Jumat, 09 Juni 2017

Ruang di Kepala

Tahukah kalian hotel? Sebuah bangunan yang memiliki banyak ruangan yang disebut kamar.
Lalu, tahukah kalian sekolahan. Sebuah bangunan yang sama-sama memiliki banyak ruangan yang disebut ruang kelas.

Baru-baru ini aku menyadari ternyata semakin mendekati umur yang "banyak" semakin paham tentang hidup dengan segala macam rupa yang terjadi didalamnya. Semakin banyak tekanan yang dihadapi, semakin banyak kejadian yang dialami, pun semakin banyak orang dan segala hal yang ditemui membuatku (read: mewajibkanku) untuk mengikuti segalanya itu. Mulai dari sikap dan sifat, maksudnya bagaimana kita menyikapi semua itu dan pada akhirnya akan membentuk sifat kita.
Warna hidup ya memang seperti warna yang ada di kehidupan, namun dirasakannya dalam hal suka, senang, sedih, kecewa, marah, dsb.

Poin penting dari yang saya temui dalam perjalanan hidup kali ini adalah saya seperti menemukan berbagai ruangan dalam otak saya. Dimana berbagai ruang dengan segala keriuh redaman. Ruang yang ramai dan sepi yang tidak dapat diperkirakan.

Ada saat momen redamnya terasa, di saat kepala begitu pening karena hampir semua ruangan penuh dengan hal yang dipikirkan. Sampai begitu terasa sekalipun menjelang tidur, seperti ramainya tak mengijinkan tidur kita ditemani mimpi indah dengan segala ceritanya namun terselip beberapa pikiran dari beberapa ramainya ruangan dalan kepala.

Tidak mengeluh melainkan merasakan bahwa begitu indah hidup dengan segala hal yang ada. Segala hal yang tak terdeteksi panas dinginnya. Segala hal yang selalu memiliki jalan keluar sekalipun awalnya teramat berat. Segala hal yang terkadang membuat kita menghela nafas. Segala hal yang terkadang sampai tak dapat diucapkan dengan kata. Segala hal yang membuat kelu lidah. Segala hal yang membuat momen hanya bisa diam dan mengamati. Segala hal yang sangat membuat semangat dan berwarna. Dan banyak segala hal dengan ke-spesifik-an masing-masing.

Begitu yang aku rasakan. Ruang di kepalaku pernah mengalami berat dan bahagianya hidup. Aku rasa akan banyak hal yang akan aku lalui baik itu yang membuat bahagia, sedih, dan bekerja keras. Yang terjelas ruang di kepalaku sekalipun itu sangat penuh mereka memang bekerja dengan setepatnya.

Tambah Satu

Jika luka itu membawa bekas, saya setuju kali ini. Selain luka pada saat terluka maupun bekas yg ditinggalnya. Beberapa saat mungkin itu tidak masalah, namun jika dirasakan bekas tadi itu mengganggu bahkan membawa trauma. Benar sekali, trauma.
Bukan salah luka itu, namun salah dari diri kita sendiri mengapa harus terluka. Dan jika setiap hari berisiko membawa luka maka alangkah lebih baik jika untuk lebih berhati-hati.

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...