Kepada malam yang baru saja tiba.
Kepada siang yang telah menghilang. Hmmmmmmm, bahkan aku tak dapat menyaksikan
semburat senja di ufuk barat. Setidaknya menyapanya dengan sepercik senyum
untuk menutup hari yang masih sama. Ku tarik nafasku dalam-dalam, ku pandangi
langit yang menggelap. Ku telusur kata demi kata yang terngiang di dalam
otakku. Sepertinya mereka merangkai sebuah kalimat dengan subuah pemahaman.
Lantas aku melihat kembali sekelilingku. Banyak sekali makhluk hidup. Yah,
sederhana dan sangat logika jika kita membicarakan tentang makhluk hidup.
Menururtku, ada hal yang menarik dibanding mempelajari apa itu makhluk hidup
dan segala urusan dan pengertian fisiknya. Aku sendiri terbelalak dengan segala
yang terjadi dan apa yang ada pada diriku. Terlebih lagi dengan segala
pemikiran dan pemahaman. Tentang pelajaran dan semua kenangan atas kejadian-kejadian
yang terjadi. Bicaraku mulai ngelantur. Malam mulai mengajakku berbincang. Ia
bertanya dan ingin mendengarkan cerita bagaimana hariku. Sayang malam begitu
emosional dan sangat paham tentang hal ini. Sensitif dan sangat nyaman, namun
tak berguna karena ia malah akan membuatku semakin masuk ke dalam bujukan
keburaman. Aku layangkan senyum saja, tanda hormatku atas segala pengertiannya.
Aku tetap menjalani hariku. Namun, aku berhenti. Aku tak bisa meneruskan
langkahku. Duduk dan ku pandangi malam. Ku pandangi malam hingga lekuk per
lekuknya. Sangat indah, dan begitu nyaman. Dan akhirnya aku tenggelam dengan
segala keasyikan bercerita dengannya.
Maukah kalian bergabung dengan
kita, J
Perbincangan dengan malam.
“Malam, apakah kau bahagia
menjadi malam?”
“Apa hal yang sangat ingin kau
lakukan namun tak dapat kau lakukan?”
“Apa hal yang sangat ingin kau
lakukan karena kau sangat menyukai hal itu?”
“Apa hal paling membuatmu marah,
bahagia, bahkan apa kau ingin sekali berteriak?”
“Setidaknya, memaki sesuatau yang
sangat ingin kau maki?”
Kau benar, malam. Aku tidak
sejujurnya bertanya seperti. Kau tepat, justru pertanyaan itu yang ingin aku
dengar untukku.
Aku tertunduk. Hening dan diam.
Mulai dingin, namun tak tegang. Aku menghela nafas lagi.
Malam paham bahwa aku mungkin
lelah menajalani hari ini. Ia mendiamkanku dan menghiburku dengan tontonan yang
menyejukkan. Tarian ribuan bintang. Berkelap-kelip. Aku tersadar saat angin
menegurku, aku tersenyum melihat malam termenung menungguku.
Aku hanya merasa kosong. Penuh
kekecewaan. Bahkan tak ada tujuan. Padahal otakku tak bodoh. Nyatanya IQ-ku
berada di tingkat atas di sekolah menengah pertama. Ip-ku pun tak jelek-jelek
amat. Tak perlu ku perjelas karena aku tak ingin sombong padamu (malam).
Ribuan bintang semakin
menjadi-jadi kerlipannya. Aku anggap malam begitu tertarik dengan leluconku
yang terakhir.
Aku ingin sekali marah, teriak,
dan memaki. Aku ingin tertawa dan menangis dengan bebas. Bukan ide yang bagus
untukku mengajakmu melakukan itu semua malam. Aku tidak gila, aku masih waras.
Bahkan untuk saat ini aku mengajakmu ngobrol pun aku sudah merasa ada yang
salah bagiku.
Haha, angin berhembus kencang dan
aku sedikit kedinginan. Sepertinya ia merajuk dengan pernyataanku terakhir.
------------------------------------------------------------(the
end)____________________________

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih