Kalau menunggumu adalah seperti aku menunggu hujan di gurun pasir, kenapa tidak untukku. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Lalu kenapa perandaianku seperti itu? Kau tau sendiri, itu menyatakan peluang yang sangat minimal. Tapi, apa peduliku. Sekecil apapun itu tetaplah peluang, dan ada kesempatan terjadi.
Jika bersamamu seperti menulis di atas air, maka biarkan saja aku menunggu air itu mengering dahulu atau biarkan aku lelah untuk menunggu dan memutuskan untuk pergi menjauh.
Lalu kenapa perandaianku seperti itu? Kau tau sendiri, itu menyatakan peluang yang sangat minimal. Tapi, apa peduliku. Sekecil apapun itu tetaplah peluang, dan ada kesempatan terjadi.
Jika saja, menjalani semua ini adalah perjuangan maka aku sudah babak belur berlumuran darah berjuang sendiri namun aku masih tersenyum baik-baik saja.
Faktanya, kemunculanmu sesekali jika diibaratkan seperti obat penawar dari lelahnya perjuangan. Seperti pelapur rindu yang tak kunjung reda.
Dan perandaianku seperti itu, maka bukanlah sangat sederhana perasaan ini? Hanya hati yang merasa, hanya rindu yang terjaga, hanya waktu yang tersisa, hanya kenangan yang terus menyapa. Bukan tidak ada akhir, karena aku sudah mencoba menutupnya tapi justru terbuka semakin lebar. Maka apa kehendakku, maka kubiarkan saja.
Jadi, jika hari esok ada waktu untuk ku bertemu maka aku hanya akan melihatmu dengan sebelah mataku karena itu sudah sangat cukup dan membebaniku.
Maka biarkan aku hidup seperti pecundang,
Jika pula aku harus melihatmu dengan orang lain, maka biarkan aku tersenyum menyampaikan selamat sekalipun aku hancur. Karena itu lebih baik daripada kau masih sendiri,
Dan jika pula aku harus melepasmu. Biarkan semua risiko yang harus aku alami menjadi tanggung jawabku sendiri, karena ini adalah inginku sendiri.
Dan aku tak tau bagaimana akhir dari semua ini,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih