan mempersembahkan yang terbaik. Apabila itu berhasil, aku tidak ingin hadiah. Yang aku ingin kau harus tetap mengingatku. Mengingat betapa berat hidup yang kau jalani saat ini (aku). Tapi aku tidak ingin mengeluh padamu karena aku yakin aku adalah perempuan terkuat di dunia ini. jika kau tidak terima dengan pernyataanku, maka buktikanlah kau bisa menandingi kekuatanku. Tunjukkan....
Selamat dan salam untukku di masa yang entah kapan. Aku bangga padamu dan peduli padamu.

Senin, 13 Maret 2017

Dunia Kejam

Saat tiba-tiba kau terbangun dari segala kebenaran yang selama ini tertimbun
Muncul dan menyeruak mengagetkan dirimu
Apa yang akan kamu lakukan jika sekarang sudah kau temukan sebuah faktanya
Hanya yang beribu dan berbuyut hingga keturunan jauh pun dekat mendapat 99 dari 100
Sedangkan kau sebatang kara, 0,0000000001 bagian dari yang tersisa
Kau tersaring dari yang sudah disaring
Justru mereka lolos bagai tol
Kau terhambat dari beribu-ibu ujian hingga bernenek-kakek tahapan
Sadarkah kini, idealisme kepercayaan masa kecil yang dibangun oleh cita-cita yang suci sungguh menempuh kesulitan persis sebagai cobaan menuju sukses
Tapi kebenaran ini sungguh memilukan
Menyayat
Dan merampas jiwa seketika
Saat ini semua berlangsung, dan akan terus berlangsung sampai kapanpun tak terhenti
Maka yang bukit akan terus menjadi bukit bahkan menggunung
Tapi yang lembah semakin mendalam menjadi danau
Dan hal yang sama tak dapat berubah dengan mudah karena seperti kanker yang terus menyebar
Dimana peribahasa yang kita pelajari berlaku "kacang lupa kulitnya"
Itulah yang menjadi dasar mereka hingga beranak pinak pemikiran kotor dan pengecut
Sedang kita anak cucu alam dengan segala yang dipunya terkekeh mencari kesana kemari melihat menengok mengintip dengan penuh keputus asaan
Dimana keadilan, kesetaraan, dan dimana kejelasan dari dunia ini
Bukankah hidup itu adil?
Kau dan aku sama mengembang pendidikan,
Pun memakan hal yang sama
Tapi sungguh darah kita berbeda alirannya

Dan ribuan kata seolah tak henti ingin keluar dari otakku untuk ini
Dunia Kejam

Sabtu, 11 Maret 2017

"Apakah kamu tidak takut ditinggal sendiri?"
'Bukankah sahabat selalu berganti jika sahabat yang lain pergi'
"Tidak, saya tidak takut karena saya berkawan dengan waktu"

Suatu hari aku melihat seseorang duduk termenung sendiri, rupanya dia sedang menghakimi dirinya sendiri. Seperti tergambar pada raut dan gaya tubuhnya jika sedang ada pengadilan yang berjalan sangat panas. Dia menikmati kesendirian dengan segala kesibukan pengadilan tersebut. Sesekali dia bergerak untuk menandakan bahwa dia dalam kondisi sadar bukan sedang melamun, maksudku lebih memberi kode kepada dunia sekitarnya jika dia sedang berfikir buka melamun (ah, entah apalah itu)

Sepertinya dia menghadapi sebuah realitas yang membuat dia terjerat dalam kebingungan tanpa kepastian apa yang dapat dia ambil sebagai keputusan atau menjadikan keputusan tersebut sebagai pilihan hidupnya.
Dia bukan tipe penyendiri akut, tapi bukan sosialis sanguinis. Dia tipe banyak bicara, tapi dia pun tak dapat lepas dari julukan pendiam. Dia seperti sedang resah. Tangannya memainkan hape, beberapa foto dia bolak-balikan dengan jari di layar sebuah hp. Dia tersenyum, namun dia tiba-tiba termangu.

Beberapa kali bunyi dikeluarkan oleh benda yg dipegannya tadi. Dia tertawa, tapi lagi-lagi dia termangu juga akhirnya.

Nampak di tempat lain terdapat benda canggih dengan layar yang lebih besar dan nampak seperti buka yang terbuka sembilan puluh derajat. Dilayarnya nampak beberapa tulisan yang sangat tak langka, itu skripsi. Rupanya dia mahasiswa tingkat akhir.

Sebuah pernyataan yang menamparnya dan membuatnya manggut-manggut berfikir.
"Apakah kamu tidak takut ditinggal sendiri?"
Dia tidak takut, tapi dia seperti depresi, trauma, bukan yang jelas dia sangat amat takut. Membacanya saja dia tak ingin, seolah ingin menghapus atau merobek-robeknya. Dia begitu takutnya sampai dia cukup rumit membuat sebuah pertahanan dengan berbagai kombinasi rumus dan strategi yang sulit ditebak, kombinasi yang kokoh dan sulit untuk dirobohkan, kombinasi yang tebal dan sulit untuk dipotong atau dihancurkan. Dia seperti takut tapi tidak takut, makanya pengadilan itu sangat panas jalannya. Takut maka dengan kata lain dia harus menikmati hidup dan menjalaninya sendiri sedang perkara mental mana ada yang bisa menjalaninya sendiri karena kita manusia butuh dukungan atau perhatian dengan orang lain. Berani maka dia akan m3njadi orang luntang-lantung haha hihi kesana kemari, jiwa dan raganya sangat tidak cocok dengannya. Maka terciptalah tadi, kombinasi untuk sebuah pertahanan yang maha-maha.

Dia nampak bahagia dengan hidupnya namun dia memiliki teman yang dapat dia ajak bercerita meski kadang ceritanya hanya setetes air dalam samudra.

'Bukankah sahabat selalu berganti jika sahabat yang lain pergi'
Dia sangat setuju dengan pernyataan ini. Maka dari itu, hal ini merupakan tindak lanjut yang dia gunakan setelah sebelumnya. Setelah kombinasi yang tak terpecahkan itu maka, dia dapat meredam rasa sedih, kecewa, marah, bahagia, atau terharu akibat perpisahan yang ada. Dan dia tetap bisa hidup dalam dunianya sendiri dan siap menerima siapa-iapa yang nantinya dapat bermain dengan kombinasinya.

"Tidak, saya tidak takut karena saya berkawan dengan waktu"
Karenanya, dia adalah sahabat waktu yang terkadang malah membuatnya seperti layang-layang putus tak tahu arahnya. Namun tetap saja layang-layang terbang bersama angin, terbuang oleh angin, terombang-ambing oleh angin. Seperti sama dengannya.

Dan itu yang terlihat dan nampak dari dia. Maka aku sekarang menjadi memikirkan pernyataan yang membuatnya seperti itu.

Apakah aku terlihat seperti dia?

Karena faktanya memang sulit untuk mengatakan bahwa diri ini tak berdaya apabila sendiri. Tapi perkara jiwa menolak dan memberontak berbeda lagi. Pun nyatanya tak sulit mengatakan segala kesempurnaanmu itu kau kamu miliki. Namun, apalah arti kalau memang aku tak peduli. Kisah kita banyak, masalahku, -mu, - kita, dan - semuanya tidak sedikit. Ada rasa tenang dan senang tapi sedikit pudar atas berontak jiwa terdiskriminasi. Gejolak logika dan untaian emosi pun hati yang jujur pasti ada mengamuk dan menuding-nuding siapa yang salah dan berhak menjadi korban. Bukan, bukan masalah hati yang menjijikan melainkan masalah hati yang mencoba mencari keadilan atas kesewenang-wenangan.

Nilamu, sifat, pun karakter aku tau tapi sangat jelas tergambar dalam diriku maka dari itu ku ambil langkah seperti ini. Nyaman dan tenang, serta senang sedikit rasanya jika sudah tereliminasi oleh negatifmu menurutku dan membuatku lebih baik untuk mundur. Hey bung, sungguh orang-orang menilaimu sangat picik dan aku ingin merubah semua itu. Ingin aku membuat slide untuk menggambarkan dan membuat mereka menarik kata-kata buruk terhadapmu serta penilaianmu yang bak tuduhan tak beraga. Sungguh aku percaya kepadamu, tapi sungguh mengapa dengan begitu gampangnya semua terpacah-belah tanpa sebab pasti. Rasanya saat aku memutar logika nampak aku harus berdiri di sisi sebaliknya. Aku harus berpindah tempat terlebih dahulu serta berusaha menjadi netral bahkan bersih. Atau aku berubah haluan dari yang aku katakan sampai aku melakukan apa yang aku katakan. Yaps, menjadi kecil yang tak sesuai umur itu memang sangat lucu. Dan seperti menelan ludah sendiri itu pun terbayang menjijikkan.
Dan biarlan kali ini aku berlaku tidak seperti umurku. Biar saja aku menelan ludah yang (belum) sempat aku keluarkan jadi ya gapapa. Karena memang menjadi bahagia bak anak kecil itu sangat membahagiakan, karena bahagianya anak kecil itu sangat tulus tanpa ada kebohongan. Karena tertawanya anak kecil itu semanis madu rasa asli bukan buatan. Karena tangisannya anak kecil seperti goresan luka yang sangat perih dan menyayat hati pendengarnya. Karena muntabnya mereka seperti mendung yang membawa hujan bahkan badai petir pun kilat. Karena permintaannya seperti keinginan yang sungguh dan bukan main-main. Karena karena karena ...

Dan dewasa akan datang pada waktunya (entah kapan),

Sabtu, 04 Maret 2017

Dan malam ini, dia mengutuk dirinya sendiri di dalam ruangan yang hanya berisi dia sendiri sebagai makhluk yang bernyawa sedangkan yang lainnya benda mati alias tak bernyawa. Pikiran bolak balik memutar lurus menikung lalu terjerembab, tak menyerah usaha lagi berlari jalan merangkak jongkok berdiri dan akhirnya terguling, pun tak gentar masih berusaha mencari jalan lain diam lalu bergerak cepat kanan kiri depan belakang namun tetap alias stuck. Lalu tangan-tangannya yang berusaha kali ini lihai menari-nari di atas mesin tik seiring mata menemani dan mengoreksi kerjanya malam itu. Emosinya tak mau kalah, bahkan pada diri emosinga berkecamuk apa yang harus dilakukannya. Marah, senang, sedih, atau malah merengek kesepian kepada malam. Bodoh sekali nampaknya emosinya itu.
Malam sepi kali ini sangat dibenci olehnya, tak seperti hari-hari biasanya yang malah menjadi sahabat terbaiknya. Kali ini ia mengharapkan kedatangan temannya yaitu hujan tapi hujan bertandang di tempat lain yang entah dimana itu. Hanya dia dan ruangan dan amukan setiap-setiap yang ada dalam dirinya. Ngengat di luar bersenandung malah membuat si dia ini muntab -kata yang didapat dari novel yang baru-baru ini dibaca namun sesungguhnya sudah lama sekali ingin dibaca karena baru kali ini punya kesempatan membaca- karena merasa diolok-olok.
Padahal selama di jalan dia sibuk dengan pemikirannya, bahwa dia memiliki hipotesis yang menjadi bahan diskusinya esok. Bahwa malam begitu hangat karena ia merangkul dengan cahaya hitamnya. Mencegah cahaya-cahaya datang dan memantul pada dan kemudian nampak pada mata orang lain di sekitarnya (begitu pemahaman yang ia sangkutkan dengan teori yang didapat saat sekolah dulu yaitu bahwa mata kita bisa melihat karena pantulan dari cahaya pad benda sehingga benda tersebut terlihat oleh mata kita, begitu bangganya karena kali ini hipotesisnya memiliki dasar teori sains yang audah dikenal banyak orang).
Lantas ia merasa pelukan kegelapan itu mengisi ruang dan membuatnya penuh sesak sehingga dia tidak merasa sendiri, berbeda dengan saat siang saat cahaya memungkinkan dia menjadi lebih mudah terlihat oleh mata. Maka siang menjadi ajang dia menguatkab mentalnya.

Dia belum beranjak dari tempatnya, masih meringkuk setia menemani jari dan matanya membuat sesuatu. Bahkan saat panggilan alam mengajaknya berdiri ia tak bergeming sedikitpun walaupun itu tidak baik (alah, masih bisa kutahan ini adalah sang hati yang menyeruak dalam dirinya).
Kemudian kini saat otaknya ikut dalam perhelatan malam ini karena nampaknya dia mulai membuat pergerakan. Otaknya ingin membuat kesepakatan agar semua cepat berakhir, agar ada kesepakatan antara jari, mata, dan dia sebagai pelaku. Juga agar hati dan raganya mendapat keadilan dan tak ada yg terdeskrim.

Begitulah malam itu bagi dia. Dan semua selesai

Kepada malam dia bertanya
Kepada bulan dia sampaikan
Kepada angin dia berbicara
Kepada hujan dia berbisik
Kepada siang dia ocehkan
Kepada dirinya, kepada kasur
Kepada bantal, kepada air
Kepada dapur, dan kepada kata-kata
Kepada otak dan pikirannya
Kepada hati dan emosinya
Kepadanya dia dan hanya dia
Kepada dia, dia selalu berada
Menjadi hidup dengan semua
Bukan ingin menarik simpati
Tapi dia adalah dia yang seperti itu
Bukan dia jika tidak seperti itu
Maka salah jika orang menilai dan memutuskan belas kasih melihatnya



Kuat

Orang yang kuat bagiku adalah orang yang tidak menunjukkan rasa lelah dan sedihnya kepada banyak orang. Dia sibuk menunjukkan rasa bahagianya dibalik susah, sedih, lelah, kecewa, bahkan ragunya. Keresahannya adalah jika kepura-puraannya terdeteksi. Dan kegagalannya adalah ketika dia tak sanggup mencari jawaban untuk menyangkal tuduhan orang yang benar. Kecerdasannya adalah mencari ide dan topik baru yang membengkokkan topik tentang dirinya. Momen riskannya saat dia menjadi topik dalam kelompoknya tentang kondisinya. Dan bahagianya saat tentangnya yang entah hanya sebagai bahan bercandaan atau makian dan juga tawaan membuat kelompoknya bahagia, tertawa, sampai menggeleng-geleng. Keberhasilannya saat kalimat yang bahkan dirasa menjatuhkannya dan merobek jati dirinya dan pengakuan yang sebenarnya menyakitkan membuat orang dikelompoknya tertawa. Dan semua itu bukan drama. Semua itu dirasakannya sebagai persembahan bagi orang yang berada disekelilingnya. Dan memang seperti itu dia belajar selama ini dari ke dua orang tuanya (orang tua yang terlihat tegar dan bahagia di depan anak-anaknya). Ia menjadi dirinya sendiri dan akan membuat dirinya sendiri tertawa meskipun dengan hal kecil yang dilihat orang sangat menyedihkan. Setiap momen menjadi kawan baiknya. Bahkan sebuah kata akan menjadi perbincangan asyik diotaknya. Sakit pun dirasa menjadi kawannya yg dekat dan sampai2 rasa rindu padanya sangat mendalam jika lama tak kunjung datang. Orang-orang di sekitarnya yang bisa membuatnya berubah adalah orang luar biasa. Orang-orang yang bisa membuat rasa sedihnya timbul. Orang-orang yang membuat rasa kecewanya menjelma sebagai sebuah curhatan, atau orang-orang yang membuat lelahnya terpancar hingga ia ingin orang-orang itu sekadar menemani atau bersenda gurau dengannya. Tapi kini tinggal balas yang ia dapat, saat ia menginginkan kelompoknya menjadi tempat kedua untuk pulang setelah pikirannya sendiri tapi kelompoknya seolah seperti rumah kosong. Ditiliknya satu per satu anggota dari kelompoknya, orang satu yang selalu terkesan dekat tapi tidak terlalu dekat, orang dua yang dekat dan tidak terlalu dekat pula, begitu pula dengan orang-orang selanjutnya sampai kira-kira ada 6 orang dalam ruangan itu. Eh salah mungkin saja ada 5, aku tak terlalu paham atau pikiranku yang tak mau mengingatnya jelas karena takut meninggalkan petunjuk bagi pembaca yang bersangkutan. Diantara orang-orang dikelompoknya sungguh kekecewaan yang ia dapat menambah kebingungan dan keresahan yang sulit untuk ditampakannya selama ini. Namun ada satu orang yang tak digadang2 mengambil peran meringankan dia dan keresahanya, bukan orang yang lain itu. Dan benar lagi hipotesisnya semakin terbukti saat hari menjelang malam dan saat kelompok itu berpisah kembali ke rutinitasnya masing-masing. Dia dan pikirannya kini sudah menyatu dengan keresahan dan akhirnya menutup lagi kemauan untuk menampakkan kepada orang-orang bahkan kelompok yang sudah dipercayainya itu. Malang dia, dan bodoh dia. Seharusnya dia menarik simpulan lagi hanya pada orang yang bernomor bukan pada semuanya. Dan benar jadinya karena orang yang merasa terbantu saat ia benar-benar menginginkan bantuan saat dia benar-benar membutuhkan dan itu saatnya. Dan lagi orang akan menghilang seperti embun hilang saat matahari datang. Embun begitu indah bagi orang dan begitu menyusahkan pula bagi orang yang lain yang sedang menikmati hangatnya tidur dan alam mimpi karena dia membawa hawa dingin yang menusuk. Dan lagi, segalanya terbuka saat dia membuka ruang diskusi dengan otak, hati dan juga kenangannya. Dia meneliti dengan teliti dan hikmat. Dan lagi-lagi dia menjadi pion yang menembak mati emosi dan membuat emosinya menyesali apa yg telah dia perbuat. Dia inginkan hidup yg nyaman dan maka dari itu diskusi ditutup dengan tegas oleh sang logika kepada semua yang bersangkutan agar menahan ambisi masing-masing. Sang emosi agar tidak terlalu membebani dengan emosinya yang menjadikan raga sang majikan menjadi korban apabila sedang memberontak, pikiran dirasa jangan terlalu banyak memunculkan dua pilihan jika ini dan jika itu. Dan lagi sang logika berkata bahwa sudah banyak hipotesis yang selama ini dibuat dan terbukti maka dari itu mari kita lanjutkan kerjasama kita seperti sebelumnya dengan meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Karena yang terbaik adalah saat kita memahami diri kita sendiri, dan orang yang paling sanggup untuk disandari adalah diri kita sendiri.
Lantas, dia terperanjak kaget sepulang dari diskusi yang sengit itu. Dalam dirinya seolah perdebatan menjadi sangat nyata dan tak terelakkan dengan saling serbu dan serang. Namun, dia bahagia.
Dia tak sabar bertemu dengan orang-orang dikelompoknya dan menyambut mereka dengan tawa. Meskipun terkadang cerita dan kesedihannya muncul bak titik dalam sebotol tinta atau apalah itu. Dan kemudian dia merasa ada satu yang bekhianat atas hasil diskusi yang baru saja dihadirinya. Kini ia sangat ingin mengumpat dan mengeluarkan kata kata pedas untuk orang itu. Dan dia menahannya sejadi-jadinya karena dia tidak mau menjadi korbannya lagi yang membuatnya menjadi sorotan dan pertanyaan yang selama ini membuatnya tak nyaman, yaitu "kenapa?" Dan "ada apa?"

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...