Kamis, 21 September 2017

Inisial yang tak terucapkan

Hey
Aku kuberitahu sedikit, tentang aku.
Aku rasa aku memiliki sesuatu yang unik. Aku menyukai seseorang dengan cara yang menurutku unik. Meskipun jika kalian tahu, kalian sama sekali menyangkal keunikan itu melainkan menyebutnya sebagai pengecut.

Biar kucerikatan dari awal. Awal mula aku mendapatkan perasaan ini. Setelah sekian lama mengenalnya, merasa penasaran, dan pada akhirnya aku mengatakan "ya, aku menyukainya". Bukan waktu yang sebentar untukku mengakuinya. Bisa jadi sejak pertama kali aku mengenalnya terhitung 6 tahun dan pada akhirnya pada tahun ke tujuh aku akhirnya merasakan dan mengatakan bahwa aku menyukainya.

Menyukainya bukan tanpa alasan, tapi tidak terus aku memiliki paragraf yang bisa kutulis untuk menjelaskannya. Hanya saja aku pada akhirnya mengatakan menyukainya. Setelah sekian lama mengenalnya dan pada akhirnya aku bisa berkomunikasi dengannya cukup intens dan merayakan pergantian tahun beramai-ramai dengannya dan teman-temannya, disitulah rasa nyaman hadir. Dan pada akhirnya ada momen yang membuatku takluk dengan sifat dan sikapnya.

Dan entah apa yang terjadi, setelah hubungan kita begitu dekat setidaknya kita pernah menghabiskan berjam-jam mengobrol tanpa arah ditelefon sampai pesan yang saling menyemangati saat ujian atau yang lainnya sampai pada akhirnya momen itu hilang tanpa jejak. Sama sekali tak ku dengar kabar darimu bahkan ku dapat pesan darimu. Entah aku yang menarik diri atau kau yang menjauhiku. Entah apa yang salah yang ku katakan atau engkau yang menyadari kesalahanmu selama ini yaitu membiarkan aku masuk dalam hidupmu.

Dan dari situ aku menyadari bahwa kehadiranmu adalah sesuatu bagiku. Dan saat itulah aku akhirnya mengakuinya di depan teman asramaku bahwa aku menyukaimu. Hal ini mempermalukan aku yabg selama ini menyangkalnya, tapi aku tak peduli.

Menghilang dan menghilang, hari demi hari sampai pada bulan berganti tahun. Tak ada lagi sms an seperti dulu, bahkan itu sama sekali tak ada kabar dan berbagi kabar. Bahkan, untuk menghadiri reuni tiap tahun pun aku begitu takut. Takut bertemu denganmu. Takut melihatmu baik-baik saja sedangkan aku tidak. Takut mengakui bahwa semua ini hanya sepihak. Takut jika aku mendengar kedekatanmu dengan orang lain, yang memang saat ini sepertinya sedang terjadi.

Satu tahun, ku kira jika tak lagi behubungan denganmu aku bisa lupa dan bisa melanjutkan hidupku maksudku masa remaja atau masa kampusku. Tapi salah, hari demi hari justru aku merasakan bahwa rasa sukaku kepadamu tidak menghilang begitu saja. Justru semakin aku mendiamkannya justru semakin kekal dia. Lalu, memendamnya bukan hal mudah karena aku selalu melawan hatiku setiap kali aku mengingatmu. Semakin aku coba menghilangkanmu semakin aku mengingatmu lagi dan aku melawan baik pikiranku dan juga hatiku.

Setelah sekian lama, aku ingin mencoba menghubungimu. Sekalipun aku sudah menghapuskan nomermu, tetap saja. Dan lagi, aku tak sanggup mengalahkan diriku sendiri. Ku kirim pesan padamu setelah sekian lama. Sekalipun bumi membenci matahari pada musim kemarau karena panasnya membuat bumi semakin panas tapi bumi dan matahari adalah pasangan yang memang sudah dipasangkan. Bisa jadi seperti itu yang terjadi padaku. Jawabanmu atas pesanku seperti teriknya matahari, sakit karena balasanmu begitu singkat seolah tidak ada yg terjadi antara kita. Dan seperti itu ketikau benar-benar sudah kalah melawan diriku dan akhirnya menghubungimu.

Begitu terus sekalipun aku selalu merasa sakit setiap akhirnya. Anehnya sama sekali perasaanku tak berubah.
Sekalipun aku sudah meyakinkan bahwa yang ku rasakan dulu hanyalah sepihak dan kebaperanku. Lagi-lagi aku melawan diriku akan kenyataan itu.

Tahun pertama berjalan, sampai saat ini tahun pertama pula aku menyandang status baru yang bukan mahasiswa lagi. Bayanganmu semakin nyata dan kuat, sekalipun kesadaranku semakin kuat bahwa ada batas yang besar yang tidak sanggup aku lewati untuk sekedar terlihat olehmu. Anehnya perasaanku tidak sama sekali berubah.
Sekali aku mencoba menyukai seseorang yang memang sesuai tipeku, nyatanya aku menjadikannya sebagai pelipur dan penghibur teman-temanku. Aku bilang aku mengaguminya dan aku bisa tertawa seperti jatuh cinta padanya, tapi apa jauh di dalam hatiku sama sekali namanya pun bayangannya tak menggetarkan hatiku. Jauh berbeda saat aku memikirkanmu, bahkan aku ingin menangis setiap kali mengingatmu. Hanya keputus asaan yang ada saat ingatmu.

Beberapa masukan dari teman-temanku yang mengetahui ceritaku, mereka menyarankan agar aku menghubungimu dan mengatakan semuanya, menyatakan setidaknya agar kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini. Tapi lagi-lagi aku menampik solusi itu.

Di dalam pikiranku mengatakan, lebih baik aku menahannya sekalipun berat tapi aku bisa menjaga hubungan baik denganmu sekalipun sekedar berbincang saat reuni dan aku tidak perlu sungkan untuk datang reuni. Berbeda jika aku menyatakan seperti saran teman-temanku, bisa jadi aku selamanya tidak bisa memunculkan hidungku didepanmu karena begitu malu pun ketidaksiapanku jika kamu akan semakin menjauh dan menarik diri dariku. Sudah cukup kau menarik diriku sampai pasa titik sekarang.

Dan aku manyatakan lagi, bahwa sampai sekarang tidak ada yang berubah. Entah sampai kapan. Aku juga tak sabar menunggu saat itu. Saat aku bisa merasakan bahagia menyukai orang yang menyukaiku. Tapi di sisi lain aku mengkhawatirkan diriku jika aku tetap seperti ini dan hatiku semakin beku.
Ingin rasanya aku bertemu denganmu, aku ingin menceritakan sesuatu. Aku ingin berkeluh denganmu meskipun itu sangat tidak masuk akal. Tapi itu yang sangat aku ingin. Aku jarang sekali ingin berkeluh jika kau tahu. Berkeluh hal-hal yang selama ini hanya bisa ku simpan sendiri.

Aku ingin mengatakan banyak hal, saking banyaknya aku bingung bagaimana aku harus menyampaikan satu per satu disini.

Oya, aku sama sekali membenci jika bayangan ini muncul. Bayangan bahwa aku menyadari hidupmu yang selalh berputar dan terus berjalan setiap satuan waktu. Aku membenci jika aku membayangkan pada akhirnya kau menemukan seseorang yang kau sukai, orang yang bisa membuatmu nyaman dan pada akhirnya kau memutuskan untuk bersamanya. Aku merasa sangat sesak jika bayangan itu muncul, namun aku juga meraaa lega pun bahagia. Lega pada akhirnya aku tahu apa yg membuatmu bahagia, aku tahu bagaimana dia yang bisa menaklukanmu sehingga aku bisa menilai kurangnya dan tidak pantasnya aku untukmu, bahagia karena pada akhirnya aku merasa tidak menjadi hal buruk dalam hidupmu jika kemungkinan kau memilihku. Aku memang bukan hal yang baik seperti hal yang selama ini kau lakukan dan jalankan.

Merasa sedih jika aku melihat betapa positif dan hidupnya hidupmu sampai saat ini dibandingkan denganku. Sedih karena memang begitu banyak perbedaan antara kita, bisa jadi karena aku yang terjebak terlalu dalam atau aku yang hanya diam tanpa berusaha menyelamatkan diri atau malah kau yang begitu gesit dan hebat menjalani semua ini.

Pernah aku waktu itu berada dalam kereta menuju jakarta, tiba-tiba pikiranku kalut dalam diskusi di alam bawah sadarku. Memikirkan hal-hal tentangku dan tantangmu. Memang banyak perbedaan, sehingga aku mengatakan terlalu jahat jika aku menarikmu dalam kerumitan hidupku. Hidup yang berat, berliku, dan tidak pasti. Hidupku sudah sangat baik sampai saat ini, dan kau yang sangat jauh berbeda dalam menjalani hidup dariku. Di saat itu aku merasakan aku begitu lega akhirnya kita berakhir seperti ini: tidak dekat lagi. Aku merasa begitu ikhlas jika kau bahagia dengan orang yang setidaknya aama seperti dirimu, karena pasti akan sangat membahagiakan hidup bersama dengan orang yg seperti itu. Memikirkannya membuatku tersenyum, dan tanpa ku sadari air mataku menetes. Jika orang melihatku pasti mereka berpikir aku frustasi.

Benar yang pernah aku baca, akan bahagia jika melihat orang yang kita sayang bahagia. Itu yang aku rasakan. Dan sampai saat ini kalimat itu yang selalu aku gunakan jika aku sedang mengingatmu dan rasa sukaku muncul. Aku tidak begitu baik untuk bisa membuatmu bahagia.

Geli rasanya, tak tahu diri rasanya. Berani sekali aku mengatakannya. Padahal aku siapa. Membayangkan apakah kau mengingat kedekatan kita malah membuatku semakin tak punya harga diri. Semakin aku menyukaimu semakin aku melukai harga diriku sendiri. Tapi anehnya, aku tak peduli itu. Alih2 kau mengingat kedekatan kita dulu, mengingatku saja aku pikir sama sekali tidak pernah terjadi.

__
Itulah unik yang aku maksud. Jika penilaian kalian berbeda aku raaa kalian benar. Bukan unik yg seharusnya melainkan bodoh.
Jika ada hamster yg suka berlari di roda putarnya, itu aku. Sudah berlari sekian lama tapi masih saja di titik yang sama. Hanya berputar di roda putar saja. Hanya sesekali berhenti untuk beristirahat sejenak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih

 apa yang dibanggakan dari orang pesakitan yg selalu mengemis kebahagiaan dari orang lain yang selalu mengkambinghitamkan orang lain atas ke...