Lidah tidak bertulang, salah terlalu bersandar pada sebatang lidi
Istilah yang tepat mungkin untuk suatu kejadian lagi-lagi memberiku pelajaran. Pelajaran yang tidak patut diremehkan. Namun menambah kepastian yang tidak begitu baik. Hipotesis tetap hipotesis, namun bukti membuatnya teruji meskipun hanya dengan satu dua fakta.
Maka dari itu, jangan ada kata-kata kalau besok, sepertinya bakal seperti ini dan itu, kayaknya kita bakal seperti ini sampai lama deh kalau tidak ada kesadaran untuk memegangnya. Menggunakan manusia lumrah berkata lantas melupakan itu tidak lebih lebih rendah dari sesamanya. Karena tahu maka dari itu mestinya sadar bahwa kekuatan kata dari lidah begitu penting, so hati-hati laah. Dan juga sadar akan sifatnya sendiri tak dapat diragukan agar lebih menghargai sosialita di sekeliling. Bukan memikirkan emosi sendiri yang tenggelam karena egoisme diri.
Kombinasi keduanya, dari menjaga lidah dan sadar diri akan sangat menyenangkan menjadi seseorang. Tidak memiliki keduanya adalah buruk untuk sebuah komunikasi jangka lama. Ketidakberadaan salah satu akan membuat sedikit goncang tapi normal-normalnya manusia.
Menerima bukan hal yang mudah, seperti juga dalam hal memberi. Bukan terlalu baik, namun bagaimana mengontrol agar selalu konstan. Jika memang internal membuat dunia begitu membosankan dan juga hal yang ada di sekitar maka biarkan saja yang ada di sekitar jangan sampai mereka masuk dalam pusaran internal tadi. Alih-alih itu jika sanggup maka sapalah salah satu yang melintas atau diam membisu bukan malah menebar garam atau lem yang menjebak.
Sadar memang internal adalah masalah tak terpelikkan, namun bukan hak meraka mendapatkan apa yg tidak mereka ketahui. Dan jika emosi karena ego tadi masuk ke dalam internal dan membaur sehingga menyeret sebuah permasalahan, bukan salah siapa-siapa jika murka yang terseret. Jika ego ada dipihaknya maka ego pun ada di pihak manapun.
Sepertinya yang dirasakan oleh terseret ini adalah serius, karena memang sulit untuk menerima bahwa kenyataan yang dirasa digenggamnya selama ini pasir dan hanya sebanyak 1 atau 2 butir lagi. Pasir yang selama ini diperjuangkan untum dilepaa dari awal atau dijaga. Nampaknya usaha untuk dijaga selama ini sia-sia karena pasir tetap pasir yang banyak dan lepas dengan mudah.
Dunianya dan dunianya, bak matahari dan pluto. Bukan, namun tepatnya tata surya dan pluto. Taukah apa artinya? Benar sekali, tepat. Saat kita pelajari pluto masuk ke dalam jajaran planet yang memutari matahari. Berjalan beriringan. Kecil dan jauh namun satu ikatan. Matahari, yang memberi lebih dari siapa saja dalam tatasurya tadi. Yang menyala tanpa pernah berhenti, sedang pluto sama dengan planet lain yang menerima pantulan sinar matahari untuk muncul dan terlihat satu sama lain. Dan semua beriringan dengan sinkronnya. Namun apa yang terjadi, pluto menghilang tak lagi dalam jajaran sebelumnya. Keberadaannya tak menentu, digadang-gadang masih tetap mengitari matahari namun hanya keluar dari lintasannya dan juga terkadang terlihat terkadang tidak.
Lucu memang, karena sering nyaris sama dan bisa saja dibuat cerita.
Bersatu teguh, bercerai runtuh. Iya sebuah peribahasa yang terkenal dari kecil. Memang tangguh sapu, dan berguna. Namun satuan darinya adalah lidi. Lantas apa? Iyaps, runtuh. Runtuh lidi yang hanya satuan lalu disandari.
Salah si penyandar, bersandar pada sebatang lidi. Sudah tahu lidi tak sekuat sapu. Tapi apa daya, lidi yang dipercaya kuatnya melebihi sapu namun ternyata kepercayaannya salah. Lucu memang,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih