Yang aku tahu tentang sebuah penantian adalah ia tak pernah salah dan dipersalahkan.
Penantian itu rasanya sebuah perjuangan yang jika ditilik kembali itu rasanya manis, sedih, dan penuh kenangan.
Perjuangan itu memang butuh tenaga, tak luput pula emosi. Iya, emosi.
Matahari bersinar terang, hangatnya sangat nyaman menembus kain menusuk kulit, Menyadarkanku untuk segera meneduh dari apa yang terjadi karena takkan mungkin diteruskan.
Karena teriknya mengundang keringat yang tak nyaman, pun mengundang emosi yang lebih.
Benar memang sebuah kenangan tak perlu waktu panjang, sama seperti saat apa yang dirasakan dua insan.
Kuberi tahu sebuah cerita, tapi ini rahasia antara kita. Iya, antara aku dan kau saja. Siap kah kau?
Cerita dimulai saat dua manusia yang bertemu, berkenalan, dan akhirnya bersenda gurau bersama. Yang satu karena ia sedang merasa berat hidup dengan keputusan besar yang sudah ia tetapkan sendiri. Sedangkan yang satunya adalah orang yang sedang mencari cerita hidup dari sebuah jeda pikuknya hidup.
Sebenarnya ada beberapa yang lain, tapi rasanya ia tak seperti-seperti ingin dimunculkan (bukan karena aku tak mau). Dia, rekan dari keduanya yang cukup diketahui dengan dia. Itu saja.
Bersama melukis sebuah titik-titik warna di langit dan berharap pelangi tercipta. Perlahan namun tak pasti, entah titik-titik apa yang mereka torehkan yang jelas akhirnya adalah sebuah warna kelabu yang mirip dengan mendung dan sepertinya hampir disertai petir dan badai.
Satu dari mereka terus menyulut api sehingga kelabu itu semakin pekat, bahkan petir sudah terlihat muncul sesekali. Yang satunya mencoba untuk memadamkan api dan berbisik-bisik seperti sedang mencoba mengusir kelabu langit. Sedang satunya tetap diam tanpa mengetahui apa yang terjadi.
Hari berlanjut, satu dari mereka atau si penyulut api ini akhirnya pergi dan kelabu pun semakin hari semakin hilang. Satunya pun kebingungan karena terik matahari kini telah muncul dan ia mulai terganggu dengan panasnya, dan sedikit rindu dengan dingin mendung atau gelegar petir, atau pun derasnya badai angin yang menerjang.
Lagi-lagi satunya lagi tetap diam tanpa tahu bahwa matahari kini sudah bersinar terang.
"Matahari bersinar terang, hangatnya sangat nyaman menembus kain menusuk kulit, Menyadarkanku untuk segera meneduh dari apa yang terjadi karena takkan mungkin diteruskan."
Cerita singkat menyambut September, penutup Bulan Agustus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih