"Apakah kamu tidak takut ditinggal sendiri?"
'Bukankah sahabat selalu berganti jika sahabat yang lain pergi'
"Tidak, saya tidak takut karena saya berkawan dengan waktu"
Suatu hari aku melihat seseorang duduk termenung sendiri, rupanya dia sedang menghakimi dirinya sendiri. Seperti tergambar pada raut dan gaya tubuhnya jika sedang ada pengadilan yang berjalan sangat panas. Dia menikmati kesendirian dengan segala kesibukan pengadilan tersebut. Sesekali dia bergerak untuk menandakan bahwa dia dalam kondisi sadar bukan sedang melamun, maksudku lebih memberi kode kepada dunia sekitarnya jika dia sedang berfikir buka melamun (ah, entah apalah itu)
Sepertinya dia menghadapi sebuah realitas yang membuat dia terjerat dalam kebingungan tanpa kepastian apa yang dapat dia ambil sebagai keputusan atau menjadikan keputusan tersebut sebagai pilihan hidupnya.
Dia bukan tipe penyendiri akut, tapi bukan sosialis sanguinis. Dia tipe banyak bicara, tapi dia pun tak dapat lepas dari julukan pendiam. Dia seperti sedang resah. Tangannya memainkan hape, beberapa foto dia bolak-balikan dengan jari di layar sebuah hp. Dia tersenyum, namun dia tiba-tiba termangu.
Beberapa kali bunyi dikeluarkan oleh benda yg dipegannya tadi. Dia tertawa, tapi lagi-lagi dia termangu juga akhirnya.
Nampak di tempat lain terdapat benda canggih dengan layar yang lebih besar dan nampak seperti buka yang terbuka sembilan puluh derajat. Dilayarnya nampak beberapa tulisan yang sangat tak langka, itu skripsi. Rupanya dia mahasiswa tingkat akhir.
Sebuah pernyataan yang menamparnya dan membuatnya manggut-manggut berfikir.
"Apakah kamu tidak takut ditinggal sendiri?"
Dia tidak takut, tapi dia seperti depresi, trauma, bukan yang jelas dia sangat amat takut. Membacanya saja dia tak ingin, seolah ingin menghapus atau merobek-robeknya. Dia begitu takutnya sampai dia cukup rumit membuat sebuah pertahanan dengan berbagai kombinasi rumus dan strategi yang sulit ditebak, kombinasi yang kokoh dan sulit untuk dirobohkan, kombinasi yang tebal dan sulit untuk dipotong atau dihancurkan. Dia seperti takut tapi tidak takut, makanya pengadilan itu sangat panas jalannya. Takut maka dengan kata lain dia harus menikmati hidup dan menjalaninya sendiri sedang perkara mental mana ada yang bisa menjalaninya sendiri karena kita manusia butuh dukungan atau perhatian dengan orang lain. Berani maka dia akan m3njadi orang luntang-lantung haha hihi kesana kemari, jiwa dan raganya sangat tidak cocok dengannya. Maka terciptalah tadi, kombinasi untuk sebuah pertahanan yang maha-maha.
Dia nampak bahagia dengan hidupnya namun dia memiliki teman yang dapat dia ajak bercerita meski kadang ceritanya hanya setetes air dalam samudra.
'Bukankah sahabat selalu berganti jika sahabat yang lain pergi'
Dia sangat setuju dengan pernyataan ini. Maka dari itu, hal ini merupakan tindak lanjut yang dia gunakan setelah sebelumnya. Setelah kombinasi yang tak terpecahkan itu maka, dia dapat meredam rasa sedih, kecewa, marah, bahagia, atau terharu akibat perpisahan yang ada. Dan dia tetap bisa hidup dalam dunianya sendiri dan siap menerima siapa-iapa yang nantinya dapat bermain dengan kombinasinya.
"Tidak, saya tidak takut karena saya berkawan dengan waktu"
Karenanya, dia adalah sahabat waktu yang terkadang malah membuatnya seperti layang-layang putus tak tahu arahnya. Namun tetap saja layang-layang terbang bersama angin, terbuang oleh angin, terombang-ambing oleh angin. Seperti sama dengannya.
Dan itu yang terlihat dan nampak dari dia. Maka aku sekarang menjadi memikirkan pernyataan yang membuatnya seperti itu.
Apakah aku terlihat seperti dia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih