Sabtu, 04 Maret 2017

Dan malam ini, dia mengutuk dirinya sendiri di dalam ruangan yang hanya berisi dia sendiri sebagai makhluk yang bernyawa sedangkan yang lainnya benda mati alias tak bernyawa. Pikiran bolak balik memutar lurus menikung lalu terjerembab, tak menyerah usaha lagi berlari jalan merangkak jongkok berdiri dan akhirnya terguling, pun tak gentar masih berusaha mencari jalan lain diam lalu bergerak cepat kanan kiri depan belakang namun tetap alias stuck. Lalu tangan-tangannya yang berusaha kali ini lihai menari-nari di atas mesin tik seiring mata menemani dan mengoreksi kerjanya malam itu. Emosinya tak mau kalah, bahkan pada diri emosinga berkecamuk apa yang harus dilakukannya. Marah, senang, sedih, atau malah merengek kesepian kepada malam. Bodoh sekali nampaknya emosinya itu.
Malam sepi kali ini sangat dibenci olehnya, tak seperti hari-hari biasanya yang malah menjadi sahabat terbaiknya. Kali ini ia mengharapkan kedatangan temannya yaitu hujan tapi hujan bertandang di tempat lain yang entah dimana itu. Hanya dia dan ruangan dan amukan setiap-setiap yang ada dalam dirinya. Ngengat di luar bersenandung malah membuat si dia ini muntab -kata yang didapat dari novel yang baru-baru ini dibaca namun sesungguhnya sudah lama sekali ingin dibaca karena baru kali ini punya kesempatan membaca- karena merasa diolok-olok.
Padahal selama di jalan dia sibuk dengan pemikirannya, bahwa dia memiliki hipotesis yang menjadi bahan diskusinya esok. Bahwa malam begitu hangat karena ia merangkul dengan cahaya hitamnya. Mencegah cahaya-cahaya datang dan memantul pada dan kemudian nampak pada mata orang lain di sekitarnya (begitu pemahaman yang ia sangkutkan dengan teori yang didapat saat sekolah dulu yaitu bahwa mata kita bisa melihat karena pantulan dari cahaya pad benda sehingga benda tersebut terlihat oleh mata kita, begitu bangganya karena kali ini hipotesisnya memiliki dasar teori sains yang audah dikenal banyak orang).
Lantas ia merasa pelukan kegelapan itu mengisi ruang dan membuatnya penuh sesak sehingga dia tidak merasa sendiri, berbeda dengan saat siang saat cahaya memungkinkan dia menjadi lebih mudah terlihat oleh mata. Maka siang menjadi ajang dia menguatkab mentalnya.

Dia belum beranjak dari tempatnya, masih meringkuk setia menemani jari dan matanya membuat sesuatu. Bahkan saat panggilan alam mengajaknya berdiri ia tak bergeming sedikitpun walaupun itu tidak baik (alah, masih bisa kutahan ini adalah sang hati yang menyeruak dalam dirinya).
Kemudian kini saat otaknya ikut dalam perhelatan malam ini karena nampaknya dia mulai membuat pergerakan. Otaknya ingin membuat kesepakatan agar semua cepat berakhir, agar ada kesepakatan antara jari, mata, dan dia sebagai pelaku. Juga agar hati dan raganya mendapat keadilan dan tak ada yg terdeskrim.

Begitulah malam itu bagi dia. Dan semua selesai

Kepada malam dia bertanya
Kepada bulan dia sampaikan
Kepada angin dia berbicara
Kepada hujan dia berbisik
Kepada siang dia ocehkan
Kepada dirinya, kepada kasur
Kepada bantal, kepada air
Kepada dapur, dan kepada kata-kata
Kepada otak dan pikirannya
Kepada hati dan emosinya
Kepadanya dia dan hanya dia
Kepada dia, dia selalu berada
Menjadi hidup dengan semua
Bukan ingin menarik simpati
Tapi dia adalah dia yang seperti itu
Bukan dia jika tidak seperti itu
Maka salah jika orang menilai dan memutuskan belas kasih melihatnya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...