Kamis, 03 Agustus 2017

Hey Malam (Crazy_Time)



Kepada malam yang baru saja tiba. Kepada siang yang telah menghilang. Hmmmmmmm, bahkan aku tak dapat menyaksikan semburat senja di ufuk barat. Setidaknya menyapanya dengan sepercik senyum untuk menutup hari yang masih sama. Ku tarik nafasku dalam-dalam, ku pandangi langit yang menggelap. Ku telusur kata demi kata yang terngiang di dalam otakku. Sepertinya mereka merangkai sebuah kalimat dengan subuah pemahaman. Lantas aku melihat kembali sekelilingku. Banyak sekali makhluk hidup. Yah, sederhana dan sangat logika jika kita membicarakan tentang makhluk hidup. Menururtku, ada hal yang menarik dibanding mempelajari apa itu makhluk hidup dan segala urusan dan pengertian fisiknya. Aku sendiri terbelalak dengan segala yang terjadi dan apa yang ada pada diriku. Terlebih lagi dengan segala pemikiran dan pemahaman. Tentang pelajaran dan semua kenangan atas kejadian-kejadian yang terjadi. Bicaraku mulai ngelantur. Malam mulai mengajakku berbincang. Ia bertanya dan ingin mendengarkan cerita bagaimana hariku. Sayang malam begitu emosional dan sangat paham tentang hal ini. Sensitif dan sangat nyaman, namun tak berguna karena ia malah akan membuatku semakin masuk ke dalam bujukan keburaman. Aku layangkan senyum saja, tanda hormatku atas segala pengertiannya. Aku tetap menjalani hariku. Namun, aku berhenti. Aku tak bisa meneruskan langkahku. Duduk dan ku pandangi malam. Ku pandangi malam hingga lekuk per lekuknya. Sangat indah, dan begitu nyaman. Dan akhirnya aku tenggelam dengan segala keasyikan bercerita dengannya.
Maukah kalian bergabung dengan kita, J

Perbincangan dengan malam.
“Malam, apakah kau bahagia menjadi malam?”
“Apa hal yang sangat ingin kau lakukan namun tak dapat kau lakukan?”
“Apa hal yang sangat ingin kau lakukan karena kau sangat menyukai hal itu?”
“Apa hal paling membuatmu marah, bahagia, bahkan apa kau ingin sekali berteriak?”
“Setidaknya, memaki sesuatau yang sangat ingin kau maki?”
Kau benar, malam. Aku tidak sejujurnya bertanya seperti. Kau tepat, justru pertanyaan itu yang ingin aku dengar untukku.
Aku tertunduk. Hening dan diam. Mulai dingin, namun tak tegang. Aku menghela nafas lagi.
Malam paham bahwa aku mungkin lelah menajalani hari ini. Ia mendiamkanku dan menghiburku dengan tontonan yang menyejukkan. Tarian ribuan bintang. Berkelap-kelip. Aku tersadar saat angin menegurku, aku tersenyum melihat malam termenung menungguku.
Aku hanya merasa kosong. Penuh kekecewaan. Bahkan tak ada tujuan. Padahal otakku tak bodoh. Nyatanya IQ-ku berada di tingkat atas di sekolah menengah pertama. Ip-ku pun tak jelek-jelek amat. Tak perlu ku perjelas karena aku tak ingin sombong padamu (malam).
Ribuan bintang semakin menjadi-jadi kerlipannya. Aku anggap malam begitu tertarik dengan leluconku yang terakhir.
Aku ingin sekali marah, teriak, dan memaki. Aku ingin tertawa dan menangis dengan bebas. Bukan ide yang bagus untukku mengajakmu melakukan itu semua malam. Aku tidak gila, aku masih waras. Bahkan untuk saat ini aku mengajakmu ngobrol pun aku sudah merasa ada yang salah bagiku.
Haha, angin berhembus kencang dan aku sedikit kedinginan. Sepertinya ia merajuk dengan pernyataanku terakhir.
------------------------------------------------------------(the end)____________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...