“Jika besar nanti aku ingin
kerja jauh, jauh banget pokoknya.”
”Aku kalau sudah punya uang
pengen tinggalnya di luar negeri sendirian.”
“Aku mau keluar Jawa aja,
gapapa jauh dari keluarga biar mandiri.”
“Aku liburan ini ga pengen
pulang. Ngapain pulang”
“Nikahnya nanti aja, kalau
udah punya uang banyak baru nikah.”
“Nikahnya sama orang yang
kaya, kan udah kaya juga.”
“Nikah sama Si B, soalnya udah
sayang banget sama dia. Suka dari lama ga ilang-ilang sukanya.”
“Nikah sama orang kesehatan
aja, ganteng, putih, bersih, ngerti kesehatan, dan pinter pula.”
Dan banyak lagi kata-kata yang
dikatakan, yang secara tidak sengaja membuat orang mendengarnya menilai dan
mengira bahkan mengingatnya jelas. Dan pada akhirnya ketika kata-kata itu
berubah dengan fakta yang berlaku baru sadar. Itu lah pentingnya menjaga kata. Tapi
tak salah karena hak seseorang untuk berkata, kebebasan seseorang untuk
mengutarakan apa yang diinginkan. Bisa saja aku kataka apa yang dikatakan yang
berbeda dengan realita adalah sebuah kegilaan. Kegilaan yang gila karena memang
tidak menggunakan 5W+1H saat mengutarakannya. Bukankah tidak selamanya manusia
mengutrakan hal-hal yang serius. Anggap saja saat anak kecil mengatakan jika ia
ingin menjadi dokter atau tentara. Bukan kegilaan memang, tapi untuk seorang
anak kecil yang belum mengetahui apa saja profesi yang ada dan terbatasnya
ilmunya dengan mudah mengatakan keinginannya itu. Lantas, mengapa aku
menyebutnya kegilaan. Karena disini kita diposisikan pada kondisi dimana kita
tak lagi menjadi anak kecil, kita tak lagi polos tanpa mengetahui dunia seperti
apa. Kita mengetahui kondisi, latar belakang, dan ilmu bahkan kehidupan kita
yang telah kita jalani, maka jika dengan kata-kata yang tadi bisalah dikatakan
kegilaan. Hampir sama dengan hal yang sulit dicapai atau mustahil tapi tetap
berbeda maknanya. Bingung? Bisa saja, karena memang membingungkan. Ayolah boy,
ini bukan tentang ilmiah yang harus menggunakan bukti atau sitasi. Ini adalah
tentang kelincahan otakku yang seiring berjalannya hidup seiring mencari arti
dan nilai hidup. Menerjemahkan setiap emosidan keadaan, bahkan saat angin dan
hujan membentuk cerita yang tak terlihat oleh manusia normal atau bahkan cerita
yang setiap orang menerjrmahkan dalam bahasanya sendiri.
Lantas saat realita berbeda
dengan kegilaan yang ada, dan saat kesadaran diri menyebut semua itu kegilaan
fasenya berubah dan meningkat menjadi sebuah kedewasaan. Saat dimana dapat
menilai hal menjadi lebih logis dan normal dan dapat diterima dengan nalar
setiap orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih